KOTA BATU – Kabar mengenai doktrin kiamat yang menyebabkan warga Ponorogo berbondong-bondong pindah ke Malang ditanggapi cepat pihak kepolisian. Dari pertemuan yang melibatkan tokoh-tokoh agama mulai Muspika Kasembon, MUI, KUA, MWC NU Kasembon, bahkan pimpinan pondok pesantren Miftahul Falahi Mubtadin’ (MFM) dinyatakan jika isu tersebut adalah Hoax (tidak benar).

“Dari isu yang beredar di kalangan masyarakat mengenai ajaran di pondok pesantren tersebut kita mengklarifikasi, dengan menepis isu – isu tersebut,” ujar Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto saat menggelar konferensi pers di Polres Batu, petang ini (Rabu, 13/3).

Dari isu yang beredar dikatakan, jika ponpes MFM telah mengajarkan beberapa hal yang dianggap melenceng dadi ajaran Alquran dan hadits. Mulai dari isu kiamat sudah dekat, soal perang hingga kemarau panjang, jemaah yang diminta menjual semua aset dan menyetor ke pondok, adanya senjata tajam berupa golok yang dijual seharga Rp 1 juta untuk kepentingan perang, hingga anak-anak yang diharuskan memotong tangan adiknya untuk menjadi santapan makanan.

Pihaknya menilai, informasi-informasi yang telah beredar tersebut sangat meresahkan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat umum bahkan di lingkungan ponpes lainnya.

“Yang paling mengerikan adalah anak-anak kelas 5 SD , di saat musim paceklim dia akan memotong tangan adiknya untuk dijadikan santapan makanan. Ini kan sesuatu informasi yang sangat menimbulkan ketakutan di masyarakat,” imbuhnya.

Di balik hoax tersebut, pihak kepolisian tetap melakukan proses penyelidikan terkait penyebar informasi yang menyebabkan kerancuan di masyarakat.

“Proses penyelidikan akan dilakukan secara internal dari jajaran kepolisian. Kita akan melihat dari sisi siapa yang menyebar informasi ini sehingga bisa rancu di masyarakat. Dan ini juga merugikan ponpes sendiri. Yang jelas kita informasikan klarifikasi di awal ini agar isu yang beredar tidak semakin melebar,” pungkasnya.

Pewarta: Arifina
Foto: Arifina
Penyunting : Fia