MALANG – Sekitar 49 orang terbunuh dan 48 lainnya terluka dalam insiden penembakan masal di Masjid bernama Al Noor di Linewood, Christchurch, daerah New Zealand atau Selandia Baru, Jumat, (15/3) siang tadi.

Peristiwa ini merupakan salah satu teror paling mencekam yang pernah terekam di Selandia Baru. Yang lebih mengerikan lagi, pelaku merekam sendiri dan menyiarkan lewat salah satu platform sosial media tragedi penembakan berdarah saat umat muslim hendak menjalankan ibadah Salat Jumat, siang tadi.

Psikolog menyebut secara khusus video yang coba disiarkan pelaku adalah terkait simbol identitas tertentu tentu untuk memancing emosi.

“Khususnya target pelaku adalah bagi mereka yang memiliki kelekatan emosi atau fanatisme ke identitas tersebut, misal kekerasan terhadap klub Arema akan memicu kemarahan pendukungnya, Aremania,” sebut pakar Psikolog sekaligus Dekan Fakultas Pskologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Salis Yuniardi, PhD.

Begitu pula kasus ini bagi umat Islam secara umum. “Terlebih bagi yg memiliki kelekatan emosi atau fanatisme,” tambah Salis. Sederhananya, pelaku terorisme ataupun kekerasan atas nama Sara, dari manapun asal negara ataupun agamanya, dilakukan oleh orang-orang yang punya pemahaman sempit atas keyakinannya, Salis menyebut.

“Iya, pengalaman hidup di Eropa, orang-orang yang islamophobia ataupun rasis atas nama apapun, pelakunya ada 2 kemungkinan, yang pertama kurang wawasan, dan kedua punya masalah emosional,” kata Salis lagi.

Masalah emosional dalam dirinya itu yang kemudian biasanya dialihkan (displacement) ke dalam objek lain dalam bentuk rasisme.

“Yang keduanya kadang kemudian bertemu dengan para oportunis yang menunggangi untuk kepentingan pribadi,” tutupnya.

Ia memberi contoh kasus EDL di Inggris dimana anggotanya kebanyakan masyarakat bawah (low educated) yang rebutan pekerjaan dengan para imigran, yang lucunya kebanyakan anggotanya juga bukan asli Inggris tapi datang dari Eropa Timur.

Pewarta: Elfran Vido
Penyunting :Kholid Amrullah