JawaPos.com – Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menyebut, dua mucikari yang terlibat dalam kasus prostitusi artis dan model memegang teguh privasi pelanggannya. Mayoritas pelanggan adalah kalangan pengusaha.

Bahkan, para pelanggan itu kadang meminta Endang dan Tantri menyediakan jasanya di luar negeri. Berbagai tempat pernah menjadi jujukan mereka, misalnya Singapura dan Hongkong.

Dari penangkapan Endang dan Tantri di Surabaya, berbagai barang bukti telah disita polisi. Meliputi handphone milik para korban dan tersangka. Selain itu, ada seprai putih, kotak alat kontrasepsi, kacamata, dan celana dalam berwarna ungu.

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi menambahkan, dari transaksi Rp 80 juta, Vanessa tidak menikmati seluruh uang tersebut. Dia hanya dijanjikan Rp 35 juta. Sisanya masuk ke kantong Endang yang bertindak sebagai perantara. Uang Rp 45 juta dibagi dengan Tantri dan biaya hotel serta lainnya. “Ketika kami tangkap, pihak pembeli jasa ini kan baru transfer 30 persen, jadi belum dibayar semua. Uang itu kini juga kami sita,” jelasnya.

Harissandi juga memberikan penjelasan tentang pria hidung belang yang memesan jasa dari Endang dan Tantri. Dia merupakan seorang pria berumur 45 tahun bernama Rian, keturunan Tionghoa, dan berdomisili di Jakarta. Rian atau menurut nama di KTP bernama Rudi Hastanto merupakan seorang pengusaha. “Salah satu usahanya berada di Lumajang,” ucapnya.

Sementara itu, di kalangan pengusaha tambang pasir Lumajang, nama Rian sering terlibat dalam bisnis tambang ilegal. Sumber Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, bila bepergian ke Lumajang, Rian sering mengendarai Mitsubishi Pajero putih. Dia singgah dulu ke salah satu rumahnya di kawasan Sidoarjo setiap kali menuju Lumajang. Sumber tersebut mengaku pernah mendatangi rumah Rian di Sidoarjo. “Tapi, kalau urusan stockpile, dia pemain top. Stockpile ada di Lempeni, Tempeh. Sampai sekarang stockpile-nya masih aktif,” katanya.

Pemain tambang pasir yang juga aktivis Nanang Hanafi mengungkapkan bahwa Rian bukan penambang pasir yang terdaftar izin tambangnya di Pemkab Lumajang. Dia berani menyebut Rian sebagai penambang ilegal. Rian acap kali mengatasnamakan jenderal dan petinggi kepolisian. “Itu sering dilakukan untuk menakut-nakuti aparat,” katanya.

Nanang menguraikan, Rian pernah menambang di Tumpeng pada 2018 tanpa mengantongi izin. Dia sempat ketahuan warga, lalu diprotes karena tidak berizin menambang. Habis itu berpindah ke kawasan Sampit, Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh. Area tambang ilegalnya di kawasan Kalipancing.

Sementara itu, Bupati Lumajang Thoriqul Haq meragukan Rian adalah pengusaha tambang pasir di kabupaten yang dipimpinnya. “Nanti saya cek ke daftar izin tambang,” ucapnya. “Tapi, kiro-kiro lek (kira-kira kalau) Rp 80 juta sampek pirang rit yo rek (sampai berapa rit ya)?” candanya. Setelah dicek beberapa jam kemudian, bupati yang akrab disapa Cak Thoriq itu menegaskan bahwa tidak ada nama Rian.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengatakan, kasus Vanessa telah menjadi perhatian jajarannya. Dia menilai kasus tersebut tidak hanya dipandang sebagai prostitusi, tapi juga mengandung unsur eksploitasi terhadap perempuan.

Yohana menyatakan, salah satu hal yang akan menjadi fokusnya adalah bagaimana ke depan objek pidana tidak hanya menyasar perempuan ataupun mucikarinya. Tapi juga bisa ikut menjerat laki-laki hidung belang yang bertindak sebagai penyewa. “Pelakunya harus dikenai hukuman dong. Tidak boleh ada diskriminasi, eksploitasi terhadap perempuan,” ujarnya kemarin.

Menurut Yohana, menjadi tidak adil jika pria hidung belang sebagai pelaku eksploitasi tidak mendapatkan konsekuensi hukum yang sama. Terkait payung hukumnya, Yohana menilai ketentuan tersebut bisa masuk melalui Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Manajemen Hotel TS Suites membantah hotel tersebut menjadi lokasi penangkapan Vanessa. PR Executive and Secretary TS Suites Surabaya Christine Melati Puteri Patty menegaskan sudah mengecek daftar nama tamu yang masuk buku catatan. “Tidak ada nama mereka, termasuk adanya proses penangkapan.” 

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : (bin/fid/far/nor/c9/agm)