MALANG KOTA – Kebakaran akibat panel listrik di belakang paviliun over heating (terlalu panas) mengakibatkan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang black out kemarin (27/2). Jika bed (tempat tidur) terisi semua, diperkirakan ada ribuan pasien yang tidak mendapatkan pelayanan maksimal. Air mampet dan lampu penerangan juga mati.

”Lampu mati, AC mati, dan air mampet,” keluh Aulia Luqman Aziz, salah satu keluarga pasien, ketika di ruang paviliun sekitar enam jam setelah kebakaran itu terjadi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, kebakaran terjadi kemarin sekitar pukul 13.00. Ratusan pasien yang terbaring di instalasi gawat darurat (IGD) panik saat melihat kepulan asap memenuhi ruangan. Keluarga penunggu pasien juga sempat berhamburan karena takut. Apalagi, fasilitas yang menggunakan listrik seperti lift ikut terhenti.

Beberapa petugas medis lantas mengevakuasi ratusan pasien ke halaman luar IGD. Sebagian dibawa ke lobi utama RSSA. Sementara sebagian lainnya diungsikan ke instalasi rawat inap (IRNA) III.

Beberapa menit kemudian, enam unit mobil pemadam kebakaran (damkar) dari Kota Malang datang untuk melakukan pemadaman. Petugas membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk memadamkan kobaran si jago merah. ”Warga sempat teriak-teriak ada kebakaran,” ujar Agus, salah satu warga yang ditemui di lokasi, kemarin.

Informasi yang dihimpun wartawan koran ini, diduga panel listrik over heating (terlalu panas) sehingga mengakibatkan kebakaran. Posisi panel berada di belakang paviliun yang berjarak beberapa meter saja dari IGD.

Hingga berita ini ditulis sekitar pukul 18.00, pelayanan di RSSA belum normal. Pasien terpaksa gelap-gelapan karena lampu penerangan tidak menyala. Demikian juga dengan fasilitas seperti air dan AC ruangan.

Lantas, bagaimana pasien yang menggantungkan kerja peralatan medis? Direktur RSSA Malang Restu Kurnia Tjahjani menyatakan, pihaknya menyediakan baterai. Namun, baterai itu hanya diperuntukkan bagi peralatan vital. ”Seperti ventilator, monitor, dan alat cuci darah,” terangnya ketika dikonfirmasi.

Tapi, penggunaan baterai sepertinya tidak akan maksimal. ”(Baterai) dapat difungsikan sekitar 4–5 jam,” papar Restu.

Sementara untuk memfungsikan listrik secara keseluruhan di area gedung yang mati, pihaknya menyewa genset. ”Sembari menunggu penanganan panel dari PLN yang mungkin memakan waktu sampai 2 hari,” tandasnya.

Terkait kebakaran, Restu menegaskan, sudah mengevakuasi pasien. Ada sekitar 100 pasien yang dievakuasi. 

Pewarta               : Imron Haqiqi
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Mahmudan
Fotografer          : Rubianto