MALANG KOTA – Kasus dugaan asusila yang melibatkan IS, oknum guru SDN Kauman 3, segera masuk tahap penyidikan. Ini karena proses pemeriksaan saksi-saksi, yakni para korban hampir tuntas. Polisi juga berjanji dalam pekan ini proses penyelidikan tuntas. Sehingga segera akan ada penyidikan terhadap terlapor.

Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi Arya Wiguna menyatakan, hasil visum korban sudah dikeluarkan RSSA Kota Malang, Selasa (19/2). Namun polisi tidak bisa menyampaikan hasilnya ke publik. Tentu menurut dia, karena pertimbangan etika. ”Kami tidak bisa sampaikan karena korban di bawah umur,” ucapnya kemarin.

Meski begitu, ada petunjuk lain, dia mengimbuhkan, yang bisa membantu penyelidikan kasus ini. Yaitu keterangan korban, saksi maupun terlapor. Saat ini sudah ada 15 saksi yang diperiksa, termasuk korban atau pelapor. ”Intinya, proses penyelidikan saya selesaikan pekan ini. Termasuk memeriksa terlapor,” kata perwira dengan tiga setrip itu.

Sebelumnya, 9 siswa SDN Kauman 3 dilakukan pemeriksaan di Polres Malang Kota Sabtu (16/2). Hanya saja, dari rangkaian pemeriksaan saksi-saksi, polisi masih minim petunjuk. ”Kami tidak mau berspekulasi kasus ini benar terjadi atau tidak. Untuk saat ini memang belum ada keterangan yang mengarah pada peristiwa. Kami akan simpulkan hasilnya nanti saat gelar perkara,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, oknum guru SDN Kauman 3 berinisial IS menjadi buah bibir dunia pendidikan Kota Malang. Bahkan Wali Kota Malang Sutiaji sudah melakukan inspeksi langsung ke sekolah tersebut pasca mencuatnya kasus itu ke publik. Ada dugaan IS menjadi aktor asusila terhadap lebih dari 20 siswa.

Saat inspeksi, Sutiaji tidak memungkiri adanya perbuatan tercela yang dilakukan IS. Wali kota yang diusung Partai Demokrat itu juga sudah mengkroscek langsung ke sejumlah siswa. IS pun langsung dinonaktifkan atas sanksi pelanggaran Peraturan Pemerintah (PP) 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Pewarta               : Fajrus Shidiq
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Abdul Muntholib