JawaPos.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Miftakul Falakim Mubta’dziin Muhammad Romli mengaku merasa rugi atas beredarnya informasi terkait adanya puluhan warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, yang secara serentak pindah ke ponpesnya lantaran adanya isu kiamat. Salah satunya banyak santri yang dipaksa pulang oleh kedua orangtuanya, sampai harus dipukuli karena tidak mau pulang.

Romli mengatakan, pihaknya mengaku terlambat mengetahui adanya informasi ini. “Kami tahu terlambat, (baru tahu) 1 minggu 10 harian. Padahal sudah tersebar 1-2 bulan lalu,” ujarnya.

Dia menyampaikan, dirinya baru menyadari bila banyak santrinya yang disuruh pulang oleh orang tuanya. “Makanya saya baru sadar kenapa kok banyak santri diambil orang tuanya. Ada sampai santri itu diambil orang tuanya nggak mau, sampai dipukuli. Dipikir saya gafatar, dipikir kena magic saya,” kata dia.

BERITA BOHONG: Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto, bersama unsur Muspika dan pengurus Miftakul Falakim Mubta’dziin saat pertemuan di Polres Batu, Rabu (13/3) sore. (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

Menurutnya, santri memilih tinggal di ponpes karena tahu bila apa yang dikatakan orang tentang dirinya adalah fitnah. Dia mengungkapkan, dirinya sampai rela menjual salah satu mobilnya demi menghidupi para santrinya yang ada di ponpes. “Saya, maaf, sampai jual Pajero untuk menanggung santri yang tidak punya gabah (beras) menjelang meteor atau ramadan,” terangnya.

“Santri saya suruh pilih, kalau kamu disuruh pulang orang tua silakan pulang. Kalau disini harus bawa persiapan makanan satu tahun, saya khawatir kalau ramadan mu adalah ramadan meteor. Khawatir kan boleh,” lanjutnya.

Rupanya, lanjut dia, tidak sedikit santri yang memilih untuk tinggal di ponpesnya, padahal sudah disuruh pulang oleh orang tuanya. Akhirnya santri tersebut tidak dikirimi bekal oleh orang tuanya. Oleh karena itu, dia harus menanggung kebutuhan santri tersebut.

“Makanya kalau mau ramadan disini bawa bekal minim (untuk) 1 tahun. Nah santri disini rata-rata datang nangis, bapaknya tidak percaya, terkena fitnah, disuruh pulang, tapi milih ikut saya. Sampai nggak dikirim. Akhirnya saya yang nanggung, makannya, gabahnya,” papar dia.

Maka dari itu, Romli tidak terima ketika mengetahui ada santrinya yang sampai dipukuli gara-gara memilih untuk tinggal bersama dirinya. “Saya nggak terimanya kalau santri saya dipukuli orang tuanya. Wong dia lapar aja saya openi, ini sangat kejam sekali. Apalagi ada fitnah saya rubah rukun islam,” ungkapnya.

Menyusul adanya kasus ini, Romli merasa ada pihak yang sengaja memelintir informasi tersebut. Dia menjelaskan, kasus ini bermula dari program triwulan menyongsong ramadan. Dia menjelaskan, biasanya jamaah datang selama tiga bulan. Yakni saat rajab, syakban, dan ramadan.

“Kalau (saat) meteor mereka sudah sama gurunya, sudah bawa makanan sendiri sendiri dan cari tempat sendiri sendiri, makanya disana itu ya ada yang nyewa, ada yang buat angkring-angkring, nah itu butuh biaya. Mungkin karena itu makanya mereka jual kambing,” paparnya.

“Kalau ramadan tidak ada apa-apa (tidak terjadi meteor) ya mereka pulang. Ya ini yang akhirnya dipelintir. Katanya saya jual pedang, foto saya anti gempa. Itu semua hoaks,” tegasnya.

Romli juga mengungkapkan bahwa ponpes tersebut juga mempunyai kegiatan yang terbuka untuk umum. Seperti salawatan setiap malam Jumat, istighosah saat malam Sabtu, mengaji tentang akhir zaman saat malam Selasa, dan kegiatan lainnya.

Editor           : Sari Hardiyanto

Reporter      : Fiska Tanjung