alexametrics
21 C
Malang
Wednesday, 10 August 2022

Usai Tampil di TV, Undangan Dakwah Full sampai September

Di kalangan penceramah muda, nama M. Shoniful Hadi cukup punya nama. Ini setelah dirinya sukses berada di posisi enam besar ajang Akademi Sahur Indonesia (Aksi) 2022 di Indosiar, April lalu. Ada perubahan besar setelah dirinya kerap tampil di TV nasional itu.

-ANDIKA SATRIA PERDANA-

PERJALANAN Hadi dimulai ketika dia harus menyisihkan 1.200 peserta dari seluruh pelosok Indonesia untuk bisa tampil di ajang Aksi Indosiar. Ada tiga tahapan seleksi yang harus dilaluinya. Pertama, peserta mengirim video selama tiga menit. Dalam video itu, peserta menyampaikan dakwahnya dalam waktu singkat, tapi harus dengan sarat makna. Ini merupakan suatu tantangan bagi mahasiswa Unisma itu. Pasalnya dia tidak pernah berdakwah dengan waktu tiga menit saja. “Kalau secara normal sangat tidak cukup waktu tiga menit, ya itu tantangan buat saya. Harus kreatif dalam menyampaikan isi beserta dalil-dalilnya,” terang Hadi.

Beberapa minggu setelah mengirim video, dia mendapat informasi lolos ke tahap kedua. Selanjutnya yaitu tes administrasi, mulai dari data diri dan pengalaman lomba atau prestasi. Serta yang terakhir, tes wawancara melalui zoom meeting. Setelah itu, baru terpilih 24 dai yang tampil di Indosiar. “Akhirnya saya mendapat telepon dari pihak Indosiar akan tampil di televisi. Tidak menyangka bisa datang langsung ke Jakarta,” ujar mahasiswa semester 3 Unisma itu.

Dalam keberangkatannya menuju Jakarta, Hadi menceritakan pengalaman unik. Di mana ini merupakan pengalaman pertama kali naik pesawat terbang. Saat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, keadaan masih baik-baik saja. Namun setibanya di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Hadi mengaku kebingungan. Banyaknya penumpang yang turun di tempat tersebut, membuatnya bingung untuk mengambil bagasi. Dia menceritakan, sekitar 1 jam dia menunggu bagasinya lewat. Namun, ternyata tempat bagasi yang ditunggunya bukan dari maskapai yang dia naiki. Sehingga, Hadi harus berkali-kali tanya kepada petugas di bandara. Tak berhenti sampai di situ. Setelah bagasinya ditemukan, Hadi hampir saja naik transportasi online. Padahal, dia sudah dijemput oleh pihak Indosiar. “Setelah ditelepon orang Indosiar, baru sadar kalau saya salah naik mobil,” tutur pria asal Desa Ngingit, Tumpang itu.

Pas perlombaan itu susahnya ketika membuat naskah harus dadakan atau spontanitas. Dari segi lawan, juga dianggap berat. Hadi yang dari desa di Kabupaten Malang mengaku sempat minder. Karena lawannya mendapat dukungan dari orang tua hingga pemerintah daerah. Sementara, dia merasa kurang dukungan dari pemerintahnya sendiri. “Jadi ada pemerintah yang berani menyumbang puluhan sampai ratusan juta untuk voting peserta,” ucapnya.

Beruntung, kata Hadi, Pondok Pesantren Nurul Huda Pajaran Poncokusumo dan Unisma mendukung penuh langkahnya di Aksi Indosiar. Ketika guru Hadi sedang berdakwah di luar ponpes, banyak menghimbau jamaah untuk memilihnya agar terus melaju di ajang tahunan itu. Dukungan dari alumni Ponpes Nurul Huda dan Unisma juga berperan mengantarkan Hadi masuk enam besar. “Tampil pertama itu saya sudah minder mengira tidak akan lolos, karena teman-teman bagus semua. Ternyata penampilan pertama sampai ketiga saya mendapatkan voting tertinggi, itu menumbuhkan kepercayaan diri,” ungkap remaja kelahiran 2003 itu.

Selain menambah kemampuannya dalam berdakwah, ajang Aksi Indosiar ini mampu mengantarkan Hadi ketemu artis idolanya, sebut saja Irfan Hakim dan Raffi Ahmad. Dia mengaku sangat senang bisa bertemu sekaligus berswafoto. “Kecil dulu cuman lihat di televisi, sekarang bisa ketemu sampai minta foto bareng,” ucapnya dengan nada penuh semangat.

Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Hadi, bisa bertemu dengan Menteri BUMN Erick Thohir.

Dengan tampil di televisi selama Ramadan lalu, tentunya membuat berkah baginya. Dia saat ini lebih dikenal oleh masyarakat. Banyak yang minta foto hingga banyak mendapat undangan dakwah dari jamaah pengajian. Bahkan, Hadi menuturkan, jadwal dakwahnya sudah penuh hingga bulan September nanti. “Dulu sebelum masuk TV, tidak sesering sekarang, mungkin pas ada acara-acara saja,” tuturnya.

Undangan dakwah yang dia dapat bukan hanya dari Malang Raya. Namun dari beberapa daerah di Jatim, di antaranya Lamongan, Bojonegoro dan Madura. “Nanti juga mau ke Samarinda,” sambungnya.

Selain itu, Hadi saat ini masih aktif mengikuti program dakwah keliling masjid di Malang Raya yang digelar oleh Ponpes Nurul Huda. Program tersebut bernama tour khutbah. Setiap Jumat, santri Nurul Huda dari pagi akan berkeliling ke beberapa masjid. Kegiatan yang dilakukan mulai dari khataman, menjadi petugas salat Jumat seperti bilal dan penceramah atau khatib. “Dari 2020 lalu, kira-kira kami sudah mengunjungi 300 masjid,” terangnya.

Adanya program ini dikatakan Hadi, tak disadari turut membantu kiprahnya dalam dunia dakwah. Pasalnya, mentalnya ditempa dalam program tersebut. Karena sejak awal, santri sudah dituntut untuk menjadi petugas Salat Jumat. Sehingga, mereka sudah biasa turun di masyarakat umum. Tidak hanya mendapat teori di lingkungan pondok. Dengan kondisi itu, membiasakan dirinya melakukan ceramah kepada masyarakat umum secara langsung, maupun melalui media televisi. (abm)

Di kalangan penceramah muda, nama M. Shoniful Hadi cukup punya nama. Ini setelah dirinya sukses berada di posisi enam besar ajang Akademi Sahur Indonesia (Aksi) 2022 di Indosiar, April lalu. Ada perubahan besar setelah dirinya kerap tampil di TV nasional itu.

-ANDIKA SATRIA PERDANA-

PERJALANAN Hadi dimulai ketika dia harus menyisihkan 1.200 peserta dari seluruh pelosok Indonesia untuk bisa tampil di ajang Aksi Indosiar. Ada tiga tahapan seleksi yang harus dilaluinya. Pertama, peserta mengirim video selama tiga menit. Dalam video itu, peserta menyampaikan dakwahnya dalam waktu singkat, tapi harus dengan sarat makna. Ini merupakan suatu tantangan bagi mahasiswa Unisma itu. Pasalnya dia tidak pernah berdakwah dengan waktu tiga menit saja. “Kalau secara normal sangat tidak cukup waktu tiga menit, ya itu tantangan buat saya. Harus kreatif dalam menyampaikan isi beserta dalil-dalilnya,” terang Hadi.

Beberapa minggu setelah mengirim video, dia mendapat informasi lolos ke tahap kedua. Selanjutnya yaitu tes administrasi, mulai dari data diri dan pengalaman lomba atau prestasi. Serta yang terakhir, tes wawancara melalui zoom meeting. Setelah itu, baru terpilih 24 dai yang tampil di Indosiar. “Akhirnya saya mendapat telepon dari pihak Indosiar akan tampil di televisi. Tidak menyangka bisa datang langsung ke Jakarta,” ujar mahasiswa semester 3 Unisma itu.

Dalam keberangkatannya menuju Jakarta, Hadi menceritakan pengalaman unik. Di mana ini merupakan pengalaman pertama kali naik pesawat terbang. Saat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, keadaan masih baik-baik saja. Namun setibanya di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Hadi mengaku kebingungan. Banyaknya penumpang yang turun di tempat tersebut, membuatnya bingung untuk mengambil bagasi. Dia menceritakan, sekitar 1 jam dia menunggu bagasinya lewat. Namun, ternyata tempat bagasi yang ditunggunya bukan dari maskapai yang dia naiki. Sehingga, Hadi harus berkali-kali tanya kepada petugas di bandara. Tak berhenti sampai di situ. Setelah bagasinya ditemukan, Hadi hampir saja naik transportasi online. Padahal, dia sudah dijemput oleh pihak Indosiar. “Setelah ditelepon orang Indosiar, baru sadar kalau saya salah naik mobil,” tutur pria asal Desa Ngingit, Tumpang itu.

Pas perlombaan itu susahnya ketika membuat naskah harus dadakan atau spontanitas. Dari segi lawan, juga dianggap berat. Hadi yang dari desa di Kabupaten Malang mengaku sempat minder. Karena lawannya mendapat dukungan dari orang tua hingga pemerintah daerah. Sementara, dia merasa kurang dukungan dari pemerintahnya sendiri. “Jadi ada pemerintah yang berani menyumbang puluhan sampai ratusan juta untuk voting peserta,” ucapnya.

Beruntung, kata Hadi, Pondok Pesantren Nurul Huda Pajaran Poncokusumo dan Unisma mendukung penuh langkahnya di Aksi Indosiar. Ketika guru Hadi sedang berdakwah di luar ponpes, banyak menghimbau jamaah untuk memilihnya agar terus melaju di ajang tahunan itu. Dukungan dari alumni Ponpes Nurul Huda dan Unisma juga berperan mengantarkan Hadi masuk enam besar. “Tampil pertama itu saya sudah minder mengira tidak akan lolos, karena teman-teman bagus semua. Ternyata penampilan pertama sampai ketiga saya mendapatkan voting tertinggi, itu menumbuhkan kepercayaan diri,” ungkap remaja kelahiran 2003 itu.

Selain menambah kemampuannya dalam berdakwah, ajang Aksi Indosiar ini mampu mengantarkan Hadi ketemu artis idolanya, sebut saja Irfan Hakim dan Raffi Ahmad. Dia mengaku sangat senang bisa bertemu sekaligus berswafoto. “Kecil dulu cuman lihat di televisi, sekarang bisa ketemu sampai minta foto bareng,” ucapnya dengan nada penuh semangat.

Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Hadi, bisa bertemu dengan Menteri BUMN Erick Thohir.

Dengan tampil di televisi selama Ramadan lalu, tentunya membuat berkah baginya. Dia saat ini lebih dikenal oleh masyarakat. Banyak yang minta foto hingga banyak mendapat undangan dakwah dari jamaah pengajian. Bahkan, Hadi menuturkan, jadwal dakwahnya sudah penuh hingga bulan September nanti. “Dulu sebelum masuk TV, tidak sesering sekarang, mungkin pas ada acara-acara saja,” tuturnya.

Undangan dakwah yang dia dapat bukan hanya dari Malang Raya. Namun dari beberapa daerah di Jatim, di antaranya Lamongan, Bojonegoro dan Madura. “Nanti juga mau ke Samarinda,” sambungnya.

Selain itu, Hadi saat ini masih aktif mengikuti program dakwah keliling masjid di Malang Raya yang digelar oleh Ponpes Nurul Huda. Program tersebut bernama tour khutbah. Setiap Jumat, santri Nurul Huda dari pagi akan berkeliling ke beberapa masjid. Kegiatan yang dilakukan mulai dari khataman, menjadi petugas salat Jumat seperti bilal dan penceramah atau khatib. “Dari 2020 lalu, kira-kira kami sudah mengunjungi 300 masjid,” terangnya.

Adanya program ini dikatakan Hadi, tak disadari turut membantu kiprahnya dalam dunia dakwah. Pasalnya, mentalnya ditempa dalam program tersebut. Karena sejak awal, santri sudah dituntut untuk menjadi petugas Salat Jumat. Sehingga, mereka sudah biasa turun di masyarakat umum. Tidak hanya mendapat teori di lingkungan pondok. Dengan kondisi itu, membiasakan dirinya melakukan ceramah kepada masyarakat umum secara langsung, maupun melalui media televisi. (abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/