alexametrics
21.5 C
Malang
Sunday, 2 October 2022

Generasi Milenial yang Geluti Pramuka Jadi Pendorong Prestasi Bidang Lain

Pamor Pramuka seolah tenggelam di telan zaman. Banyak pelajar menghindari aktivitas Pramuka yang dinilai ”kuno” dan bikin jenuh. Namun bagi Ghiananda Aprilia, Pramuka justru merupakan tempat untuk mengembangkan diri.

Sebagai kegiatan diwajibkan di sekolahnya saat itu, Ghiananda Aprilia sempat ogah-ogahan saat diminta mengikuti Pramuka. Dia kerap merasa bosan lantaran kegiatan di dalamnya kurang menarik. Bahkan cenderung tidak gaul. 

Untuk menyiasati, dia dan teman-temannya mulai mengusulkan jenis kegiatan yang lebih sesuai dengan anakanak masa kini. ”Waktu itu saya masih di SDN Bandungrejosari 1. Kami bikin kegiatan sendiri, tapi anggota Pramuka dewasa tetap mengawasi dan memberi masukan jika dibutuhkan,” terangnya. 

Beruntung, para anggota dewasa maupun pembina Pramuka terbuka dalam menerima saran. Hasilnya, selama mengikuti Pramuka, Ghia bersama temantemannya sering menginisiasi kegiatan. Misalnya membuat kegiatan berbasis digital seperti kuis hingga penjelajahan yang menggunakan navigasi digital. 

Perlahan, kecintaan Ghia terhadap Pramuka mulai tumbuh. Apalagi saat bersekolah di SMPN 12 Kota Malang. Perempuan yang kini berusia 20 tahun itu mulai aktif mengikuti Pramuka hingga berlaga di beberapa kompetisi. Salah satunya Lomba Pramuka Sabatansa pada 2014. ”Lalu, tahun 2015 saya pernah menjadi salah satu Pramuka Garuda Penggalang yang mewakili Kwarran Sukun dan menjadi juara umum di Jambore ranting Sukun,” bebernya. 

Meski pada tahun yang sama Ghia harus pindah ke Mojokerto, tapi keterlibatannya dalam Pramuka tidak berhenti begitu saja. Dia tetap aktif, bahkan lolos menjadi peserta Jambore Nasional X di Cibubur. ”Saat di sana saya mendapat keanggotaan Associate of Top Achievement Scout (ATAS),” imbuhnya. 

Begitu pula saat duduk di bangku SMAN 1 Mojokerto hingga kembali ke Kota Malang untuk berkuliah di Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya. Meski saat ini sudah berstatus mahasiswa semester lima, Ghia tetap aktif menjadi anggota UKM Pramuka dan mendaftar di Dewan Kerja Cabang Kwartir Cabang Kota Malang. ”Tapi sekarang lebih aktif di bidang reporter dan dokumentasi,” katanya lantas tertawa. 

Selama mengikuti Pramuka, banyak kegiatan menarik yang dilakoni Ghia. Baginya, hal yang paling berkesan adalah saat menjalani Pramuka dari nol hingga memetik hasil berupa prestasi. Semakin ke sini, dia merasa haus untuk belajar dan berkembang. 

Walaupun aktif di Pramuka, prestasi Ghia tak terbatas pada jambore. Di luar Pramuka, dia pernah menyabet prestasi di berbagai kompetisi. Seperti karate, band, cosplay Jepang, hingga menjadi semifinalis duta lingkungan Jawa Timur. ”Kebetulan saya juga suka bermain musik dan mendesain kostum,” tandasnya. (mel/fat)

Pamor Pramuka seolah tenggelam di telan zaman. Banyak pelajar menghindari aktivitas Pramuka yang dinilai ”kuno” dan bikin jenuh. Namun bagi Ghiananda Aprilia, Pramuka justru merupakan tempat untuk mengembangkan diri.

Sebagai kegiatan diwajibkan di sekolahnya saat itu, Ghiananda Aprilia sempat ogah-ogahan saat diminta mengikuti Pramuka. Dia kerap merasa bosan lantaran kegiatan di dalamnya kurang menarik. Bahkan cenderung tidak gaul. 

Untuk menyiasati, dia dan teman-temannya mulai mengusulkan jenis kegiatan yang lebih sesuai dengan anakanak masa kini. ”Waktu itu saya masih di SDN Bandungrejosari 1. Kami bikin kegiatan sendiri, tapi anggota Pramuka dewasa tetap mengawasi dan memberi masukan jika dibutuhkan,” terangnya. 

Beruntung, para anggota dewasa maupun pembina Pramuka terbuka dalam menerima saran. Hasilnya, selama mengikuti Pramuka, Ghia bersama temantemannya sering menginisiasi kegiatan. Misalnya membuat kegiatan berbasis digital seperti kuis hingga penjelajahan yang menggunakan navigasi digital. 

Perlahan, kecintaan Ghia terhadap Pramuka mulai tumbuh. Apalagi saat bersekolah di SMPN 12 Kota Malang. Perempuan yang kini berusia 20 tahun itu mulai aktif mengikuti Pramuka hingga berlaga di beberapa kompetisi. Salah satunya Lomba Pramuka Sabatansa pada 2014. ”Lalu, tahun 2015 saya pernah menjadi salah satu Pramuka Garuda Penggalang yang mewakili Kwarran Sukun dan menjadi juara umum di Jambore ranting Sukun,” bebernya. 

Meski pada tahun yang sama Ghia harus pindah ke Mojokerto, tapi keterlibatannya dalam Pramuka tidak berhenti begitu saja. Dia tetap aktif, bahkan lolos menjadi peserta Jambore Nasional X di Cibubur. ”Saat di sana saya mendapat keanggotaan Associate of Top Achievement Scout (ATAS),” imbuhnya. 

Begitu pula saat duduk di bangku SMAN 1 Mojokerto hingga kembali ke Kota Malang untuk berkuliah di Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya. Meski saat ini sudah berstatus mahasiswa semester lima, Ghia tetap aktif menjadi anggota UKM Pramuka dan mendaftar di Dewan Kerja Cabang Kwartir Cabang Kota Malang. ”Tapi sekarang lebih aktif di bidang reporter dan dokumentasi,” katanya lantas tertawa. 

Selama mengikuti Pramuka, banyak kegiatan menarik yang dilakoni Ghia. Baginya, hal yang paling berkesan adalah saat menjalani Pramuka dari nol hingga memetik hasil berupa prestasi. Semakin ke sini, dia merasa haus untuk belajar dan berkembang. 

Walaupun aktif di Pramuka, prestasi Ghia tak terbatas pada jambore. Di luar Pramuka, dia pernah menyabet prestasi di berbagai kompetisi. Seperti karate, band, cosplay Jepang, hingga menjadi semifinalis duta lingkungan Jawa Timur. ”Kebetulan saya juga suka bermain musik dan mendesain kostum,” tandasnya. (mel/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/