alexametrics
21.8 C
Malang
Saturday, 25 June 2022

Bangga Melanglang Buana Bersama Tokoh Lintas Agama

Ilmu filsafat telah membawa pria yang akrab dengan panggilan Romo Armada itu merambah panggung dunia. Dia menjadi promoter pluralisme di berbagai negara dan bergabung dalam tim dengan banyak tokoh nasional. Kini, dia aktif melakukan riset penerapan Pancasila di era modern.

Bagi Armada, filsafat adalah bidang interdisipliner. Pandangannya mengarah pada segala upaya penyelenggaraan hidup yang lebih baik dan tertata. Salah satu bidang yang getol dia tekuni adalah keberagaman dan pluralisme dalam masyarakat. Bidang itu pula yang mengantarkan pria 57 tahun itu banyak merasakan pengalaman tak terlupakan.

”Medio 2013 sampai 2016, saya ditugaskan pemerintah pergi ke berbagai negara untuk memaparkan pluralisme Indonesia ke Uni Eropa seperti Belgia, Jerman, Polandia dan Finlandia. Saya juga bertugas ke Amerika Latin, seperti Argentina dan Chili,” ujarnya saat di kantornya, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang.

Tugas melanglang buana juga didukung jabatannya di lingkungan gereja Katolik kala itu. Yakni Ketua Komisi Dialog Inter-Religius Congregasi Misi (CM) tingkat dunia pada 2009-2015. Dalam menjalankan tugas itu, Armada harus bergandengan tangan dengan banyak tokoh beda agama. Baik itu Islam, Katolik, Kristen non-Katolik, Buddha, Hindu, maupun Konghucu.

Dia pernah duet dengan Prof Dr Azyumadi Azra yang dulu merupakan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, Rektor STFT Widya Sasana itu mengaku sangat berkesan dengan pengalamannya bersama almarhum KH Hasyim Muzadi. Bersama pengasuh ponpes Al Hikam Malang sekaligus mantan Ketua PBNU itu, Armada pergi ke Berlin Jerman pada 2011. Di sana dia bisa menyajikan paparan kritis tapi adem soal pemulihan hubungan inter-religi di Indonesia yang sempat mengalami krisis hubungan antar-agama.

Pada 2018 Armada bertugas bersama Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni. Keduanya tergabung dalam rombongan Utusan Khusus Presiden RI (UKP) untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban (DKAAP). Tim itu pergi ke Denmark untuk menyiarkan inter-religi di Indonesia.

Begitu Covid-19 melanda dunia, kegiatan ke luar negeri pun berhenti. Pria yang mendapatkan gelar doktor filsafat dari Pontifical Gregorian University, Roma, Italia itu mengalihkan visinya ke pendalaman Pancasila. Menurut Armada, paparan soal Pancasila secara langsung juga menyentuh dialog dan hubungan antaragama.

Akademisi kelahiran 1965 itu pernah menjadi periset soal Pancasila dan pemateri ahli di Komisi Kajian Ketatanegaraan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 2021. Saat itu, dosen tamu UMM dan Universitas Airlangga tersebut merumuskan konteks pengamalan modern Pancasila. Kemudian pada Desember 2021, dia berbicara sebagai ahli di depan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

”Di BPIP saya bicara soal aksentuatif dan peran agama maupun Pancasila,” kata pria yang diangkat sebagai pastur pada 1994 itu.

Menurutnya, praktik ideal Pancasila dalam kehidupan nyata bakal mewujudkan kehidupan antaragama yang baik. Walaupun pada kenyataannya, masih ada perbedaan di sana-sini yang perlu diperbaiki.

Demi menunjang visi soal harmoni inter-religi, Armada juga mendukung pengembangan kampusnya sebagai kampus inklusif. Jika sebelumnya STFT Widya Sasana fokus pada teologi calon imam (pastur), sekarang lebih terbuka dan mempunyai kajian filsafat sistematis. ”De facto, mahasiswa pascasarjana kita ada yang dari Tebu Ireng. Ada juga yang dari kalangan Kristen non-Katolik,” terang penyuka klub sepak bola Juventus itu.

Dengan sistem pendidikan STFT yang inklusif, Armada berharap lahir teolog, filsuf, maupun intelektual yang bisa berkontribusi besar pada bidang filsafat. Plus, turut mempraktikkan keilmuannya di berbagai bidang kehidupan agar tata hidup yang baik bisa terbangun. (*/fat)

Ilmu filsafat telah membawa pria yang akrab dengan panggilan Romo Armada itu merambah panggung dunia. Dia menjadi promoter pluralisme di berbagai negara dan bergabung dalam tim dengan banyak tokoh nasional. Kini, dia aktif melakukan riset penerapan Pancasila di era modern.

Bagi Armada, filsafat adalah bidang interdisipliner. Pandangannya mengarah pada segala upaya penyelenggaraan hidup yang lebih baik dan tertata. Salah satu bidang yang getol dia tekuni adalah keberagaman dan pluralisme dalam masyarakat. Bidang itu pula yang mengantarkan pria 57 tahun itu banyak merasakan pengalaman tak terlupakan.

”Medio 2013 sampai 2016, saya ditugaskan pemerintah pergi ke berbagai negara untuk memaparkan pluralisme Indonesia ke Uni Eropa seperti Belgia, Jerman, Polandia dan Finlandia. Saya juga bertugas ke Amerika Latin, seperti Argentina dan Chili,” ujarnya saat di kantornya, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang.

Tugas melanglang buana juga didukung jabatannya di lingkungan gereja Katolik kala itu. Yakni Ketua Komisi Dialog Inter-Religius Congregasi Misi (CM) tingkat dunia pada 2009-2015. Dalam menjalankan tugas itu, Armada harus bergandengan tangan dengan banyak tokoh beda agama. Baik itu Islam, Katolik, Kristen non-Katolik, Buddha, Hindu, maupun Konghucu.

Dia pernah duet dengan Prof Dr Azyumadi Azra yang dulu merupakan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, Rektor STFT Widya Sasana itu mengaku sangat berkesan dengan pengalamannya bersama almarhum KH Hasyim Muzadi. Bersama pengasuh ponpes Al Hikam Malang sekaligus mantan Ketua PBNU itu, Armada pergi ke Berlin Jerman pada 2011. Di sana dia bisa menyajikan paparan kritis tapi adem soal pemulihan hubungan inter-religi di Indonesia yang sempat mengalami krisis hubungan antar-agama.

Pada 2018 Armada bertugas bersama Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni. Keduanya tergabung dalam rombongan Utusan Khusus Presiden RI (UKP) untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban (DKAAP). Tim itu pergi ke Denmark untuk menyiarkan inter-religi di Indonesia.

Begitu Covid-19 melanda dunia, kegiatan ke luar negeri pun berhenti. Pria yang mendapatkan gelar doktor filsafat dari Pontifical Gregorian University, Roma, Italia itu mengalihkan visinya ke pendalaman Pancasila. Menurut Armada, paparan soal Pancasila secara langsung juga menyentuh dialog dan hubungan antaragama.

Akademisi kelahiran 1965 itu pernah menjadi periset soal Pancasila dan pemateri ahli di Komisi Kajian Ketatanegaraan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 2021. Saat itu, dosen tamu UMM dan Universitas Airlangga tersebut merumuskan konteks pengamalan modern Pancasila. Kemudian pada Desember 2021, dia berbicara sebagai ahli di depan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

”Di BPIP saya bicara soal aksentuatif dan peran agama maupun Pancasila,” kata pria yang diangkat sebagai pastur pada 1994 itu.

Menurutnya, praktik ideal Pancasila dalam kehidupan nyata bakal mewujudkan kehidupan antaragama yang baik. Walaupun pada kenyataannya, masih ada perbedaan di sana-sini yang perlu diperbaiki.

Demi menunjang visi soal harmoni inter-religi, Armada juga mendukung pengembangan kampusnya sebagai kampus inklusif. Jika sebelumnya STFT Widya Sasana fokus pada teologi calon imam (pastur), sekarang lebih terbuka dan mempunyai kajian filsafat sistematis. ”De facto, mahasiswa pascasarjana kita ada yang dari Tebu Ireng. Ada juga yang dari kalangan Kristen non-Katolik,” terang penyuka klub sepak bola Juventus itu.

Dengan sistem pendidikan STFT yang inklusif, Armada berharap lahir teolog, filsuf, maupun intelektual yang bisa berkontribusi besar pada bidang filsafat. Plus, turut mempraktikkan keilmuannya di berbagai bidang kehidupan agar tata hidup yang baik bisa terbangun. (*/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/