alexametrics
26.6 C
Malang
Wednesday, 6 July 2022

Saat Penilaian, Hujan Turun dan Suara Petir Masuk Rekaman Video

Kecintaan Naura Frizya Kamila Annas terhadap dunia balet sudah muncul sejak usia lima tahun. Bahkan di usia yang masih sangat belia itu, dia minta agar orang tuanya mencarikan sekolah balet. Lima tahun kemudian, bocah kelahiran Oktober 2011 itu sudah bisa mencatatkan prestasi tingkat nasional.

MITA BERLIANA

ZIZI, begitulah nama panggilan sehari-hari Naura Frizya Kamila Annas. Bocah yang kini berusia 11 tahun itu memang spesial. Selain memiliki keahlian khusus, dia sudah bisa memutuskan apa yang ingin dilakukan saat dewasa nanti. Yakni menjadi guru balet.

Cita-cita itu pun bukan sekadar angan-angan tanpa kepastian. Zizi sudah mulai mengejarnya sejak usia lima tahun. Kala itu, dia sering menonton pertunjukan balet lewat YouTube.”Saya juga sering nonton film Barbie yang seri dulu. Yang masih banyak adegan menari baletnya,” kata bocah yang kini duduk di bangku kelas empat SD itu.

Lama-kelamaan, Zizi yang begitu tertarik dengan keindahan balet mulai mempelajari gerakan-gerakannya.Tentu saja dia kesulitan.Karena itulah, dia meminta orang tuanya untuk mencarikan tempat belajar Balet. Sang mama sempat terkejut lantaran anak usia lima tahun punya keinginan yang begitu kuat terhadap dunia balet.

Tak mau anaknya kecewa,sang mama mulai mencari informasi tentang sekolah balet di kota Malang. ”Susah sekali mencari sekolah balet di Malang. Kebanyakan ada di Surabaya.Akhirnya saya ketemu Susan Ballet Studio dan memang satu-satunya dan tertua di kota malang. Serta punya pakem materi standar internasional,” ujar mama Zizi.

Di sekolah balet, Zizi tidak sekadar melakukan gerakan yang diajarkan.Dia juga harus menjalani ujian setiap tahun sesuai kategori, umur, dan gerakan yang diajarkan.Ada grade baby, primary, grade 1 hingga 7, hingga grade 8 award.

”Jadi memang seperti sekolah. Ada pertemuan untuk diajarkan gerakan. Ada ujian kenaikan tingkat dan ada rapor terkait perkembangan kita,” kata gadis yang sekarang berada di grade 4 itu. Karena seperti sekolah, maka jadwal pertemuan pun ketat dan harus disiplin.Sama sekali tidak boleh terlambat.

Setiap tahun, Zizi harus menjalani  ujian kenaikan tingkatsesuai pakem internasional Royal Academic Dance (RAD) atau akademi seni tari yang berpusat di London.  Ujian itu tentu tidak gampang. Selain menggunakan standar internasional,  diaharus melakukan gerakan secara sempurna serta sesuai tempo lagu.

Terkadang kendala yang tak terduga muncul dalam ujian itu.Misalnya, ketika latihan menggunakan lagu yang diputar dari kaset atau CD.Namun saat ujian, pihak Royal Academic Dance yang datang untuk menilai secara langsung mewajibkan iringan musik piano.Ketukan dan nadanya bisa terasa berbeda.

Tantangan lainnya, Zizi kerap mengalami sakit pada kakinya.Sebab, gerakan-gerakan balet banyak yang bertumpu pada ujung jari-jari kaki.Untuk mengatasinya, dia mengaku memijatsendiri kakinya serta melakukan peregangan yang cukup. ”Juga rileks itu penting, saya sering mendengar musik klasik supaya rileks,” imbuhnya.

Namun, segala rasa sakit, tantangan, dan usaha keras Ziziserasa terbayar ketika pertama kali mengikuti kontes balet.Kontes itu diadakan di Surabaya.Dia berhasil meraih runner up 2 pada Indonesia Ballet Competition 2021 yang diadakan oleh Flores Classical Ballet School (FCBS) pada 12 Desember tahun lalu.

April lalu, Zizi kembali mengikuti kontes tingkat nasional bertajuk Virtual Ballet Competition 2022 by JAK TUTU.Lantaran lombanya untuk kategori grup, dia mengajak dua temannya, yakni Joanne GraciaSusanto dan YuanitiaAritaMahila. Ketiga bocah itu  sempat gugup saat mengetahui saingannya berasal dari sekolah-sekolah balet internasional, bahkan ada yang dari luar Jawa timur.

”Sempat hopeless. Ditambah waktu itu ada kendala baju,” ujarnya. Karena lombanya virtual, maka penilaiannya dilakukan lewat video secara live. Saat Zizi dan teman-temannya tampil, hujan turun lumayan deras.Bahkan suara petir sampai masuk ke dalam rekaman video. ”Tapi kita tetap melakukan yang terbaik. Tidak menyangka akhirnya bisa juara satu,” ujar Zizi dengan mata berbinar.

Kemenangannya di kompetisi balet itu makin membuat Zizi bersemangat mencapai mimpinya. “Saya ingin menjadi guru balet suatu hari nanti,” katanya dengan mantap.

Meski sangat aktif berlatih balet.Zizi tak melupakan kegiatan belajar di sekolah.Dia selalu membagi jadwal dengan detail agar tidak ada yang terlewat. Bahkan, Siswi  SD Insan Amanah itu masih sempat untuk les pelajaran dan mengaji.(*/fat)

 

 

Kecintaan Naura Frizya Kamila Annas terhadap dunia balet sudah muncul sejak usia lima tahun. Bahkan di usia yang masih sangat belia itu, dia minta agar orang tuanya mencarikan sekolah balet. Lima tahun kemudian, bocah kelahiran Oktober 2011 itu sudah bisa mencatatkan prestasi tingkat nasional.

MITA BERLIANA

ZIZI, begitulah nama panggilan sehari-hari Naura Frizya Kamila Annas. Bocah yang kini berusia 11 tahun itu memang spesial. Selain memiliki keahlian khusus, dia sudah bisa memutuskan apa yang ingin dilakukan saat dewasa nanti. Yakni menjadi guru balet.

Cita-cita itu pun bukan sekadar angan-angan tanpa kepastian. Zizi sudah mulai mengejarnya sejak usia lima tahun. Kala itu, dia sering menonton pertunjukan balet lewat YouTube.”Saya juga sering nonton film Barbie yang seri dulu. Yang masih banyak adegan menari baletnya,” kata bocah yang kini duduk di bangku kelas empat SD itu.

Lama-kelamaan, Zizi yang begitu tertarik dengan keindahan balet mulai mempelajari gerakan-gerakannya.Tentu saja dia kesulitan.Karena itulah, dia meminta orang tuanya untuk mencarikan tempat belajar Balet. Sang mama sempat terkejut lantaran anak usia lima tahun punya keinginan yang begitu kuat terhadap dunia balet.

Tak mau anaknya kecewa,sang mama mulai mencari informasi tentang sekolah balet di kota Malang. ”Susah sekali mencari sekolah balet di Malang. Kebanyakan ada di Surabaya.Akhirnya saya ketemu Susan Ballet Studio dan memang satu-satunya dan tertua di kota malang. Serta punya pakem materi standar internasional,” ujar mama Zizi.

Di sekolah balet, Zizi tidak sekadar melakukan gerakan yang diajarkan.Dia juga harus menjalani ujian setiap tahun sesuai kategori, umur, dan gerakan yang diajarkan.Ada grade baby, primary, grade 1 hingga 7, hingga grade 8 award.

”Jadi memang seperti sekolah. Ada pertemuan untuk diajarkan gerakan. Ada ujian kenaikan tingkat dan ada rapor terkait perkembangan kita,” kata gadis yang sekarang berada di grade 4 itu. Karena seperti sekolah, maka jadwal pertemuan pun ketat dan harus disiplin.Sama sekali tidak boleh terlambat.

Setiap tahun, Zizi harus menjalani  ujian kenaikan tingkatsesuai pakem internasional Royal Academic Dance (RAD) atau akademi seni tari yang berpusat di London.  Ujian itu tentu tidak gampang. Selain menggunakan standar internasional,  diaharus melakukan gerakan secara sempurna serta sesuai tempo lagu.

Terkadang kendala yang tak terduga muncul dalam ujian itu.Misalnya, ketika latihan menggunakan lagu yang diputar dari kaset atau CD.Namun saat ujian, pihak Royal Academic Dance yang datang untuk menilai secara langsung mewajibkan iringan musik piano.Ketukan dan nadanya bisa terasa berbeda.

Tantangan lainnya, Zizi kerap mengalami sakit pada kakinya.Sebab, gerakan-gerakan balet banyak yang bertumpu pada ujung jari-jari kaki.Untuk mengatasinya, dia mengaku memijatsendiri kakinya serta melakukan peregangan yang cukup. ”Juga rileks itu penting, saya sering mendengar musik klasik supaya rileks,” imbuhnya.

Namun, segala rasa sakit, tantangan, dan usaha keras Ziziserasa terbayar ketika pertama kali mengikuti kontes balet.Kontes itu diadakan di Surabaya.Dia berhasil meraih runner up 2 pada Indonesia Ballet Competition 2021 yang diadakan oleh Flores Classical Ballet School (FCBS) pada 12 Desember tahun lalu.

April lalu, Zizi kembali mengikuti kontes tingkat nasional bertajuk Virtual Ballet Competition 2022 by JAK TUTU.Lantaran lombanya untuk kategori grup, dia mengajak dua temannya, yakni Joanne GraciaSusanto dan YuanitiaAritaMahila. Ketiga bocah itu  sempat gugup saat mengetahui saingannya berasal dari sekolah-sekolah balet internasional, bahkan ada yang dari luar Jawa timur.

”Sempat hopeless. Ditambah waktu itu ada kendala baju,” ujarnya. Karena lombanya virtual, maka penilaiannya dilakukan lewat video secara live. Saat Zizi dan teman-temannya tampil, hujan turun lumayan deras.Bahkan suara petir sampai masuk ke dalam rekaman video. ”Tapi kita tetap melakukan yang terbaik. Tidak menyangka akhirnya bisa juara satu,” ujar Zizi dengan mata berbinar.

Kemenangannya di kompetisi balet itu makin membuat Zizi bersemangat mencapai mimpinya. “Saya ingin menjadi guru balet suatu hari nanti,” katanya dengan mantap.

Meski sangat aktif berlatih balet.Zizi tak melupakan kegiatan belajar di sekolah.Dia selalu membagi jadwal dengan detail agar tidak ada yang terlewat. Bahkan, Siswi  SD Insan Amanah itu masih sempat untuk les pelajaran dan mengaji.(*/fat)

 

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/