alexametrics
27.9 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Allmira Sukshma Negara, Awalnya Takut Kini Langganan Juara Taekwondo

SEJAK duduk di bangku sekolah dasar, Allmira sangat menyukai permainan yang kebanyakan dilakukan laki-laki. Salah satunya sepak bola. Bocah kelahiran 2009 itu sangat menyukai olahraga tersebut. Sampai-sampai dia terpilih menjadi satu-satunya perempuan dalam tim sepak bola sekolahnya.

Namun keinginannya untuk terus menendang si kulit bundar harus berhenti sejak dini, yakni pada usia 10 tahun. Tepatnya setelah orang tuanya tahu bahwa dia membela tim sekolahnya bertanding dengan sekolah lain. ”Mama tidak menyetujui. Saya nurut saja, karena mama pasti punya pertimbangan lain untuk saya. Mama khawatir sekolah saya berantakan,” kenang bocah yang kini duduk di bangku kelas 7 SMP itu. Sejak saat itu, Allmira fokus dengan pendidikannya dan selalu meraih peringkat 3 besar.

Hal itu demi membuktikan kepada orang tuanya bahwa dia bisa berprestasi di dunia akademis. Sekaligus berharap diizinkan kembali untuk bergabung dengan tim sepak bola sekolah. Ternyata izin itu tak kunjung didapat. Mungkin karena stigma bahwa olah raga sepak bola itu terlalu ”laki-laki”. Sang mama malah menawarkan agar putrinya itu bergabung dalam pelatihan seni bela diri asal Korea, taekwondo. Awalnya Allmira menolak karena takut dengan hal-hal yang berbau kekerasan.

Namun saat bertemu pelatih di Dojang atau ruang pelatihan formal untuk taekwondo, pendangan Allmira mulai berubah. Apalagi saat dia dipersilakan melihatlihat anak-anak usia SD yang sedang berlatih. ”Saat itu saya berpikir, tidak ada salahnya dicoba, daripada tidak ’bergerak’ sama sekali,” ujarnya. Allmira yang saat itu sudah duduk di bangku kelas 6 SD harus berjuang lebih keras. Sebab, teman-teman seumuran dia yang juga berlatih taekwondo sudah tahu jurus-jurus lebih awal.

Beruntung kondisi tempat latihannya sangat kondusif. ”Semua temanteman saya baik, saling mendukung. Pelatih juga sabar melatih saya,” ucap lulusan SDN Purwodadi 1 Kota Malang itu. Baru beberapa bulan bergabung, sang pelatih melihat potensi besar Allmira untuk bisa berkompetisi. Dia lantas menawari mama Allmira untuk mengikutkan putrinya dalam sebuah kejuaraan. Tentu saja mama Allmira kaget.

Pasalnya, dia hanya iseng memasukkan Allmira ke Dojang untuk mengisi waktu luang. ”Saya memasukkan Allmira ke sana saat pandemi agar ada penyaluran aktivitas fisik. Daripada di rumah dan belajar terus. Saya terkejut saat ditawari pelatih. Ternyata dia ada bakat,” terang mama Allmira saat ditemui kemarin (21/5). Kompetisi pertama yang diikuti Allmira adalah Kejuaraan Taekwondo Action Indonesia Youth Student yang diselenggarakan pada 26 hingga 28 Februari 2021 di Jakarta.

Pada kejuaraan pertamanya itu, dia meraih juara 2 poomsae individual cadet putri. Prestasi itu sekaligus menjadi momentum bagi Allmira untuk lebih serius menekuni seni bela diri taekwondo. Latihan semakin giat dilakukan. Dalam sepekan bisa sampai tiga hari. Bahkan kalau hendak menghadapi kejuaraan, jam latihan ditambah oleh pelatih. Mulai pukul 15.00 sampai 22.00 WIB. ”Capek sih. Setelah sampai rumah masih harus mengerjakan PR dan belajar. Biasanya sampai jam 12 malam. Kadang juga sampai jam 3 pagi.

Untungnya selalu bisa bangun jam 5 atau 6 pagi,” ujarnya sambil terkekeh. Berkat latihan keras seperti itu, Allmira bisa meraih gelar dalam beberapa kejuaraan. Di antaranya, bronze medalist of poomsae individual cadet female kejuaraan Online Indonesia International Biho Championship pada 9 hingga 11 April 2021 di Sumatera Utara. Terbaru, Allmira meraih juara 1 individual poomsae putri pada kejuaraan nasional taekwondo Kapolri Cup 3m 27 Februari lalu. Juga, juara 2 F-IND Poomsae Grup 65 pada kejuaraan provinsi taekwondo Indonesia Jatim yang dilaksanakan di GOR Mastrip, Kota Probolinggo, 27 Maret lalu.

Prestasi sebanyak itu tidak hanya diraih melalui latihan keras. Allmira juga harus merasakan sakit akibat pertandingan maupun penambahan jam latihan menjelang kejuaraan. Sering kali dia mengalami keseleo pada kaki, bahkan sebelum pertandingan dimulai. ”Mau bagaimana lagi, saya paksakan kaki untuk menghajar lawan meskipun sakit banget,” ujar siswa SMPN 3 Malang itu sambil menunjukkan kaki kanannya yang masih merasakan sakit hingga kemarin. Allmira juga masih kerap merasa gugup sebelum bertanding.

Apalagi orang tuanya selalu ikut menyaksikan, dia takut mengecewakan jika kalah. ”Sebelum tanding saya biasanya mendengarkan lagu Permission to Dance atau Butter,” ujar dara penggemar BTS, grup vokal pria asal Korea Selatan, itu. Yang patut diapresiasi dari Allmira adalah kemampuannya untuk tetap berprestasi di bidang akademik. Meski sangat sibuk dengan latihan dan kejuaraan Taekwondo, dia tetap sering masuk dalam peringkat tiga besar di kelasnya. ”Saya terbiasa menyusun apa-apa yang harus dikerjakan di otak saya. Biar sekolah jalan, les jalan, taekwondo jalan,” imbuhnya. Saat ditanya tentang cita-citanya, Allmira sudah bisa menjawab dengan mantap. ”Untuk saat ini, saya bercita-cita menjadi atlet taekwondo. Tidak tahu nanti apakah tetap atau ganti. Saya ingin menikmati apa yang saya jalani sekarang,” pungkas. (mit/fat)

SEJAK duduk di bangku sekolah dasar, Allmira sangat menyukai permainan yang kebanyakan dilakukan laki-laki. Salah satunya sepak bola. Bocah kelahiran 2009 itu sangat menyukai olahraga tersebut. Sampai-sampai dia terpilih menjadi satu-satunya perempuan dalam tim sepak bola sekolahnya.

Namun keinginannya untuk terus menendang si kulit bundar harus berhenti sejak dini, yakni pada usia 10 tahun. Tepatnya setelah orang tuanya tahu bahwa dia membela tim sekolahnya bertanding dengan sekolah lain. ”Mama tidak menyetujui. Saya nurut saja, karena mama pasti punya pertimbangan lain untuk saya. Mama khawatir sekolah saya berantakan,” kenang bocah yang kini duduk di bangku kelas 7 SMP itu. Sejak saat itu, Allmira fokus dengan pendidikannya dan selalu meraih peringkat 3 besar.

Hal itu demi membuktikan kepada orang tuanya bahwa dia bisa berprestasi di dunia akademis. Sekaligus berharap diizinkan kembali untuk bergabung dengan tim sepak bola sekolah. Ternyata izin itu tak kunjung didapat. Mungkin karena stigma bahwa olah raga sepak bola itu terlalu ”laki-laki”. Sang mama malah menawarkan agar putrinya itu bergabung dalam pelatihan seni bela diri asal Korea, taekwondo. Awalnya Allmira menolak karena takut dengan hal-hal yang berbau kekerasan.

Namun saat bertemu pelatih di Dojang atau ruang pelatihan formal untuk taekwondo, pendangan Allmira mulai berubah. Apalagi saat dia dipersilakan melihatlihat anak-anak usia SD yang sedang berlatih. ”Saat itu saya berpikir, tidak ada salahnya dicoba, daripada tidak ’bergerak’ sama sekali,” ujarnya. Allmira yang saat itu sudah duduk di bangku kelas 6 SD harus berjuang lebih keras. Sebab, teman-teman seumuran dia yang juga berlatih taekwondo sudah tahu jurus-jurus lebih awal.

Beruntung kondisi tempat latihannya sangat kondusif. ”Semua temanteman saya baik, saling mendukung. Pelatih juga sabar melatih saya,” ucap lulusan SDN Purwodadi 1 Kota Malang itu. Baru beberapa bulan bergabung, sang pelatih melihat potensi besar Allmira untuk bisa berkompetisi. Dia lantas menawari mama Allmira untuk mengikutkan putrinya dalam sebuah kejuaraan. Tentu saja mama Allmira kaget.

Pasalnya, dia hanya iseng memasukkan Allmira ke Dojang untuk mengisi waktu luang. ”Saya memasukkan Allmira ke sana saat pandemi agar ada penyaluran aktivitas fisik. Daripada di rumah dan belajar terus. Saya terkejut saat ditawari pelatih. Ternyata dia ada bakat,” terang mama Allmira saat ditemui kemarin (21/5). Kompetisi pertama yang diikuti Allmira adalah Kejuaraan Taekwondo Action Indonesia Youth Student yang diselenggarakan pada 26 hingga 28 Februari 2021 di Jakarta.

Pada kejuaraan pertamanya itu, dia meraih juara 2 poomsae individual cadet putri. Prestasi itu sekaligus menjadi momentum bagi Allmira untuk lebih serius menekuni seni bela diri taekwondo. Latihan semakin giat dilakukan. Dalam sepekan bisa sampai tiga hari. Bahkan kalau hendak menghadapi kejuaraan, jam latihan ditambah oleh pelatih. Mulai pukul 15.00 sampai 22.00 WIB. ”Capek sih. Setelah sampai rumah masih harus mengerjakan PR dan belajar. Biasanya sampai jam 12 malam. Kadang juga sampai jam 3 pagi.

Untungnya selalu bisa bangun jam 5 atau 6 pagi,” ujarnya sambil terkekeh. Berkat latihan keras seperti itu, Allmira bisa meraih gelar dalam beberapa kejuaraan. Di antaranya, bronze medalist of poomsae individual cadet female kejuaraan Online Indonesia International Biho Championship pada 9 hingga 11 April 2021 di Sumatera Utara. Terbaru, Allmira meraih juara 1 individual poomsae putri pada kejuaraan nasional taekwondo Kapolri Cup 3m 27 Februari lalu. Juga, juara 2 F-IND Poomsae Grup 65 pada kejuaraan provinsi taekwondo Indonesia Jatim yang dilaksanakan di GOR Mastrip, Kota Probolinggo, 27 Maret lalu.

Prestasi sebanyak itu tidak hanya diraih melalui latihan keras. Allmira juga harus merasakan sakit akibat pertandingan maupun penambahan jam latihan menjelang kejuaraan. Sering kali dia mengalami keseleo pada kaki, bahkan sebelum pertandingan dimulai. ”Mau bagaimana lagi, saya paksakan kaki untuk menghajar lawan meskipun sakit banget,” ujar siswa SMPN 3 Malang itu sambil menunjukkan kaki kanannya yang masih merasakan sakit hingga kemarin. Allmira juga masih kerap merasa gugup sebelum bertanding.

Apalagi orang tuanya selalu ikut menyaksikan, dia takut mengecewakan jika kalah. ”Sebelum tanding saya biasanya mendengarkan lagu Permission to Dance atau Butter,” ujar dara penggemar BTS, grup vokal pria asal Korea Selatan, itu. Yang patut diapresiasi dari Allmira adalah kemampuannya untuk tetap berprestasi di bidang akademik. Meski sangat sibuk dengan latihan dan kejuaraan Taekwondo, dia tetap sering masuk dalam peringkat tiga besar di kelasnya. ”Saya terbiasa menyusun apa-apa yang harus dikerjakan di otak saya. Biar sekolah jalan, les jalan, taekwondo jalan,” imbuhnya. Saat ditanya tentang cita-citanya, Allmira sudah bisa menjawab dengan mantap. ”Untuk saat ini, saya bercita-cita menjadi atlet taekwondo. Tidak tahu nanti apakah tetap atau ganti. Saya ingin menikmati apa yang saya jalani sekarang,” pungkas. (mit/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/