22 C
Malang
Sunday, 4 June 2023

Adelaide Callista Wongsohardjo, Raih Dua Medali di SEA Games 2023

Ukir Sejarah, Bawa Emas Pertama sejak 1959

Usianya belum genap 22 tahun. Tapi Adelaide Callista Wongsohardjo sudah mengharumkan nama Indonesia di Asia Tenggara. Gadis asal Malang mengantarkan tim basket putri memenangkan pertandingan di ajang SEA Games 2023 di Kamboja, 5-17 Mei lalu.

ANDIKA SATRIA PERDANA

GERAKAN Adelaide lincah saat mengecoh lawan.

Kemampuan mengecoh dan membawa bola itu menjadi modal gadis 22 tahun mengantarkan tim basket putri Indonesia meraih emas di ajang SEA Games 2023 di Kamboja, 5-17 Mei lalu.

Tentu, pemain lain yang tergabung dalam tim basket putri juga punya andil besar.

”Medali emas ini saya persembahkan untuk almarhum papa saya yang telah mengenalkan dunia basket ini,” tutur perempuan yang akrab disapa Ledi itu, Minggu lalu (21/5).

Di sela-sela euforia perayaan gelar juara di Jakarta, dia menyempatkan waktu untuk berbagi kisah dengan Jawa Pos Radar Malang.

Keberhasilan tim basket putri meraih emas sekaligus mengukir sejarah.

Itu merupakan emas pertama untuk tim basket putri sejak SEA Games kali pertama digelar pada 1959 silam.

Penantian 64 tahun itu akhirnya membuahkan hasil.

Dalam ajang dua tahunan di Phnom Penh, Kamboja, Ledi meraih dua medali.

Yakni perunggu untuk nomor basket 3 lawan 3 dan emas untuk nomor basket 5 lawan 5.

Posisi Adelaide di timnas putri, yakni point guard (PG) atau playmaker.

Kepiawaian Ledi bermain basket mengalir dari darah ayahnya, Frans Antono.

Ketika muda, Frans tergabung dalam klub basket Bima Sakti Malang.

Meski terlahir dari keluarga pebasket, Ledi yang menjadi pemain termuda di skuad juara itu berlatih ekstra keras.

Sebelum bertanding di Kamboja, mereka menjalani training center (pemusatan latihan) selama sembilan bulan.

”Semua sudah kami lalui bersama selama TC. Ada rasa capek, menangis, dan senang. Saat tanding, kami berjuang mau menang di setiap game,” ungkapnya.

Ledi sudah meyakini akan meraih juara ketika baru mendarat di Kamboja.

Itu berkaca pada raihan SEA Games 2021 lalu di Vietnam.

Di mana mereka hanya kalah dengan Filipina.

Dan benar saja, timnas basket putri mampu mengalahkan Filipina di ajang tahun ini.

Serta menyapu bersih enam laga dengan kemenangan.

”Pelatih meyakinkan kami untuk main all out dan punya fighting spirit hingga menit akhir. Karena itu yang menentukan siapa yang menjadi juara,” katanya.

”Semua tim pastinya ingin menang. Dua hal itu yang kami pegang dan kami lakukan di lapangan. Puji Tuhan bisa meraih semua kemenangan,” tambah pebasket kelahiran Malang, Oktober 2001 itu.

Selama sembilan bulan tersebut, mereka tidak pernah libur latihan.

Ada satu porsi latihan yang menurutnya paling berat, yakni latihan menembak (shooting).

Dalam latihan itu, dia bersama tiga temannya harus menembak dan masuk ke ring berturut-turut.

Jika ada satu pemain yang tembakannya meleset, semua tim harus mengulang dari awal.

”Kami sempat mengulang terus sampai dua jam, kondisinya lari terus,” ungkap mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) itu.

Yang menjadi lebih spesial, tahun ini Ledi menjadi starting five atau pemain inti di timnas.

Ini merupakan tantangan tersendiri baginya.

Sebagai playmaker dan pemain paling muda, dia harus mengatur rekannya yang lebih senior.

”Pelatih menekankan, meski saya pemain termuda, tapi tidak boleh sungkan ke senior. Sebagai point guard, tugasnya memang mengatur jalannya bola. Saya tidak memarahi, cuma memberi arahan posisi mereka kurang benar,” papar Ledi.

Dia merasakan perbedaan ketika menjadi pemain inti.

Yaitu dia harus lebih fokus mulai awal laga.

Berbeda ketika dia masih menjadi cadangan, dia masih bisa mengamati jalannya pertandingan dari bangku cadangan.

Tantangan lain yang dirasakan Ledi, dia bermain di suhu yang panas.

Ketika bertanding di ajang SEA Games, suhu Phnom Penh, Kamboja menembus 38 derajat celsius.

Dia sempat dehidrasi dan kepalanya pusing.

”Untungnya cuma beberapa hari awal yang terasa panas banget. Hari berikutnya agak berawan dan sempat hujan,” ungkap pemain klub GMC Cirebon itu.

Setelah menjuarai SEA Games, Ledi belum berpikir melanjutkan karier di luar negeri.

Dia ingin fokus menamatkan kuliahnya yang sempat terbengkalai, karena fokus menjalani TC SEA Games.

”Tapi ke depan pastinya ingin main di mancanegara,” kata dia.(*/dan)

Ukir Sejarah, Bawa Emas Pertama sejak 1959

Usianya belum genap 22 tahun. Tapi Adelaide Callista Wongsohardjo sudah mengharumkan nama Indonesia di Asia Tenggara. Gadis asal Malang mengantarkan tim basket putri memenangkan pertandingan di ajang SEA Games 2023 di Kamboja, 5-17 Mei lalu.

ANDIKA SATRIA PERDANA

GERAKAN Adelaide lincah saat mengecoh lawan.

Kemampuan mengecoh dan membawa bola itu menjadi modal gadis 22 tahun mengantarkan tim basket putri Indonesia meraih emas di ajang SEA Games 2023 di Kamboja, 5-17 Mei lalu.

Tentu, pemain lain yang tergabung dalam tim basket putri juga punya andil besar.

”Medali emas ini saya persembahkan untuk almarhum papa saya yang telah mengenalkan dunia basket ini,” tutur perempuan yang akrab disapa Ledi itu, Minggu lalu (21/5).

Di sela-sela euforia perayaan gelar juara di Jakarta, dia menyempatkan waktu untuk berbagi kisah dengan Jawa Pos Radar Malang.

Keberhasilan tim basket putri meraih emas sekaligus mengukir sejarah.

Itu merupakan emas pertama untuk tim basket putri sejak SEA Games kali pertama digelar pada 1959 silam.

Penantian 64 tahun itu akhirnya membuahkan hasil.

Dalam ajang dua tahunan di Phnom Penh, Kamboja, Ledi meraih dua medali.

Yakni perunggu untuk nomor basket 3 lawan 3 dan emas untuk nomor basket 5 lawan 5.

Posisi Adelaide di timnas putri, yakni point guard (PG) atau playmaker.

Kepiawaian Ledi bermain basket mengalir dari darah ayahnya, Frans Antono.

Ketika muda, Frans tergabung dalam klub basket Bima Sakti Malang.

Meski terlahir dari keluarga pebasket, Ledi yang menjadi pemain termuda di skuad juara itu berlatih ekstra keras.

Sebelum bertanding di Kamboja, mereka menjalani training center (pemusatan latihan) selama sembilan bulan.

”Semua sudah kami lalui bersama selama TC. Ada rasa capek, menangis, dan senang. Saat tanding, kami berjuang mau menang di setiap game,” ungkapnya.

Ledi sudah meyakini akan meraih juara ketika baru mendarat di Kamboja.

Itu berkaca pada raihan SEA Games 2021 lalu di Vietnam.

Di mana mereka hanya kalah dengan Filipina.

Dan benar saja, timnas basket putri mampu mengalahkan Filipina di ajang tahun ini.

Serta menyapu bersih enam laga dengan kemenangan.

”Pelatih meyakinkan kami untuk main all out dan punya fighting spirit hingga menit akhir. Karena itu yang menentukan siapa yang menjadi juara,” katanya.

”Semua tim pastinya ingin menang. Dua hal itu yang kami pegang dan kami lakukan di lapangan. Puji Tuhan bisa meraih semua kemenangan,” tambah pebasket kelahiran Malang, Oktober 2001 itu.

Selama sembilan bulan tersebut, mereka tidak pernah libur latihan.

Ada satu porsi latihan yang menurutnya paling berat, yakni latihan menembak (shooting).

Dalam latihan itu, dia bersama tiga temannya harus menembak dan masuk ke ring berturut-turut.

Jika ada satu pemain yang tembakannya meleset, semua tim harus mengulang dari awal.

”Kami sempat mengulang terus sampai dua jam, kondisinya lari terus,” ungkap mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) itu.

Yang menjadi lebih spesial, tahun ini Ledi menjadi starting five atau pemain inti di timnas.

Ini merupakan tantangan tersendiri baginya.

Sebagai playmaker dan pemain paling muda, dia harus mengatur rekannya yang lebih senior.

”Pelatih menekankan, meski saya pemain termuda, tapi tidak boleh sungkan ke senior. Sebagai point guard, tugasnya memang mengatur jalannya bola. Saya tidak memarahi, cuma memberi arahan posisi mereka kurang benar,” papar Ledi.

Dia merasakan perbedaan ketika menjadi pemain inti.

Yaitu dia harus lebih fokus mulai awal laga.

Berbeda ketika dia masih menjadi cadangan, dia masih bisa mengamati jalannya pertandingan dari bangku cadangan.

Tantangan lain yang dirasakan Ledi, dia bermain di suhu yang panas.

Ketika bertanding di ajang SEA Games, suhu Phnom Penh, Kamboja menembus 38 derajat celsius.

Dia sempat dehidrasi dan kepalanya pusing.

”Untungnya cuma beberapa hari awal yang terasa panas banget. Hari berikutnya agak berawan dan sempat hujan,” ungkap pemain klub GMC Cirebon itu.

Setelah menjuarai SEA Games, Ledi belum berpikir melanjutkan karier di luar negeri.

Dia ingin fokus menamatkan kuliahnya yang sempat terbengkalai, karena fokus menjalani TC SEA Games.

”Tapi ke depan pastinya ingin main di mancanegara,” kata dia.(*/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru