alexametrics
18.6 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Romo Peter Bruno Sarbini, Agen Toleransi Beragama di Keuskupan Malang

Romo Sarbini datang bersama rombongan frater, romo dan suster. Romo Sarbini sendiri memakai baju abu-abu dengan kolar di lehernya. Kolar adalah kerah berwarna putih yang melingkar di leher imam atau pastur. Sementara, penutup kepalanya adalah peci hitam dengan corak hijau. Cuma dia yang pakai peci. Para tokoh pimpinan Katolik di Malang yang lain memakai busana keagamaan Katolik. Rombongan tokoh Katolik Malang ini datang mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Gus Zain tampak dengan penuh kebahagiaan menyambut Romo Sarbini.

Dengan penuh sukacita, mereka juga makan sembari duduk bersama. Doa secara Islam pun dipanjatkan Gus Zain sebelum makan. Para tokoh agama Katolik yang hadir, berdoa dengan melipat dan menggenggam tangan. Sesaat setelah itu, Alfatihah dari Gus Zain berakhir. Tanda salib di kepala dan dada para romo serta frater pun menutup doa makan

Suasana toleransi begitu kental dalam pertemuan ini di meja hidangan tersebut. Romo Sarbini mengakui, bahwa seperti inilah tugasnya sebagai ketua Komisi HAK Keuskupan Malang. ”Sejak lima tahun lalu, saya memang Ketua Komisi HAK Keuskupan Malang. Saya ditunjuk oleh Uskup Malang, Mgr Henricus Pidyarto Gunawan O Carm. Komisi saya, mendorong bagaimana gereja Katolik menjalin hubungan antar-agama. Itu mulai dari Kota Batu sampai Kabupaten Banyuwangi. Karena, ini memang wilayah Keuskupan Malang,” ujar Romo Sarbini, Senin pagi kemarin.

Di kalangan tokoh berbagai agama, Romo Sarbini dikenal sebagai agen toleransi. Demi menjaga kerukunan, Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Malang itu, begitu aktif mendatangi para tokoh agama lain. Khususnya saat agama lain merayakan hari besarnya.

Ditemui di rumahnya Jalan Terusan Rajabasa, Pisangcandi, Sukun, Romo Sarbini menjelaskan tugas komisinya. Kunjungan ke Ponpes Az Zainy hanyalah salah satu wujud tugas komisi tersebut. Menurutnya, sikap gereja Katolik yang terbuka dengan hubungan antaragama, tak lepas dari konsili tahun 1962-1965. Konsili II Vatikan tersebut mereformasi cara pandang gereja dalam menghadapi perkembangan dunia.

Dari sinilah, hubungan lintas agama mulai didorong. Gereja Katolik tidak boleh alergi dengan relasi antaragama. Sikap terbuka ini berpengaruh sampai ke Indonesia, termasuk Malang. Apalagi, Indonesia mempunyai populasi Islam terbanyak di dunia. ”Gereja Katolik menghormati, menghargai semua agama, Islam, Kristen non-Katolik, Buddha, Hindu, dan kepercayaan lain. Ini diwujudkan termasuk di Malang. Karena itu, kami bersinergi, berkolaborasi dan membangun relasi agar hubungan lintas agama terjaga,” kata pemegang gelar magister tarbiyah Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.

Dalam komisi HAK, Sarbini membuat banyak kegiatan antaragama bersifat sosial kemasyarakatan. Misalnya, gotong royong, kerja bakti dan penghijauan. Kemudian, demi saling mengenal antaragama, dia juga acapkali membangun forum diskusi. Tetapi, sifatnya adalah pendalaman dan pemahaman. Romo Sarbini menegaskan, dia tidak menyediakan forum debat. ”Bulan lalu, kami bikin sarasehan untuk memahami agama Konghucu.

Beberapa waktu sebelum ini, kita juga buat pendalaman soal Hindu. Sarasehan ini diikuti lintas-agama. Tujuannya memahami dan saling mengenal ya, bukan berdebat. Misi kita adalah membuka pemikiran, agar tidak narrow minded,” tambah pria kelahiran 20 Mei 1963 tersebut. Menurut Sarbini, kunjungan ke ponpes asuhan Gus Zain juga bagian dari tugas komisi HAK Keuskupan Malang. Ini juga berlaku bagi agama lain yang merayakan hari besar.

Usai umat Hindu merayakan Nyepi, dia bersama tokoh lintas-agama, punya tradisi berkunjung silaturahmi dan memberi ucapan selamat. Begitu pun, saat Konghucu dan Buddha merayakan hari besarnya, Sarbini mengaku pasti berkunjung. Selain membangun kerukunan, dia acapkali mengajak kerjasama. Sebab, menurut pria kelahiran Yogyakarta itu, sekarang ini kerukunan antaragama saja tidak cukup. Harus ada jalinan komunikasi yang intens. ”Agar semakin akrab, kita harus kerjasama.

Karena itu, saya sering bikin acara bersama, misalnya vaksinasi beberapa waktu lalu. Itu gabungan antarumat beragama. Komunikasi dan kerjasama ini yang bisa memperkuat hubungan antar-agama,” ujar dosen filsafat Islam di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang itu. Tidak hanya di komisi HAK, gereja Katolik juga mendorong pemahaman tentang agama lain di kampus. Kebetulan, ada kampus teologi Katolik di dekat rumah Romo Sarbini.

Di situ juga, dia mengajar sebagai dosen. Dalam salah satu kurikulum, para calon romo dan frater, harus live in atau hidup bersama dengan komunitas agama lain. ”Ada yang live in di komunitas Hindu, ada yang di Buddha, ada juga yang ke pesantren Islam. Ini untuk mengenal keseharian umat beragama yang lain. Di situ ada semangat saling bekerjasama dan belajar memahami. Ini juga sekaligus membuka pikiran calon romo Katolik agar mempunyai pandangan yang luas,” jelas pria yang ditahbiskan sebagai romo pada 1991 ini.

Dia berharap, program Komisi HAK Keuskupan Malang, bisa mendorong toleransi keberagaman di Malang. Sehingga, ke depan, mengutip ucapan Gus Zain, Malang tidak lagi menjadi miniatur Indonesia, tetapi, malah menjadi wajah toleransi Indonesia yang sesungguhnya. ”Malang sudah baik, tetapi bisa ditingkatkan. Bukan cuma tokoh agama saja, tetapi harus sampai grass root. Pandangan sempit itu harus kita kikis dan bongkar secara perlahan tapi pasti. Agar seluruh umat beragama semakin berani menjalin relasi antaragama,” papar pemegang gelar sarjana filsafat teologi itu. (fin/abm)

Romo Sarbini datang bersama rombongan frater, romo dan suster. Romo Sarbini sendiri memakai baju abu-abu dengan kolar di lehernya. Kolar adalah kerah berwarna putih yang melingkar di leher imam atau pastur. Sementara, penutup kepalanya adalah peci hitam dengan corak hijau. Cuma dia yang pakai peci. Para tokoh pimpinan Katolik di Malang yang lain memakai busana keagamaan Katolik. Rombongan tokoh Katolik Malang ini datang mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Gus Zain tampak dengan penuh kebahagiaan menyambut Romo Sarbini.

Dengan penuh sukacita, mereka juga makan sembari duduk bersama. Doa secara Islam pun dipanjatkan Gus Zain sebelum makan. Para tokoh agama Katolik yang hadir, berdoa dengan melipat dan menggenggam tangan. Sesaat setelah itu, Alfatihah dari Gus Zain berakhir. Tanda salib di kepala dan dada para romo serta frater pun menutup doa makan

Suasana toleransi begitu kental dalam pertemuan ini di meja hidangan tersebut. Romo Sarbini mengakui, bahwa seperti inilah tugasnya sebagai ketua Komisi HAK Keuskupan Malang. ”Sejak lima tahun lalu, saya memang Ketua Komisi HAK Keuskupan Malang. Saya ditunjuk oleh Uskup Malang, Mgr Henricus Pidyarto Gunawan O Carm. Komisi saya, mendorong bagaimana gereja Katolik menjalin hubungan antar-agama. Itu mulai dari Kota Batu sampai Kabupaten Banyuwangi. Karena, ini memang wilayah Keuskupan Malang,” ujar Romo Sarbini, Senin pagi kemarin.

Di kalangan tokoh berbagai agama, Romo Sarbini dikenal sebagai agen toleransi. Demi menjaga kerukunan, Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Malang itu, begitu aktif mendatangi para tokoh agama lain. Khususnya saat agama lain merayakan hari besarnya.

Ditemui di rumahnya Jalan Terusan Rajabasa, Pisangcandi, Sukun, Romo Sarbini menjelaskan tugas komisinya. Kunjungan ke Ponpes Az Zainy hanyalah salah satu wujud tugas komisi tersebut. Menurutnya, sikap gereja Katolik yang terbuka dengan hubungan antaragama, tak lepas dari konsili tahun 1962-1965. Konsili II Vatikan tersebut mereformasi cara pandang gereja dalam menghadapi perkembangan dunia.

Dari sinilah, hubungan lintas agama mulai didorong. Gereja Katolik tidak boleh alergi dengan relasi antaragama. Sikap terbuka ini berpengaruh sampai ke Indonesia, termasuk Malang. Apalagi, Indonesia mempunyai populasi Islam terbanyak di dunia. ”Gereja Katolik menghormati, menghargai semua agama, Islam, Kristen non-Katolik, Buddha, Hindu, dan kepercayaan lain. Ini diwujudkan termasuk di Malang. Karena itu, kami bersinergi, berkolaborasi dan membangun relasi agar hubungan lintas agama terjaga,” kata pemegang gelar magister tarbiyah Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.

Dalam komisi HAK, Sarbini membuat banyak kegiatan antaragama bersifat sosial kemasyarakatan. Misalnya, gotong royong, kerja bakti dan penghijauan. Kemudian, demi saling mengenal antaragama, dia juga acapkali membangun forum diskusi. Tetapi, sifatnya adalah pendalaman dan pemahaman. Romo Sarbini menegaskan, dia tidak menyediakan forum debat. ”Bulan lalu, kami bikin sarasehan untuk memahami agama Konghucu.

Beberapa waktu sebelum ini, kita juga buat pendalaman soal Hindu. Sarasehan ini diikuti lintas-agama. Tujuannya memahami dan saling mengenal ya, bukan berdebat. Misi kita adalah membuka pemikiran, agar tidak narrow minded,” tambah pria kelahiran 20 Mei 1963 tersebut. Menurut Sarbini, kunjungan ke ponpes asuhan Gus Zain juga bagian dari tugas komisi HAK Keuskupan Malang. Ini juga berlaku bagi agama lain yang merayakan hari besar.

Usai umat Hindu merayakan Nyepi, dia bersama tokoh lintas-agama, punya tradisi berkunjung silaturahmi dan memberi ucapan selamat. Begitu pun, saat Konghucu dan Buddha merayakan hari besarnya, Sarbini mengaku pasti berkunjung. Selain membangun kerukunan, dia acapkali mengajak kerjasama. Sebab, menurut pria kelahiran Yogyakarta itu, sekarang ini kerukunan antaragama saja tidak cukup. Harus ada jalinan komunikasi yang intens. ”Agar semakin akrab, kita harus kerjasama.

Karena itu, saya sering bikin acara bersama, misalnya vaksinasi beberapa waktu lalu. Itu gabungan antarumat beragama. Komunikasi dan kerjasama ini yang bisa memperkuat hubungan antar-agama,” ujar dosen filsafat Islam di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang itu. Tidak hanya di komisi HAK, gereja Katolik juga mendorong pemahaman tentang agama lain di kampus. Kebetulan, ada kampus teologi Katolik di dekat rumah Romo Sarbini.

Di situ juga, dia mengajar sebagai dosen. Dalam salah satu kurikulum, para calon romo dan frater, harus live in atau hidup bersama dengan komunitas agama lain. ”Ada yang live in di komunitas Hindu, ada yang di Buddha, ada juga yang ke pesantren Islam. Ini untuk mengenal keseharian umat beragama yang lain. Di situ ada semangat saling bekerjasama dan belajar memahami. Ini juga sekaligus membuka pikiran calon romo Katolik agar mempunyai pandangan yang luas,” jelas pria yang ditahbiskan sebagai romo pada 1991 ini.

Dia berharap, program Komisi HAK Keuskupan Malang, bisa mendorong toleransi keberagaman di Malang. Sehingga, ke depan, mengutip ucapan Gus Zain, Malang tidak lagi menjadi miniatur Indonesia, tetapi, malah menjadi wajah toleransi Indonesia yang sesungguhnya. ”Malang sudah baik, tetapi bisa ditingkatkan. Bukan cuma tokoh agama saja, tetapi harus sampai grass root. Pandangan sempit itu harus kita kikis dan bongkar secara perlahan tapi pasti. Agar seluruh umat beragama semakin berani menjalin relasi antaragama,” papar pemegang gelar sarjana filsafat teologi itu. (fin/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/