alexametrics
22.7 C
Malang
Monday, 27 June 2022

10 Bulan Lalu Jadi Rival, Kini Antar Singo Edan Putri Juara

Jalan hidup Nabilah Fitriyah bisa dibilang unik. Pada 2019 lalu dia masih jadi pemain Persebaya Putri. Sekarang dia sosok sukses mengantarkan Ongis Nade Kodew Juara Turnamen Nasional Piala Gubernur DKI Jakarta (18/6) lalu. Capaian itu begitu spesial karena diraih dalam kondisi persiapan minim dan banyak pemain yang eksodus.

– GALIH R PRASETYO –

Pandangan Nabilah Fitriyah menerawang ke atas. Dia terlihat sedang mengenang capaian di Piala Gubernur DKI Jakarta Minggu (18/6) lalu. Juru taktik lisensi C AFC tersebut mengatakan masih ada rasa tidak percaya bisa berada pada titik saat ini. Apalagi pada Agustus 2021 lalu masih menjadi pemain Persebaya Putri yang tampil Anniversary Cup Women Solidarity. Di mana salah satu lawan adalah Arema FC Women. Dia baru mulai pertualangannya sebagai pelatih Ongis Nade Kodew Januari 2022 lalu.

”Ibaratnya baru kemarin belajar mengucapkan Salam Satu Jiwa. Sekarang bisa mendapatkan kesempatan bantu Arema FC Women menjadi juara,”jelas dara yang kerap disapa Ibul tersebut kepada wartawan koran ini sembari tertawa. Karenanya dia mengaku banyak-banyak bersyukur dengan apa yang didapatkan saat ini. Meski sebelumnya tidak pernah berpikir ada pada momen tersebut, namun hal tersebut dinilai Ibul membuatnya tambah semangat menampaki jalur pelatih.

Meraih hasil juara, menurut alumnus Universitas Negeri Surabaya tersebut mengatakan kalau tidak semudah memejamkan mata. Karena sejak awal mengikuti turnamen ada banyak tantangan yang menghadang. Tim asuhannya melakukan persiapan hanya seminggu. Itu pun dia dituntut meramu skuad antara senior dan junior setelah sejumlah pemain keluar dan  langsung ditarget juara oleh manajemen. Padahal ini adalah pertama kali dia jadi pelatih kepala.

Tantangan tersebut  semakin bertambah suram tatkala di laga pertama Piala Gubernur DKI Jakarta langsung kalah telak. Di mana Sheva Imut dan kawan-kawan dibantai Akademi Persib Bandung Putri dengan skor 1-5. Ini menjadi kekalahan telak pertama didapatkan tim selama beberapa tahun mengikuti turnamen di Indonesia. Akibatnya, kondisi tim langsung berubah 180 derajat. Dari termotivasi berprestasi menjadi lesu dan berpikir kalau semua sudah berakhir.

”Setelah pertandingan tersebut saya tidak bisa tidur. Makan juga sudah tidak enak,”kenang Ibul.

Menurutnya mengangkat telepon dari manager tim juga terasa berat. Sebab, dinilainya bukan hal mudah menjelaskan hasil tersebut. Tim kalah karena beberapa faktor. Mulai recovery tidak berjalan baik karena baru datang ke Jakarta H-1 pukul 20.00 WIB. Lalu ada beberapa keputusan pengadil lapangan kurang bagus.

Namun saat itu tujuan awal datang ke turnamen tersebut membangkit semangat pemain. Di mana eks pemain Persebaya Putri ini menilai kalau apa yang terjadi di laga pertama adalah kerikil kecil yang menghadang langkahnya berprestasi. Lewat hal tersebut, Ibul mengaku kalau mengubah pemikirannya akan hasil kurang baik di laga awal Piala Gubernur DKI Jakarta itu sebagai tantangan untuk dihadapi.

Bermodalkan hal tersebut dia langsung mengumpulkan para pemain dan melakukan pendekatan berbeda. Dia mengandakan sharing dan diskusi sebelum laga selanjutnya. Menurutnya dari situ semua pemain bisa berbagi keluh dan kesah akan terjadi di laga sebelumnya. Lalu bisa saling memberikan masukan demi kebaikan. Namun, melakukan itu juga tantangan untuknya. Sebab, selama ini Ibul merupakan orang lebih diam dan hanya berbicara untuk hal penting saja.

Meski membutuhkan effort, namun langkah tersebut manjur. Di mana Arema FC Women benar-benar bangkit di laga selanjutnya. Dimulai dari menang 7-0 dari Rocket FC Jakarta. Lalu puncaknya adalah mengalahkan Banteng Muda Indonesia Tangerang di babak semifinal. Dalam laga tersebut mereka mampu menang dengan skor 1-0. Ketika itu kesebelasan yang biasa disebut BMIFA itu banyak dihuni pemain Timnas Putri. Seperti Carla Bio Pattinasarany, Zahra Muzdalifah, sampai Shalika Aurelia.

”Cara itu membuat pemain termotivasi lagi. Lalu saya juga belajar bagaimana menjadi pelatih kepala,”ujar juru taktik yang sempat bermain di Jakarta Matador tersebut.

Selama menjalani ajang tersebut bisa dibilang Ibul banyak menghandle semua tugas sendiri. Sebab, saat tampil di sejumlah laga di ajang tersebut, dia hanya didampingi fisioterapi. Baru di partai final ketambahan manager tim. Pelatih kepala tim Singo Edan Kodew yakni Nanang Habibie berhalangan hadir di laga tersebut karena menjalankan tugas bersama tim Arema FC Women junior.

Lebih lanjut, dalam perjalanannya, menjalani karier di jagat sepak bola rupanya perempuan 25 tahun tersebut tidak hanya mendapatkan tantangan saat kompetisi saja. Sebelumnya, dia sempat mendapatkan banyak kritikan dari sejumlah orang usai memilih bergabung dengan Arema FC tahun ini.

”Instragram saya langsung ramai usai muncul berita saya gabung Arema FC Women,”jelasnnya.

Lantas kenapa tidak bertahan di tim Persebaya Putri saja? Dia menyebut Persebaya Putri tidak mempunyai rencana apa-apa ke depan. Selain itu, pada waktu tersebut Ibul juga sudah menyelesaikan studinya di Fakultas Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Surabaya. Alhasil, dinilai cukup berat jika harus bertahan di Surabaya. Apalagi timnya juga belum mempunyai agenda. ”Saya saat itu profesional saja. Saya pamit juga baik-baik waktu itu,”jelasnya.

Dikisahkan pengagum Lionel Messi tersebut, minat Arema FC Women datang pasca ajang Anniversary Cup Women Solidarity. Di mana pelatih Nanang Habibie yang menawarinya bergabung dengan Arema FC Women. Beberapa waktu bergabung, dia langsung naik menjadi asisten pelatih usai dinilai berkompeten dan sudah mempunyai lisensi C AFC saat ini.

Menurutnya sepanjang melatih ada banyak hal unik yang ditemuinya. Salah satunya adalah para pemain Ongis Nade Kodew  kerap memangilnya dengan sebutan nama, tanpa ada embel-embel coach. Tapi, hal tersebut bisa untuk dimakluminya. Sebab rata-rata pemain Arema FC Women adalah rekan atau dulunya pernah bermain bersama dan menjadi lawan di pertandingan. ”Hal unik lainnya adalah harus melatih pemain yang sebelumnya di Liga 1 Putri 2019 lalu  pernah bersitegang dengan saya,”kenanganya.

Dia sendiri menekuni sepak bola karena sering bermain bola di jalanan. Dia setiap sore ikut anak-anak laki-laki di tempatnya tinggal di Bondowoso. Kebiasaan tersebut membuat suka dan saat duduk di Sekolah Menengah Atas mulai serius berlatih. Di mana ketika itu dia bermain futsal dan sepak bola. Selama menjalani hal tersebut diakuinya penuh perjuangan. Sebab harus pulang pergi Bondowoso dan Jember untuk latihan.

”Dulu sering berangkat kehujanan. Lalu saat latihan cuacanya panas. Atau sebaliknya,”kisahnya.

Saat menjalani aktivitas itu dilakukannya pada tahun 2012 lalu atau  tiga tahun sebelum akhirnya pindah ke Surabaya untuk kuliah. Momen ini membuat semakin mengenal bola dan sempat menjadi pemain futsal dan sepak bola putri Universitas Negeri Surabaya. Salah satu capaian adalah menjadi juara di ajang  Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas).

Nah, karena lingkungan tersebut juga membuatnya berani mengambil lisensi kepelatihan. Pemikirannya karena dia tidak hanya bermain, namun juga berpikir masa depan yakni menjadi pelatih. Selama melatih, dia sempat menjadi asisten pelatih klub Liga 3 Jawa Timur Persebo Muda Bondowoso 2019 lalu. (abm)

 

Jalan hidup Nabilah Fitriyah bisa dibilang unik. Pada 2019 lalu dia masih jadi pemain Persebaya Putri. Sekarang dia sosok sukses mengantarkan Ongis Nade Kodew Juara Turnamen Nasional Piala Gubernur DKI Jakarta (18/6) lalu. Capaian itu begitu spesial karena diraih dalam kondisi persiapan minim dan banyak pemain yang eksodus.

– GALIH R PRASETYO –

Pandangan Nabilah Fitriyah menerawang ke atas. Dia terlihat sedang mengenang capaian di Piala Gubernur DKI Jakarta Minggu (18/6) lalu. Juru taktik lisensi C AFC tersebut mengatakan masih ada rasa tidak percaya bisa berada pada titik saat ini. Apalagi pada Agustus 2021 lalu masih menjadi pemain Persebaya Putri yang tampil Anniversary Cup Women Solidarity. Di mana salah satu lawan adalah Arema FC Women. Dia baru mulai pertualangannya sebagai pelatih Ongis Nade Kodew Januari 2022 lalu.

”Ibaratnya baru kemarin belajar mengucapkan Salam Satu Jiwa. Sekarang bisa mendapatkan kesempatan bantu Arema FC Women menjadi juara,”jelas dara yang kerap disapa Ibul tersebut kepada wartawan koran ini sembari tertawa. Karenanya dia mengaku banyak-banyak bersyukur dengan apa yang didapatkan saat ini. Meski sebelumnya tidak pernah berpikir ada pada momen tersebut, namun hal tersebut dinilai Ibul membuatnya tambah semangat menampaki jalur pelatih.

Meraih hasil juara, menurut alumnus Universitas Negeri Surabaya tersebut mengatakan kalau tidak semudah memejamkan mata. Karena sejak awal mengikuti turnamen ada banyak tantangan yang menghadang. Tim asuhannya melakukan persiapan hanya seminggu. Itu pun dia dituntut meramu skuad antara senior dan junior setelah sejumlah pemain keluar dan  langsung ditarget juara oleh manajemen. Padahal ini adalah pertama kali dia jadi pelatih kepala.

Tantangan tersebut  semakin bertambah suram tatkala di laga pertama Piala Gubernur DKI Jakarta langsung kalah telak. Di mana Sheva Imut dan kawan-kawan dibantai Akademi Persib Bandung Putri dengan skor 1-5. Ini menjadi kekalahan telak pertama didapatkan tim selama beberapa tahun mengikuti turnamen di Indonesia. Akibatnya, kondisi tim langsung berubah 180 derajat. Dari termotivasi berprestasi menjadi lesu dan berpikir kalau semua sudah berakhir.

”Setelah pertandingan tersebut saya tidak bisa tidur. Makan juga sudah tidak enak,”kenang Ibul.

Menurutnya mengangkat telepon dari manager tim juga terasa berat. Sebab, dinilainya bukan hal mudah menjelaskan hasil tersebut. Tim kalah karena beberapa faktor. Mulai recovery tidak berjalan baik karena baru datang ke Jakarta H-1 pukul 20.00 WIB. Lalu ada beberapa keputusan pengadil lapangan kurang bagus.

Namun saat itu tujuan awal datang ke turnamen tersebut membangkit semangat pemain. Di mana eks pemain Persebaya Putri ini menilai kalau apa yang terjadi di laga pertama adalah kerikil kecil yang menghadang langkahnya berprestasi. Lewat hal tersebut, Ibul mengaku kalau mengubah pemikirannya akan hasil kurang baik di laga awal Piala Gubernur DKI Jakarta itu sebagai tantangan untuk dihadapi.

Bermodalkan hal tersebut dia langsung mengumpulkan para pemain dan melakukan pendekatan berbeda. Dia mengandakan sharing dan diskusi sebelum laga selanjutnya. Menurutnya dari situ semua pemain bisa berbagi keluh dan kesah akan terjadi di laga sebelumnya. Lalu bisa saling memberikan masukan demi kebaikan. Namun, melakukan itu juga tantangan untuknya. Sebab, selama ini Ibul merupakan orang lebih diam dan hanya berbicara untuk hal penting saja.

Meski membutuhkan effort, namun langkah tersebut manjur. Di mana Arema FC Women benar-benar bangkit di laga selanjutnya. Dimulai dari menang 7-0 dari Rocket FC Jakarta. Lalu puncaknya adalah mengalahkan Banteng Muda Indonesia Tangerang di babak semifinal. Dalam laga tersebut mereka mampu menang dengan skor 1-0. Ketika itu kesebelasan yang biasa disebut BMIFA itu banyak dihuni pemain Timnas Putri. Seperti Carla Bio Pattinasarany, Zahra Muzdalifah, sampai Shalika Aurelia.

”Cara itu membuat pemain termotivasi lagi. Lalu saya juga belajar bagaimana menjadi pelatih kepala,”ujar juru taktik yang sempat bermain di Jakarta Matador tersebut.

Selama menjalani ajang tersebut bisa dibilang Ibul banyak menghandle semua tugas sendiri. Sebab, saat tampil di sejumlah laga di ajang tersebut, dia hanya didampingi fisioterapi. Baru di partai final ketambahan manager tim. Pelatih kepala tim Singo Edan Kodew yakni Nanang Habibie berhalangan hadir di laga tersebut karena menjalankan tugas bersama tim Arema FC Women junior.

Lebih lanjut, dalam perjalanannya, menjalani karier di jagat sepak bola rupanya perempuan 25 tahun tersebut tidak hanya mendapatkan tantangan saat kompetisi saja. Sebelumnya, dia sempat mendapatkan banyak kritikan dari sejumlah orang usai memilih bergabung dengan Arema FC tahun ini.

”Instragram saya langsung ramai usai muncul berita saya gabung Arema FC Women,”jelasnnya.

Lantas kenapa tidak bertahan di tim Persebaya Putri saja? Dia menyebut Persebaya Putri tidak mempunyai rencana apa-apa ke depan. Selain itu, pada waktu tersebut Ibul juga sudah menyelesaikan studinya di Fakultas Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Surabaya. Alhasil, dinilai cukup berat jika harus bertahan di Surabaya. Apalagi timnya juga belum mempunyai agenda. ”Saya saat itu profesional saja. Saya pamit juga baik-baik waktu itu,”jelasnya.

Dikisahkan pengagum Lionel Messi tersebut, minat Arema FC Women datang pasca ajang Anniversary Cup Women Solidarity. Di mana pelatih Nanang Habibie yang menawarinya bergabung dengan Arema FC Women. Beberapa waktu bergabung, dia langsung naik menjadi asisten pelatih usai dinilai berkompeten dan sudah mempunyai lisensi C AFC saat ini.

Menurutnya sepanjang melatih ada banyak hal unik yang ditemuinya. Salah satunya adalah para pemain Ongis Nade Kodew  kerap memangilnya dengan sebutan nama, tanpa ada embel-embel coach. Tapi, hal tersebut bisa untuk dimakluminya. Sebab rata-rata pemain Arema FC Women adalah rekan atau dulunya pernah bermain bersama dan menjadi lawan di pertandingan. ”Hal unik lainnya adalah harus melatih pemain yang sebelumnya di Liga 1 Putri 2019 lalu  pernah bersitegang dengan saya,”kenanganya.

Dia sendiri menekuni sepak bola karena sering bermain bola di jalanan. Dia setiap sore ikut anak-anak laki-laki di tempatnya tinggal di Bondowoso. Kebiasaan tersebut membuat suka dan saat duduk di Sekolah Menengah Atas mulai serius berlatih. Di mana ketika itu dia bermain futsal dan sepak bola. Selama menjalani hal tersebut diakuinya penuh perjuangan. Sebab harus pulang pergi Bondowoso dan Jember untuk latihan.

”Dulu sering berangkat kehujanan. Lalu saat latihan cuacanya panas. Atau sebaliknya,”kisahnya.

Saat menjalani aktivitas itu dilakukannya pada tahun 2012 lalu atau  tiga tahun sebelum akhirnya pindah ke Surabaya untuk kuliah. Momen ini membuat semakin mengenal bola dan sempat menjadi pemain futsal dan sepak bola putri Universitas Negeri Surabaya. Salah satu capaian adalah menjadi juara di ajang  Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas).

Nah, karena lingkungan tersebut juga membuatnya berani mengambil lisensi kepelatihan. Pemikirannya karena dia tidak hanya bermain, namun juga berpikir masa depan yakni menjadi pelatih. Selama melatih, dia sempat menjadi asisten pelatih klub Liga 3 Jawa Timur Persebo Muda Bondowoso 2019 lalu. (abm)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/