alexametrics
21 C
Malang
Wednesday, 10 August 2022

Saat Lari Kehilangan Rute, Tersesat di Perkebunan

Universitas Islam Malang (Unisma) dan Kota Malang patut bangga pada Shinta Margaretta. Karena dia telah mengukir tinta emas dengan menjadi juara II pada kejuaraan olahraga ekstrem bertajauk Dieng Orienteering Race 2022, Mei lalu.-ANDIKA SATRIA PERDANA-

PERKENALAN Shinta dengan orienteering terjadi pada tahun 2019 lalu. Saat itu, dirinya bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unisma sedang melakukan ekspedisi di Jawa Barat. Ketika singgah di Bekasi, kebetulan ada lomba orienteering yang sedang digelar. Ini adalah olahraga seperti lari dengan rute menyusuri bukit dan turunan tajam dengan rute khusus. Yakni rute yang hanya diketahui dengan kompas atau simbol-simbol tertentu. Jadi, peserta lomba, tidak hanya siap secara fisik, tapi harus paham simbol-simbol agar tidak tersesat.

Dengan rasa penasaran, kemudian Shinta memberanikan diri untuk mencoba mengikuti ajang tersebut.Setelah mencobanya, ternyata dia sangat menikmati dan tertantang untuk terus menekuni olahraga itu. ”Pas disuruh mencoba, ternyata seru karena larilari di medan yang berbeda-beda. Dulu kebetulan pernah jadi atlet lari, ada olahraga ini seperti nostalgia masa lalu,” ungkapnya.

Olahraga ini tujuannya untuk menemukan sejumlah titik di medan yang telah ditentukan. Dengan menggunakan peta buta dan kompas, peserta tercepat dan menemukan titik secara lengkap akan menjadi pemenang. Olahraga orienteering memang masih asing di telinga masyarakat. Namun, olahraga alam bebas ini kian populer seiring dengan banyaknya atlet dan kompetisi yang mewadahi seperti Dieng Orienteering Race 2022 yang diikuti Shinta.

Diceritakan mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam itu, dia pernah mengikuti orienteering di dua medan yang berbeda. Pertama, di perkotaan biasanya digelar di gedung kampus dan yang kedua di hutan. Selain itu, medan lomba juga dapat dikombinasikan, setengah digelar di gedung dan setengahnya lagi di hutan. ”Kalau di hutan pasti susah, pasti ada yang nyasar. Kalau di gedung masih bisa ditandai,” kata Shinta.

Ditambahkannya, pada cabor orienteering ini, peserta hanya diberi dua petunjuk untuk menemukan titik poin. Yakni peta buta dan legenda, dibantu dengan kompas. Usai start, peserta akan dilepas oleh panitia dan menentukan jalur sesuai yang mereka yakini. ”Titik poin itu punya medan dan kontur berbeda, kalau sudah dapat satu, ketagihan cari titik lainnya,” ucap Shinta, dengan nada penuh semangat.

Namun, dalam menemukan titik poin sudah pasti tak sepenuhnya mulus. Shinta mengaku pernah mengalami kondisi blank, pada Kejuaraan Nasional di Jawa Barat tahun 2021 lalu. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih posisinya sedang di mana dan harus melanjutkan perjalanan ke mana. Akhirnya, lamakelamaan dia menyadari kalau jalan yang dilaluinya menyimpang dari trek yang ditentukan. Shinta turun terlalu jauh, hingga masuk ke perkebunan warga yang tidak ada petunjuknya di peta buta. Dia tersesat. ”Akhirnya saya balik lagi ke atas (bukit), itu membutuhkan tenaga ekstra. Tapi harus seperti itu, kalau nyasar peserta harus kembali ke trek sendiri,” tuturnya.

Tak jarang dikatakan arek Karangploso itu, ada beberapa peserta yang tidak bisa kembali atau sampai garis finish. Hal itu membuat panitia harus menurunkan tim SAR (regu penyelamat) untuk mencari keberadaan peserta yang hilang. Beruntung, Shinta belum pernah hilang sampai dicari dengan regu penyelamat. ”Olahraga ini selain menuntut fisik yang bagus, juga dibutuhkan konsentrasi meski dalam kondisi lelah. Jadi meskipun lelah sudah lari jauh, tidak boleh blank atau salah, karena bisa tersesat jauh dari trek yang sudah ditentukan,” jelasnya.

Dengan risiko hilang dan bisa saja tidak ditemukan, Shinta sudah siap dengan segala kemungkinan. Tetapi, risiko itu tentunya sempat membuat orang tua Shinta khawatir. Dia sempat mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Namun seiring dengan prestasi yang ditunjukkan, akhirnya dia mendapat dukungan untuk meneruskan hobinya itu. ”Awalnya itu ngomong ikut lomba lari aja, bukan orienteering supaya diizinkan. Alhamdulillah saat ini sudah didukung oleh orang tua,” ungkap lulusan MAN Kota Batu itu dengan tertawa kecil.

Selain risiko hilang, kemungkinan cedera sudah pasti menghantui atlet orienteering. Diungkapkan perempuan kelahiran 1999 itu, sebelum berlaga pada Kejuaraan Dieng Race, Shinta dalam kondisi tidak fit. Karena saat latihan H-3 menjelang kejuaraan terjadi salah tumpuan. Sehingga membuat telapak kakinya keseleo dan sulit untuk berjalan. Hingga akhirnya pada hari perlombaan, seluruh telapak kakinya ditempel koyo untuk menghilangkan rasa sakit. ”Alhamdulillah masih diberi juara 2, pas lomba itu ya udah gak ngerasa sakit. Seperti langsung hilang,” tuturnya.

Pada kejuaraan nasional itu, Shinta sebenarnya tidak menyangka bisa menjadi runner up. Awalnya, dia hanya menarget maksimal menyabet peringkat ketiga. Karena merasa minder, lawan yang dihadapinya merupakan atlet elit nasional. Namun dalam kenyataannya, dia malah menjadi juara 2 dan berhasil menyingkirkan beberapa atlet senior dan kaliber nasional. ”Ditanamkan ke hati, lawan yang terberat adalah diri sendiri. Meskipun dalam pikiran itu seperti tidak mungkin, karena belum fit dan lawannya berat,” kata perempuan berzodiak pisces itu.

Kemenangannya itu nampaknya juga tidak terlepas dari karakteristik orienteering yang berbeda dengan olahraga lain. Di mana, peserta yang tercepat belum tentu akan menjadi pemenang. Pemenang lebih ditentukan ketepatan peserta dalam menemukan titik poin yang ditentukan. Jika satu poin saja terlewat, meskipun peserta itu datang pertama, maka akan didiskualifikasi. Karena tidak mampu menemukan seluruh titik yang ditentukan oleh panitia. ”Jadi selain kecepatan, juga butuh ketepatan,” tutup Shinta.

Selanjutnya, arek asli Malang ini tengah mempersiapkan diri untuk berlaga di ajang Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) ke-6. Akan digelar di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), bulan Juli mendatang. (abm)

Universitas Islam Malang (Unisma) dan Kota Malang patut bangga pada Shinta Margaretta. Karena dia telah mengukir tinta emas dengan menjadi juara II pada kejuaraan olahraga ekstrem bertajauk Dieng Orienteering Race 2022, Mei lalu.-ANDIKA SATRIA PERDANA-

PERKENALAN Shinta dengan orienteering terjadi pada tahun 2019 lalu. Saat itu, dirinya bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unisma sedang melakukan ekspedisi di Jawa Barat. Ketika singgah di Bekasi, kebetulan ada lomba orienteering yang sedang digelar. Ini adalah olahraga seperti lari dengan rute menyusuri bukit dan turunan tajam dengan rute khusus. Yakni rute yang hanya diketahui dengan kompas atau simbol-simbol tertentu. Jadi, peserta lomba, tidak hanya siap secara fisik, tapi harus paham simbol-simbol agar tidak tersesat.

Dengan rasa penasaran, kemudian Shinta memberanikan diri untuk mencoba mengikuti ajang tersebut.Setelah mencobanya, ternyata dia sangat menikmati dan tertantang untuk terus menekuni olahraga itu. ”Pas disuruh mencoba, ternyata seru karena larilari di medan yang berbeda-beda. Dulu kebetulan pernah jadi atlet lari, ada olahraga ini seperti nostalgia masa lalu,” ungkapnya.

Olahraga ini tujuannya untuk menemukan sejumlah titik di medan yang telah ditentukan. Dengan menggunakan peta buta dan kompas, peserta tercepat dan menemukan titik secara lengkap akan menjadi pemenang. Olahraga orienteering memang masih asing di telinga masyarakat. Namun, olahraga alam bebas ini kian populer seiring dengan banyaknya atlet dan kompetisi yang mewadahi seperti Dieng Orienteering Race 2022 yang diikuti Shinta.

Diceritakan mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam itu, dia pernah mengikuti orienteering di dua medan yang berbeda. Pertama, di perkotaan biasanya digelar di gedung kampus dan yang kedua di hutan. Selain itu, medan lomba juga dapat dikombinasikan, setengah digelar di gedung dan setengahnya lagi di hutan. ”Kalau di hutan pasti susah, pasti ada yang nyasar. Kalau di gedung masih bisa ditandai,” kata Shinta.

Ditambahkannya, pada cabor orienteering ini, peserta hanya diberi dua petunjuk untuk menemukan titik poin. Yakni peta buta dan legenda, dibantu dengan kompas. Usai start, peserta akan dilepas oleh panitia dan menentukan jalur sesuai yang mereka yakini. ”Titik poin itu punya medan dan kontur berbeda, kalau sudah dapat satu, ketagihan cari titik lainnya,” ucap Shinta, dengan nada penuh semangat.

Namun, dalam menemukan titik poin sudah pasti tak sepenuhnya mulus. Shinta mengaku pernah mengalami kondisi blank, pada Kejuaraan Nasional di Jawa Barat tahun 2021 lalu. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih posisinya sedang di mana dan harus melanjutkan perjalanan ke mana. Akhirnya, lamakelamaan dia menyadari kalau jalan yang dilaluinya menyimpang dari trek yang ditentukan. Shinta turun terlalu jauh, hingga masuk ke perkebunan warga yang tidak ada petunjuknya di peta buta. Dia tersesat. ”Akhirnya saya balik lagi ke atas (bukit), itu membutuhkan tenaga ekstra. Tapi harus seperti itu, kalau nyasar peserta harus kembali ke trek sendiri,” tuturnya.

Tak jarang dikatakan arek Karangploso itu, ada beberapa peserta yang tidak bisa kembali atau sampai garis finish. Hal itu membuat panitia harus menurunkan tim SAR (regu penyelamat) untuk mencari keberadaan peserta yang hilang. Beruntung, Shinta belum pernah hilang sampai dicari dengan regu penyelamat. ”Olahraga ini selain menuntut fisik yang bagus, juga dibutuhkan konsentrasi meski dalam kondisi lelah. Jadi meskipun lelah sudah lari jauh, tidak boleh blank atau salah, karena bisa tersesat jauh dari trek yang sudah ditentukan,” jelasnya.

Dengan risiko hilang dan bisa saja tidak ditemukan, Shinta sudah siap dengan segala kemungkinan. Tetapi, risiko itu tentunya sempat membuat orang tua Shinta khawatir. Dia sempat mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Namun seiring dengan prestasi yang ditunjukkan, akhirnya dia mendapat dukungan untuk meneruskan hobinya itu. ”Awalnya itu ngomong ikut lomba lari aja, bukan orienteering supaya diizinkan. Alhamdulillah saat ini sudah didukung oleh orang tua,” ungkap lulusan MAN Kota Batu itu dengan tertawa kecil.

Selain risiko hilang, kemungkinan cedera sudah pasti menghantui atlet orienteering. Diungkapkan perempuan kelahiran 1999 itu, sebelum berlaga pada Kejuaraan Dieng Race, Shinta dalam kondisi tidak fit. Karena saat latihan H-3 menjelang kejuaraan terjadi salah tumpuan. Sehingga membuat telapak kakinya keseleo dan sulit untuk berjalan. Hingga akhirnya pada hari perlombaan, seluruh telapak kakinya ditempel koyo untuk menghilangkan rasa sakit. ”Alhamdulillah masih diberi juara 2, pas lomba itu ya udah gak ngerasa sakit. Seperti langsung hilang,” tuturnya.

Pada kejuaraan nasional itu, Shinta sebenarnya tidak menyangka bisa menjadi runner up. Awalnya, dia hanya menarget maksimal menyabet peringkat ketiga. Karena merasa minder, lawan yang dihadapinya merupakan atlet elit nasional. Namun dalam kenyataannya, dia malah menjadi juara 2 dan berhasil menyingkirkan beberapa atlet senior dan kaliber nasional. ”Ditanamkan ke hati, lawan yang terberat adalah diri sendiri. Meskipun dalam pikiran itu seperti tidak mungkin, karena belum fit dan lawannya berat,” kata perempuan berzodiak pisces itu.

Kemenangannya itu nampaknya juga tidak terlepas dari karakteristik orienteering yang berbeda dengan olahraga lain. Di mana, peserta yang tercepat belum tentu akan menjadi pemenang. Pemenang lebih ditentukan ketepatan peserta dalam menemukan titik poin yang ditentukan. Jika satu poin saja terlewat, meskipun peserta itu datang pertama, maka akan didiskualifikasi. Karena tidak mampu menemukan seluruh titik yang ditentukan oleh panitia. ”Jadi selain kecepatan, juga butuh ketepatan,” tutup Shinta.

Selanjutnya, arek asli Malang ini tengah mempersiapkan diri untuk berlaga di ajang Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) ke-6. Akan digelar di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), bulan Juli mendatang. (abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/