MOMEN penting itu terjadi pada 2015. Kala itu, Arianto memilih banting setir dari petani ketela pohon menjadi perajin ulat sutra. Alasannya sangat pragmatis. Setiap kali panen ketela pohon, harga jualnya selalu anjlok gara-gara permainan tengkulak. Merugi seolah sudah menjadi hal rutin yang dialami pria 48 tahun asal Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang itu.
Pindah haluan menjadi perajin ulat sutra juga sudah dipikirkan masak-masak. Anto, panggilan akrab Arianto Nugroho, merasa beruntung dibantu temannya untuk berkenalan dengan peneliti asal Taiwan bernama Profesor Zhang. Kala itu Zhang datang ke Indonesia untuk mencari potensi budi daya ulat sutra di negara berkembang, khususnya Asia Tenggara.
Pembicaraan bisnis pun terjadi di antara keduanya. Ketika sudah menemukan tempat potensi budi daya ulat sutra, hasil akhirnya adalah ekspor kain sutra ke Taiwan. ”Siapa yang tak tergiur dengan tawaran seperti itu. Jadi, bisnis ini awalnya jelas karena keuntungannya tidak dimonopoli. Saya tertarik dan dilatih sama Zhang,” kenang Anto.
Butuh waktu setahun bagi Anto untuk belajar cara memintal benang ulat sutra hingga menjadi selembar kain. Dia tak patah semangat dan menganggap usaha baru itu adalah kesempatan emas. Bisa saja ke depan, bisnis berkembang dengan berbagai produk lain yang memiliki nilai jual tinggi.
Ketika urusan mengubah benang ulat sutra menjadi kain sudah beres, Anto mendapat tantangan baru. Yakni mencari petani ulat sutra yang mampu menyuplai bahan baku. Upaya itu ternyata tidak bisa instan. Dia harus mengajak orang lain untuk menjadi petani ulat sutra dan mengajarinya dari nol.
Pada awal 2018, Anto berhasil mengumpulkan dan membina 30 petani. Bukan upaya yang mudah, karena Anto mendapatkan 30 petani itu dengan cara blusukan ke Kabupaten Pasuruan, Kota Semarang, hingga Pulau Bali. ”Untuk wilayah Malang, petaninya ada di Kecamatan Tumpang dan Kota Batu. Sampai saat ini mereka masih eksis,” terangnya.
Para petani itu mendapat pembinaan dalam bentuk beberapa keterampilan. Mulai dari budi daya ulat sutra hingga cara memintal benang menjadi kain. Sampai akhirnya, misi untuk mengirim produk kain sutra ke Taiwan seperti permintaan Profesor Zhang berhasil dilakukan.
Sayang, tiba-tiba cobaan datang. Pihak imigrasi datang ke rumahnya. Usut punya usut, Zhang dicekal oleh imigrasi karena menyalahgunakan perizinan. Visa yang digunakan oleh profesor itu bukanlah visa bekerja, melainkan visa belajar.
Bayangan gelap masa depan bisnis sutra pun sempat menghantui. Sebab, tujuan utama Anto menjadi perajin hingga membina puluhan petani adalah untuk ekspor. Apa mau dikata. Bisnis sudah telanjur ditekuni. Kalau banting setir lagi harus mulai dari nol.
Maka, bersama 30 petani ulat sutra yang masih loyal, lulusan S-1 Akuntansi Universitas Merdeka Malang itu pun mikir bersama untuk membuat terobosan baru. Sepatu menjadi produk pertama yang mereka pikirkan saat itu. Bagian upper atau tubuh sepatu yang biasa terbuat dari kanvas atau kulit diganti dengan kain sutra. ”Sepatu model slip on itu saya kreasikan bersama para petani. Syukur bisa jadi,” katanya.
Untuk memasarkan sepatu kain sutra, Anto mengikuti beberapa pameran usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dari situlah para peminat mulai digaet. Satu per satu masyarakat dari berbagai kalangan memesan produknya tersebut.
Untuk mendongkrak pemasaran, produk sepatu sutra juga diunggah ke Instagram dengan berbekal foto dan caption. Lambat laun peminatnya semakin bertambah. Bahkan bisa merambah pasar elite.
Anto masih teringat, pada akhir 2021 lalu, Runner Up 2 Puteri Indonesia 2022 Adinda Cresheilla memesan sepatu high heels untuk fashion show. ”Dia datang ke rumah saya dan pesan sepatu untuk pentas. Alhamdulillah bisa membawa Mbak Dinda berprestasi,” ungkap Anto.
Setelah digunakan oleh Dinda, peminat sepatu sutra yang dibuat Anto semakin meluas di kalangan selebriti. Misalnya pada 2022, Helmy Yahya datang dan memesan sepatu sutra yang dikombinasikan dengan ecoprint. Neo, vokalis band Letto, juga memesan sepatu sutra berwarna merah.
Beberapa pekan selanjutnya, Staf Khusus Kepresidenan RI Angkie Yudistia dan Staf Khusus Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga juga penasaran dengan produk buatannya. “Cukup bangga ya. Intinya belajar dari masalah pada 2018 dulu itu bukan sebuah akhir. Melainkan awal,” tegas Anto.
Hingga saat ini, dia sudah membina 840 petani ulat sutra yang tersebar di Jawa dan Bali. Dari ratusan petani itu, sebagian di antaranya adalah penyandang disabilitas. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno