DWIKI Muhangka baru saja selesai mengirim maggot kering saat Jawa Pos Radar Malang tiba di Sentra Budidaya Got Maggot. Menyusul kedua rekannya, dia lantas ikut memberi makan serta mengawasi maggot yang siap dipanen dari kolam-kolam berukuran 1,2 x 2,4 meter.
Sembari memberi makan dan berkeliling sentra, Dwiki mulai menceritakan awal mula berjibaku dengan hewan yang oleh banyak orang dipandang nggilani tersebut. ”Sebenarnya, maggot sudah lumayan familiar di kalangan aktivis kampus, terutama mereka yang punya kepedulian dengan lingkungan. Aku bahkan sudah berniat merintis budi daya maggot sejak akhir 2020,” ungkap alumnus Prodi Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya tersebut.
Tapi niat itu tertunda karena belum ada role model atau sosok yang bisa dijadikan contoh.Memang sudah banyak pegiat maggot yang muncul di YouTube.Namun Dwiki melihat kebanyakan dari mereka hanya mengejar viewer atau saja atau ad sense (pendapatan dari iklan).Sementara itu, konten video mereka tidak sepenuhnya tentang berbisnis maggot.
Dwiki hanya tahu bahwa maggot baik untuk ternak.Salah satunya karena kandungan protein yang cukup tinggi.Dalam kondisi hidup, kandungan protein maggot sekitar 35-45 persen.Namun, apabila sudah diolah menjadi kering bisa mencapai 56-65 persen.Itulah yang sebenarnya menjadi kunci penting bisnis budi daya maggot.
”Dulu aku pernah berdiskusi dengan seorang eksportir di Mojokerto. Dia tanya, jati diri yang diinginkan dari maggot seperti apa?,” ujar Dwiki. Yang dimaksud eksportir itu, apakah hanya ingin beternak maggot yang sekadar besar tapi makanannya sembarang.Ataukah kembali kepada fungsi maggot, yakni mensintesa protein dari pakan untuk dimasukkan ke dalam biokonversi ke dalam tubuhnya. Jika yang diinginkan adalah pilihan kedua, maka maggot bisa dimanfaatkan untuk pakan yang berkualitas.
Setelah berdiskusi dengan berbagai pihak, Dwiki memutuskan untuk melakukan budi daya maggot pada Desember 2021.Modal awalnya ketika itu Rp 30 Juta.Karena tanpa kursus, awal budi daya dilakukan dengan asal-asalan.Uang yang dikeluarkan habis hanya untuk biaya trial and error serta research and development.Beberapa alat yang dibeli, seperti mesin pencacah, akhirnya tidak berguna. Karena tanpa dicacah, maggot ternyata bisa menjadi bubur sendiri saat proses fermentasi.
Karena pemahaman soal maggot yang masih minim, mantan presiden BEM Fakultas Teknologi Pertanian UB itu berusaha mencari tambahan ilmu.Dia lantas disarankan pergi ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang. Di DLH Kota Malang, Dwiki bertemu Kepala Seksi Penanganan Sampah Bidang Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Malang Budi Heriyanto.
”Dia bilang, maggot kata kuncinya memakan sampah. Jadi, kalau mau budi daya harus tau makanannya.Sampah yang paling banyak di mana? TPA. Oleh Pak Budi, aku diberi kesempatan terjun ke TPS Tasikmadu yang kebetulan juga dekat rumah,” tuturnya.
Pria 27 tahun itu melanjutkan, semula formula makanan yang diberikan kepada maggot belum terukur.Kala itu dia masih memanfaatkan sampah dari TPS Tasikmadu yang dicacah dan digiling.Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, dia dan ketiga rekannya terus melakukan eksperimen untuk menemukan formula makanan yang berkualitas. Di antaranya sampah organik berupa ampas jagung 40 persen, limbah pasar dan restoran 40 persen, serta ampas tahu.
Dalam sehari, Dwiki dan teman-temannya mendatangkan satu truk dan tiga pikap berisi sampah untuk makanan maggot.Sampah-sampah yang berasal dari TPA SupitUrang itu kemudian diolah.Hasilnya sekitar 300-500 kilogram makanan untuk maggot.
Hal itulah yang membedakan Dwiki dengan para pelaku usaha budi daya maggot pada umumnya.Dia berupaya memberikan makanan yang terukur. Selain itu, sampah organik seperti sayur dan buah yang diberikan ke maggot bukan yang sudah terkontaminasi dengan limbah.
”Kami ingin menjaga kestabilan dari semua komponen makanan. Salah satunya merendam bahan makanan maggot dengan enzim-enzim tertentu untuk membunuh bakteri patogen, baru diproses jadi makanan maggot,” tegasnya.
Selama enam bulan memulai budidaya maggot, Dwiki sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam bereksperimen.Sebelum menjadi seperti sekarang, maggot yang sebenarnya bisa dipanen dalam 18-25 hari, hanya bisa dipanen dalam 1,5 bulan dengan ukuran yang kecil. Lokasi budi daya yang semula di TPA Tasikmadu akhirnya dipindah ke Jalan Raya Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Di lahan seluas hampir 2 hektare tersebut, Dwikisudah membangun24 kolam untuk budidaya maggot dan 1 kandang lalat.Saat ini dia juga sedang menyiapkan 300-350 kolam ukuran 1,2 x 2,1 meter dengan kapasitas 35-45 kilogram maggot.Sampah-sampah di lokasi itu juga sudah melalui biokonversi, sehingga tidak menimbulkan bau menyengat.
”Justru maggot mengurangi bau dan bisa menggerus habis sampah sampai dengan 90 persen. Sisanya dijadikan pupuk,” kata lelaki kelahiran Bengkulu tersebut.
Dwiki menyebutkan, budidaya maggot mampu menghasilkan banyak produk turunan. Pertama, maggot segar yang masih hidup untuk pakan ternak, seperti ayam, lele, hingga mentok. Kedua, telur lalat bisa dijual ke calon pelaku budidaya yang membutuhkan.Ketiga, pupa atau kepompong.Keempat untuk pupuk. Dan kelima adalah bahan bakutepung, minyak, hingga kosmetik.
Untuk saat ini, telur lalat masih dia manfaatkan untuk keperluan internal, yakni sebanyak 40 gram setiap hari. Sebab, ternak maggot milikDwikimasih belum mampu memenuhi permintaan pasar yang sangat besar, khususnya untuk pakan ternak. Lalu, pupuk yang dihasilkan biasanya sekitar 3-5 kilogram dalam satu karung.
”Terkadang kami sampai tidak sanggup memenuhi permintaan peternak. Ada peternak dari Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, Gresik, hingga Kota Malang yang pesanannya menembus hitungan ton per hari. Kalau untuk maggot segar dalam kondisi hidup tidak bisa dikirim ke luar Jawa karena bisa mati,” terangnya.
Selain produk-produk turunan tersebut, Dwiki juga memproduksi maggot kering untuk dikonsumsi sebagai bahan baku sereal. Bahkan dia sudah mengirimnya ke salah satu pabrik makanan di Tangerang yang nantinya akan diekspor menjadi produk makanan ke Belanda dan Denmark. Dalam satu bulan, pabrik tersebut biasanya meminta 2 ton maggot kering. ”Aslinya mereka butuh 10 ton per bulan karena dibuat untuk tepung dan minyak. Tapi, kami baru bisa mengirim sebanyak 2 ton,” sambung Dwiki.
Meski masih dianggap tabu dikonsumsi, Dwiki mengatakan bahwa maggot sudah banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan. Hal tersebut pernah diuji coba saat dirinya masih duduk di bangku kuliah untuk membuat mi hingga brownies. Hanya saja, belum banyak yang memanfaatkan maggot di industri makanan yang profitable.
”Kami juga membuat sereal maggot dengan brand lokal, yakni GotMaggot. Prosesnya kurang lebih dilakukan dengan mengolah maggot menggunakan microwave agar maggot matang secara merata hingga ke dalam,” jelasnya.
Dwiki juga mengungkapkan, dari seluruh produk turunan maggot yang dia produksi, keuntungannya mencapai Rp 20 hingga Rp 30 Juta per bulan. Namun, jika kolam-kolam lainnya sudah selesai dibangun, dia mengestimasikan keuntungan bisa mencapai Rp 100 juta per bulan.
Selain produk makanan, Dwiki mengaku pernah dihubungi oleh sebuah pabrik kosmetik kenamaan di Indonesia.Pabrik tersebut tertarik mengolah minyak maggot untuk kosmetik.
Bagi Dwiki, budidaya maggot merupakan sektor yang potensial. Karena itu dia tidak merasa jijik karena sejak dulu sudah senang mengolah sesuatu yang tidak berguna menjadi bernilai.”Makanya terpikir, oh sampah tidak terpakai. Mungkin bawaan dulu yang pernah menjadi aktivis kampus,” tandas pria kelahiran 1995 itu.(*/fat) Editor : Mardi Sampurno