Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Percepat Penyembuhan Cedera, Obati Pasien Pakai Hati

Mardi Sampurno • Jumat, 2 September 2022 | 20:13 WIB
BANTU ATLET CEDERA: Maradona (kiri) di tempat klinik terapinya usai menangani Bio Paulin, mantan pemain Persipura, Jayapura. (Maradona for radar malang)
BANTU ATLET CEDERA: Maradona (kiri) di tempat klinik terapinya usai menangani Bio Paulin, mantan pemain Persipura, Jayapura. (Maradona for radar malang)
Keahlian yang dimiliki Maradona ini terbilang langka. Dia bukan dokter. Bukan pula dukun. Tapi punya kemampuan membantu menyembuhkan cedera parah. Pemilik klinik Physiomar di Tidar ini sudah tidak terhitung menangani atlet sepak bola ternama maupun basket. 

Namanya boleh saja singkat, hanya terdiri delapan huruf saja. Maradona. Namun nama itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan legenda sepak bola asal Argentina. Bahkan dia juga bukan pemain sepak bola.

Hanya saja, dia dekat dengan pemain-pemain bola. Karena pekerjaannya erat dengan atlet. Pengalamannya melakukan penyembuhan cedera tentunya sudah banyak atlet dibantu Maradona kembali ke lapangan. Ahmad Bustomi, Cristian Gonzales, Agus Indra, Dendi Santoso, Hendro Siswanto, Dedik Setiawan, sampai pebasket nasional Kelly Purwanto dan Laquavius Cotton adalah beberapa aktor olahraga pernah mendapatkan perawatan di tempatnya. 

Saat ini dua pemain Arema FC Syaeful Anwar dan Kushedya Hari Yudo menjadi aktor lapangan hijau tengah dibantu Maradona. Sebelumnya, kedua penggawa Singo Edan itu menjalani operasi untuk cedera pada lutut (ligamen). Alhasil, butuh melakukan pemulihan pasca naik meja bedah untuk bisa kembali ke bermain. 

Menurut Maradona pemulihan cedera pasca operasi cedera ligamen menjadi salah satu yang menantang. Itu karena, seorang atlet harus benar-benar terapi dari awal. Mulai dari belajar menekuk lutut, berjalan, berlari, sampai menendang bola lagi. Alhasil, pada momentum tersebut sudah tidak hanya ilmu dan alat yang diandalkan. Lebih jauh juga sebuah rasa di hati. Artinya seorang fisioterapi seperti dirinya harus benar-benar telaten melakukan pendampingan. Sekaligus, memberikan program pemulihan. “Karena habis operasi. Jadi jika sampai salah akan sangat berisiko,”kata pria berusia 30 tahun tersebut. 

Risikonya adalah berpotensi membuat penyembuhan cedera lama, nambah biaya, sampai problem kakinya lebih parah. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika sembrono saat pemulihan bisa ikut menghancurkan karier atlet. Alhasil, memang dia dituntut melakukan semuanya baik, terukur, dan terencana. Karena itulah sebelum berani membuka klinik sendiri, Maradona terlebih dahulu mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. 

Sabar dan telaten sendiri juga dibutuhkan karena umumnya pasca menjalani operasi ada efek psikis. Misalnya adalah rasa takut karena harus belajar jalan. Menurutnya apabila ini tidak dikelola dan diperhatikan dengan baik membuat seorang olahragawan sulit untuk segera pulih. “Karena ada rasa trauma pada psikis,”tutur pria kelahiran 30 Juni 1992 tersebut. Karena adanya kondisi tersebut, Maradona mengisahkan kalau umumnya berusaha memahami karakter pasiennya. Bagaimana sifat orangnya. Lalu juga berusaha menjadikannya teman. Membangun chemistry diakuinya juga diperlukan. Kedekatan dinilainya membuat proses rehab bisa berjalan lebih maksimal. 

Soalnya dalam proses penyembuhan tidak boleh ada sebuah paksaan. Ini mempunyai risiko membuat psikis ada masalah. Akibatnya rasa trauma jadi tambah parah lagi. “Kami harus membuat kondisi enjoy dan nyaman untuk yang melakukan penyembuhan,”kata dia. Berkat itu biasa saling bercerita dan bercanda ketika menjalani proses rehabilitasi. Lalu umumnya saat awal-awal proses pemulihan kegiatan yang dilakukan lebih banyak saling mengenal satu sama lain. Sedangkan selama prosesnya tidak boleh menyinggung, memaksa, sampai dengan salah memberikan program untuk proses pemulihannya. Aspek-aspek itulah yang menjadi salah satu faktor kenapa penyembuhan pasca operasi ligamen cukup membutuhkan waktu. Umumnya mereka yang menjalani pemulihan di kliniknya butuh waktu minimal 4 bulan untuk kembali ke lapangan lagi. Bisa semakin lama kalau pengelolaan psikis trauma tidak dilakukan dengan baik. 

Selama membantu pemulihan, umumnya dalam seminggu dia bisa lima kali bertemu dengan pasien dalam sebulan. Setiap prosesnya selalu dilakukan step by step. Tergantung dengan kondisi terakhir atlet yang sedang menjalani rehab. Contohnya apabila paling ideal belajar maka hal tersebut yang akan dilakukan. 

Dalam pengalaman menangani pemulihan atlet, menurut Maradona, progres yang cukup cepat dialami Kushedya Hari Yudo. Sedangkan yang cukup lama adalah Dedik Setiawan. Pemain asal Dampit itu butuh waktu penyembuhan molor lantaran adanya pandemi. “Molornya tapi hanya 1-2 bulan saja,”ungkap pria asal Padang ini. 

Selama merebaknya virus Covid-19, Maradona mengaku menutup total kliniknya. Ini karena sebagai langkah untuk saling menjaga. Ketika tutup saat pandemi, Dedik disebutnya mendapatkan program latihan mandiri untuk menjalani proses penyembuhannya. 

Sebagai informasi layaknya Yudo, striker Arema FC Dedik Setiawan juga sempat mengalami cedera pada lutut atau ligamen. Momen pahit dalam karier Dedik tersebut terjadi pada kompetisi Liga 1 musim 2019 lalu. Dia diputuskan harus operasi usai Arema FC bertandang di laga PSM Makassar. 

Sementara itu, sebelum seperti saat ini awal mulai membuka klinik pria berdomisili di wilayah Villa Bukit Tidar Kota Malang itu sempat melanglang buana ke sejumlah klub di Indonesia. Maradona sempat menjadi fisioterapi di Persiba Balikpapan pada 2016. Lalu berlanjut 2017 bersama Sriwijaya. Lalu pada 2014 lalu sempat gabung di Pelatnas Timnas Basket. 

Selama menjalani karier tersebut diakui fans Real Madrid tersebut mengaku mempunyai banyak tantangan. Salah satu yang paling terasa adalah kala harus memberikan pelayanan sepanjang hari. “Kalau ada banyak cedera bisa (nangani pasien) mulai pagi sampai malam,”katanya sembari tertawa. 

Membuka klinik sendiri dimulai oleh alumnus Universitas Fort de Kock Bukittinggi itu pada 2017 lalu. Rasa ingin tidak terikat dengan orang dan merasa sudah puas dengan dunia sebelumnya menjadi alasan utamanya. Selama merintis kliniknya dia mengaku tidak menggunakan strategi khusus. Menurutnya dia mengutamakan pelayanan sebaik mungkin. 

“Kalau pelayanan bagus, umumnya pemain lain bakal merekomendasikan tempat saya. Saya yakin itu,”katanya. Tapi, dia juga sempat pergi ke klub untuk menawarkan jasa. Salah satunya dulu ke klub basket Bima Sakti. Sekarang dia menilai tidak mencari lagi lantaran pasien sudah datang sendiri. Karena itu juga membuat dia mendapatkan beberapa tawaran dari klub-klub Indonesia. Mulai dari Liga 1 sampai Liga 2. Tapi itu tidak diambilnya lantaran saat ini lebih nyaman dengan kondisi saat ini. 

Dalam perjalanannya menekuni dunia fisioterapi sebetulnya bukan sesuatu diinginkan Maradona. Cita-citanya saat remaja adalah menjadi prajurit TNI. Dia sempat mencoba-coba untuk ikut tes Akademi Militer. Tapi, selama proses harus rela tidak lolos. 

Tidak berjodoh dengan dunia militer sempat membuat sedikit kecewa. Karena itu dia sempat berpikir panjang untuk menimba ilmu di kampus di jurusan fisioterapi. Tapi ketika menjalani perlahan rasa tersebut terkikis. Munculnya fisioterapi Timnas Matias Ibo menjadi dorongan membuat bersemangat. Ketika itu menurutnya hadirnya Ibo di Timnas pada AFF Cup 2010 membuatnya mempunyai keyakinan kalau profesi ini mempunyai masa depan yang cerah. “Seketika itu saya ingin seperti Ibo dan mengidolakannya,” ungkap Maradona. Saat ini dia bersyukur lantaran saran kakaknya untuk menekuni dunia fisioterapi berbuah positif untuknya. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#klinik Physiomar #maradona #Kota Malang #Fisioterapi