”Peternak tidak memiliki standar untuk menguatkan statement mereka dalam tawar menawar. Sehingga mereka nurut saja, yang penting hewan ternak mereka laku,” tutur Fajar. Dari situlah, Fajar ingin menciptakan aplikasi yang berguna untuk menampilkan informasi terkait sapi yang akan dijual.
Ada dua variabel yang ditampilkan dalam aplikasi buatan Fajar. Yakni panjang badan sapi dan lingkar dada. Dua variabel itu menjadi data dalam menentukan harga jual sapi. Meskipun utamanya menggunakan perhitungan berat atau bobot sapi itu sendiri.
”Aplikasi ini berbasis android dan memanfaatkan kamera smartphone. Ketika dibuka, nanti harus ada izin mengakses kamera dulu. Ketika sudah terkoneksi dengan aplikasi, nanti dari kamera ada pengolah citra digital atau garis bantu,” kata mahasiswa asal Pasuruan itu.
Cara menggunakan aplikasi itu cukup mudah. Pengguna tinggal memotret sapi dari samping dan belakang. Output foto dari samping menghasilkan panjang badan, sementara dari belakang menunjukkan informasi tentang lingkar dada. Dengan dua data itu, pihak peternak bisa mengetahui data sapi yang mereka miliki. Sehingga peternak memiliki dasar dalam menentukan harga jual hewan ternak mereka.
Namun masyarakat harus sedikit bersabar. Aplikasi buatan Fajar itu belum digunakan atau diimplementasikan ke pasar sapi, baik di Pasuruan maupun Malang. Alasannya, aplikasi itu masih dalam tahap pengembangan atau prototipe. Akan ada beberapa perbaikan lagi agar aplikasi tersebut lebih sempurna.
”Aplikasi ini diambil dari penelitian skripsi. Sampelnya di instansi Loka Penelitian Sapi Grati Pasuruan. Itu sementara ada 10 sampel. Kalau penggunaan di pasarnya masih belum, karena pihak Loka Grati belum mengizinkan,” terang Fajar.
Mahasiswa jurusan elektro itu menuturkan, kendala terbanyak selama pembuatan dan pengembangan aplikasi adalah sampel. Fajar membutuhkan banyak sampel untuk menyempurnakan aplikasi tersebut. Sementara di Loka Penelitian Sapi Grati susah untuk mendapatkan sampel. Harus melalui proses izin yang berbelit dan memakan waktu lama.
”Tidak bisa sembarangan dalam mengambil data. Ada perizinan dan tahapan yang harus dilalui dalam waktu cukup lama. Padahal aplikasi ini butuh sampel banyak agar data yang terkumpul juga beragam,” keluh mahasiswa berusia 25 tahun itu.
Dengan prestasi yang baru dia raih, Fajar akan mencoba kembali menembus Loka Penelitian Grati agar aplikasinya bisa digunakan untuk masyarakat luas. Bahkan dengan link dari instansi itu, bukan tidak mungkin aplikasi buatanya bisa digunakan di beberapa wilayah di Indonesia.
“Bisa saja kalau aplikasi saya sudah digunakan di Pasuruan, akan digunakan lagi di tempat lain seluruh Indonesia. Tergantung pihak instansi ketika sudah di-acc,” terangnya.
Dia menambahkan, jika aplikasi buatannya sudah mendapat izin dari pihak terkait, maka bisa langsung digunakan peternak dalam menentukan standar harga jual sapi. Minimal membantu terjadinya keseimbangan penentuan harga. Bukan dimonopoli pihak blantik saja. ”Apalagi kalau aplikasi ini sudah diverifikasi instansi berwenang,” imbuhnya.
Terkait proses mendapatkan dua penghargaan di Malaysia, Fajar menceritakan bahwa semuanya berawal dari informasi dosen pembimbing. Yang pertama tentang event lomba di salah satu kampus Malaysia, yakni UHTM. Dia diyakinkan oleh sang dosen bahwa penelitian atau aplikasi yang sedang dikembangkan memiliki potensi untuk mengikuti kompetisi tersebut.
Fajar pun terdorong untuk mengikuti kompetisi itu meski harus melalui banyak tahapan, Yang pertama adalah mengirim abstraksi ke pihak kampus Malaysia pada Maret lalu. Setelah dinyatakan lolos, Fajar diminta submit poster tentang aplikasi pada awal Agustus, dilanjutkan dengan presentasi dengan membuat video pada 19 Agustus.
Setelah mengirim video, Fajar tak menyangka bisa meraih penghargaan dari kampus luar negeri tersebut. Bahkan tak hanya itu saja, dia juga mendapat penghargaan lain dari Malaysia. Yakni special award dari Malaysia Innovation Invention Creativity Association (MIICA), sebuah lembaga yang bekerja sama dengan UTHM Malaysia. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno