Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gaet Generasi Muda, Bikin Sistem Pertanian Terpadu

Mardi Sampurno • Kamis, 22 September 2022 | 23:10 WIB
SISTEM MODERN: Bahrul Ulum (kanan) sedang merawat kambing yang diintregasikan dengan pertanian di rumahnya, Dusun Sepudak, Kecamatan Kasembon, kemarin. (NABILA AMELIA/ RADAR MALANG)
SISTEM MODERN: Bahrul Ulum (kanan) sedang merawat kambing yang diintregasikan dengan pertanian di rumahnya, Dusun Sepudak, Kecamatan Kasembon, kemarin. (NABILA AMELIA/ RADAR MALANG)
Agak sulit membuat janji dengan Bahrul Alam. Terutama dalam beberapa hari terakhir. Maklum, pemuda asal Dusun Sepudak, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang itu punya segudang aktivitas. Tak cuma sibuk merawat peternakan dan pertanian, dia juga kerap diminta mengisi maupun membantu memberi pelatihan di desanya. 

Seperti halnya kemarin (21/9). Saat Jawa Pos Radar Malang mendatangi rumahnya, Bahrul tengah bersiap membantu pelatihan untuk sejumlah siswa-siswi dari SMKN 1 Pujon. Pelatihan yang diberikan mengenai pembuatan pakan ternak mineral blok. 

”Kalau tidak ada pelatihan, saya mengurus peternakan dan pertanian seperti biasa. Misalnya, melakukan perawatan atau pembersihan. Dibantu oleh dua rekan saya,” ujarnya. 

Sembari mengajak koran ini mengambil gambar peternakan miliknya, Bahrul memulai kisahnya. Sebelum memutuskan menjadi peternak, dia sempat hijrah ke Jakarta dan Kalimantan. Tepatnya selepas lulus dari SMK Bakti Mulya Pare tahun 2012 silam. 

Namun, setelah beberapa tahun tinggal di perantauan, Bahrul terpikir untuk kembali ke kampung. Dia ingin membuka peluang usaha. Pilihannya jatuh pada peternakan dan pertanian. 

Pada tahun 2016, Bahrul kemudian memutuskan untuk beternak. Kala itu, dia mulai beternak dengan 4 ekor domba. Cara beternaknya pun masih tradisional. Dilanjutkan menanam hijauan makanan ternak tahun 2017. 

Sambil merawat ternak, pria berusia 27 tahun itu terus mempelajari perihal peternakan dan pertanian. Baik secara otodidak maupun belajar dari para tetangga di dusun yang mayoritas bermata pencaharian serupa. 

”Meskipun lulusan jurusan komputer saya tidak kesulitan belajar (bertani dan beternak). Karena orang tua saya adalah petani,” tuturnya. 

Jika ada yang tidak dipahami, Bahrul tak segan bertanya kepada tetangga-tetangga yang lebih kenyang pengalaman. Nilai plusnya, sebagai generasi milenial dirinya bisa belajar lewat internet. Sehingga informasi yang diperoleh semakin banyak dan cepat menyerap informasi. 

”Saya melihat di desa ada banyak potensi. Dari sana, saya ingin lebih mengembangkan peternakan dan pertanian di Kecamatan Kasembon supaya lebih modern,” terang Bahrul. 

Di tahun 2018, Bahrul mulai mengenal pertanian terpadu. Yakni sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas SDA atau SDM. 

Meski baru 2 tahun menekuni, Bahrul gemar membagikan ilmu yang dipelajarinya. Tak jarang, ada sesama peternak yang datang kepadanya untuk berdiskusi. ”Jadi sambil belajar sambil mengedukasi juga. Meskipun hanya sedikit-sedikit,” ucapnya. 

Perlahan, pria kelahiran Oktober itu mulai menyerap banyak ilmu. Termasuk cara mengolah pakan ternak dan pupuk. Di tahun 2021, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kasembon mendengar aktivitasnya. Mereka lantas memperkenalkan Bahrul dengan program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS) dari Kementerian Pertanian. ”Sejak itu, relasi saya semakin bertambah. Sampai akhirnya, saya juga mendapat tawaran dari Dispora Kabupaten Malang untuk mengikuti kompetisi Pemuda Pelopor tahun 2022,” imbuhnya. 

Secara bertahap, Bahrul berhasil lolos kompetisi yang berlangsung mulai Mei sampai Oktober mendatang itu hingga ke tingkat provinsi. Kini, dirinya sedang menjalani seleksi di tingkat nasional yang akan diumumkan bertepatan dengan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2022. 

”Di tingkat provinsi saya menyisihkan sekitar 28 peserta. Dan berhasil lolos ke lima besar hingga juara I,” tutur pemilik peternakan Bara Putra Farm itu. 

Dalam Program Pemuda Pelopor, dirinya mengusung kepeloporan dengan konsep Guyuping Cah Angon. Maknanya, kebersamaan pemuda ternak dan pemuda tani dalam mewujudkan ketahanan pangan dan ekonomi nasional. 

Bahrul menjelaskan, keberhasilannya di Pemuda Pelopor tidak lepas dari lingkungan sekitarnya. Bahkan, Guyuping Cah Angon tak sekedar konsep, tetapi sudah berbentuk komunitas di desanya. Komunitas tersebut terdiri atas perkumpulan petani dan peternak muda hingga lembaga pendidikan. 

”Kami semua tergabung dalam komunitas atau paguyuban yang saling berbagi ilmu. Hal itulah yang mungkin menarik perhatian juri. Karena di sini kami punya berbagai sub bidang dan memberikan edukasi gratis,” katanya. 

Di samping itu, bersama Guyup Ing Cah Angon mereka benar-benar terjun ke masyarakat. Termasuk ke lembaga pendidikan untuk memberikan edukasi soal pertanian terpadu. 

Selain fokus berlaga di Pemuda Pelopor nasional, Bahrul juga terus mengembangkan peternakan Bara Putra Farm miliknya. Total, kini dia memiliki 68 ekor ternak yang terdiri dari kambing dan domba. Peternakan tersebut berdiri di atas tanah ukuran 3x25 meter. 

”Meskipun sering memberikan edukasi bersama temanteman, saya tidak merasa tersaingi. Termasuk menceritakan soal kegagalan-kegagalan yang saya alami. Seperti ternak saya yang pernah sakit,” tegas anak ke-11 dari 13 bersaudara pasangan Hidayatun Nasikin dan Imroatul Hidayah itu. 

Bahrul berpandangan, memberikan edukasi tidak akan mematikan rezeki. Justru, dengan berbagi bisa membantunya menambah relasi. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#pelatihan #Pertanian #Kabupaten Malang #Bahrul Alam #peternakan