Namun, saya merasa bisa mendapatkan ilmu meski tidak melalui bangku kuliah,” ungkap pria yang akrab disapa Jae tersebut. Awalnya, Jae pergi merantau menyusul salah satu kerabatnya dan bekerja sebagai karyawan harian di perusahaan yang bergerak di bidang engineering. Namun dia tidak puas hanya mencari pengalaman di satu bidang pekerjaan. Selama merantau, pria yang kini berusia 47 tahun itu sudah menjajaki pekerjaan di 11 perusahaan.
Tentunya dengan posisi yang berbedabeda. Mulai dari karyawan biasa, supervisor, senior supervisor, manajer, hingga yang terakhir sebagai executive marketing. Setiap kali merasa sudah cukup dengan ilmu yang didapat, Jae memutuskan pindah ke tempat lain. Dia memegang prinsip bahwa berteman dengan orang-orang ahli di bidang tertentu, sama saja dengan belajar menjadi seperti orang tersebut. ”Saya lulusan SMA. Tapi ketika bergaul dengan temanteman sarjana, sama saja saya belajar menjadi seperti mereka,” terangnya
Pada 2010, Jae memutuskan berhenti dari perusahaan terakhir tempat dia bekerja pulang ke kampung halamannya. Selain merasa cukup pengalaman, sebagai anak terakhir Jae merasa harus menjaga dan merawat orang tuanya. Namun dia juga sudah siap dengan pekerjaan baru yang lebih mandiri. Yang pertama kali dia lakukan adalah mencoba beternak sapi dan kambing. Bukan dari jenis biasa. Melainkan sapi dan kambing Australia.
Keahlian beternak juga dia pelajari di perantauan. ”Sebelum memutuskan pulang, saya sudah mencoba memelihara sapi jenis itu di rumah dengan bantuan tetangga. Ternyata cocok dan prospeknya bagus,” imbuhnya. Jae juga sempat kembali ke Bogor dalam beberapa bulan. Dia bergabung dengan UMKM yang memproduksi susu kedelai. Jae juga sempat menjadi pegiat lingkungan di Komunitas Ciliwung dan ikut mengelola bank sampah.
Dari komunitas itu, Jae bisa melihat sampah sebagai peluang bisnis. Ketika pulang kembali ke Malang, Jae berinisiatif memanfaatkan banyaknya limbah serabut kelapa di desanya. Ide yang muncul saat itu cukup brilian. Yakni menjadikan sampah serabut kelapa sebagai pot bunga yang unik. Usaha itu dimulai pada 2020, saat pandemi Covid-19 sedang berada di puncak. Pemerintah pun memberlakukan pembatasan sosial yang sangat ketat. Hal itu justru dilihat Jae sebagai peluang. Sebab banyak orang berkegiatan di rumah dan menekuni hobi.
”Hobi berkebun ramai digemari saat itu,” kata dia. Pada saat yang sama, orangorang di sekitar tempatnya tinggal banyak yang terkena PHK. Otomatis banyak yang menganggur. Dengan bayangan peluang bisnis yang sudah ada, Jae berani memberi pekerjaan kepada para tetangganya yang terkena PHK. Produksi pot dari bahan serabut kelapa pun tak banyak mengalami kendala. Awalnya Jae hanya memasarkan produk itu di dalam negeri.
Namun memasuki tahun kedua, biaya pengiriman atau jasa ekspedisi semakin mahal. Padahal dia tidak mau memangkas biaya produksi karena bisa berimbas pada penurunan kualitas. Akhirnya Jae berpikir untuk menaikkan target konsumen, yaitu pasar luar negeri. Pengalaman bekerja sebagai executive marketing sangat membantunya dalam mengekspor pot serabut kelapa. Dia memanfaatkan Facebook untuk mencari buyer dari luar negeri.
”Perlahan saya punya kenalan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Seperti Malaysia, Turki, hingga Venezuela. Merekalah yang menjadi reseller produk kami,” terangnya. Meski biaya pengiriman atau ekspor termasuk mahal, namun daya beli konsumen di luar negeri jauh lebih tinggi. Sehingga Jae tetap bisa mendapat keuntungan yang banyak dari usaha tersebut.
Rata-rata dia bisa meraup untung sekitar Rp 3 juta dalam sehari. ”Sekarang usaha pot dari serabut kelapa ini sudah mempekerjakan 20 karyawan,” imbuhnya. Pot serabut kelapa itu diberi nama Samroen Craft. Untuk Lebih menarik buyer luar negeri, dia berusaha memberikan kualitas yang lebih baik. Yang bisa menjadi pembeda dengan produk lain.
Salah satunya, packing lebih menarik dengan wrapping yang rapi. Dia juga membebaskan buyer atau reseller untuk memberi brand sendiri dalam penjualan produk tersebut. Saat ini Jae juga sedang memikirkan peluang bisnis lain yang dapat memberdayakan warga di sekitar rumahnya. ”Meskipun saya hanya lulusan SMA, tapi saya harus bisa memberi lapangan pekerjaan untuk orangorang di sekitar tanpa memandang latar belakang pendidikannya,” tutupnya. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno