Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Berlatar Belakang Yatim, Dirikan TK, SD, dan Panti Asuhan

Mardi Sampurno • Sabtu, 14 Januari 2023 | 01:03 WIB
PEDULI: M. Kholik mengawasi proses belajar di lingkungan Panti Asuhan Ar-Rahman, Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang
PEDULI: M. Kholik mengawasi proses belajar di lingkungan Panti Asuhan Ar-Rahman, Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang
Kepedulian M. Kholik pada Anak-Anak Telantar dan Kurang Mampu

TUMBUH sebagai anak yatim jelas bukan persoalan mudah. Itu juga yang dialami Kholik sejak duduk di bangku SD. Apalagi pria kelahiran 27 Juli 1964 itu memiliki lima saudara kandung. Sang ibu yang harus menjadi single parent tentu kesulitan untuk mencukupi kebutuhan enam orang anak.

Kholik merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Saat ayahnya meninggal, adiknya yang paling bungsu masih berusia 1 tahun. Ibunya juga bukan dari keluarga berada. Secara ekonomi, keluarga itu benar-benar kelimpungan.

Tak ingin menyusahkan keluarganya, Kholik yang saat itu masih duduk di bangku kelas IV SD berniat putus sekolah.

Dia ingin membantu ibunya mencari uang dengan menjadi buruh tani. Melanjutkan pekerjaan sang ayah untuk membiayai tiga adik kandungnya yang masih kecil.

”Tapi, kakak pertama saya yang waktu itu berusia 18 tahun meminta adik-adiknya tidak putus sekolah. Dia yang berhenti sekolah dan menggantikan posisi ayah. Waktu itu kakak saya kelas 3 SMP,” terang pria asli Desa Prigi, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro itu.

Pada 1979, Kholik lulus MTs dan melanjutkan pendidikan ke MA Al-Rosyid Kendal Bojonegoro di Desa Ngumpak Dalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Saat itu dia diizinkan mondok secara gratis dengan syarat membawa bekal dan beras sendiri. Meski tidak dipungut biaya, Kholik tetap merasakan kendala. Kiriman beras dari desa kerap terlambat lantaran beban penghidupan yang harus ditanggung sang kakak teramat berat.

Kholik mulai berpikir untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kebetulan saat itu dia mendapat tawaran untuk ”mengabdi” di sekolah. Mulai dari membantu bersih-bersih hingga mengerjakan apa pun yang diperintahkan para guru. Hasilnya, Kholik bisa mendapatkan makanan secara gratis. Dia juga mendapatkan uang saku untuk membeli sabun dan peralatan belajar.

Selepas lulus dari MA, Kholik pulang ke Kabupaten Bojonegoro. Dia mengamalkan ilmu yang dari pesantren dengan mengajar ngaji anak-anak yatim. Namun jeda waktu itu hanya bertahan setahun. Sang kakak menyuruh Kholik melanjutkan kuliah S-1 di Surabaya.

Akhirnya Kholik memilih kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Dengan tekad dan niat tinggi, meski minim biaya, Kholik mencoba merantau ke Malang.

”Lagi-lagi saya dekat dengan anak-anak. Di dekat rumah kos banyak anak-anak yatim yang belajar ngaji ke saya,” imbuhnya.

Aktivitas mengajar ngaji anak-anak yatim itu membawa berkah. Kholik mulai diminta mengajar ngaji secara privat dari rumah ke rumah. Dia pun mendapatkan penghasilan yang bisa digunakan untuk menutup sebagian biaya untuk kebutuhan perkuliahan.

Pengalaman penting lainnya dia dapat saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kalipare, Kabupaten Malang. Di tempat KKN itu, Kholik juga selalu dekat dengan anak-anak yatim piatu, telantar, dan pendidikannya yang terbelakang. ”Setelah lulus kuliah, saya kembali ke tempat KKN di Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare. Saya melobi pihak sekolah agar bisa meringankan SPP anak-anak yang tidak mampu. Alhamdulillah berhasil,” kenangnya.

Karena kecintaannya pada pendidikan anak yatim dan telantar, Kholik memutuskan untuk mendirikan SD Islam di Desa Arjosari pada tahun 1994. Rencana itu mendapat dukungan penuh dari kepala desa. Bahkan sang kepala desa mewakafkan tanah untuk pendirian SDI yang diberi nama SDI As-Asaid. Setahun kemudian, Kholik menikah dan menetap di desa tersebut.

Di lokasi yang sama, Kholik juga mendirikan empat taman kanak-kanak (TK). Yakni TK Al-Hidayah 1, TK Al-Hidayah 2, TK Diponegoro, dan TK Darussalam. Pada awal pendiriannya, para murid tidak dipungut biaya. ”Waktu itu niatnya memang untuk mewadahi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu,” terangnya.

Namun seiring berjalannya waktu, yang mendaftar ke sekolah tersebut bukan hanya dari kalangan kurang mampu. Akhirnya diberlakukan uang SPP untuk pembangunan gedung dan pengadaan peralatan sekolah lainnya. Tapi untuk anak-anak yatim dan kurang mampu, mereka tetap tidak dikenakan biaya. Bahkan ada yang diberi beasiswa hingga pendidikan tinggi.

Yang menjadi guru di sekolah-sekolah itu adalah anak-anak Desa Arjosari Juga. Mereka wajib sekolah hingga lulus S-1, kemudian kembali ke desa dan merawat sekolah yang sudah dibangun. ”Alhamdulillah berjalan sampai sekarang. Lengkap dengan gedung-gedungnya,” papar Kholik.

Pada 11 Februari 1996, Kholik mendirikan Panti Asuhan Ar-Rahman di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Di desa yang mayoritas penduduknya nonmuslim itu memang banyak sekali anak-anak yatim piatu. Kholik merasa tergugah hatinya dan ingin membantu anak-anak itu agar hidup dengan lebih layak. ”Saya ingat bagaimana nasib saat kecil dulu. Pontang-panting mencari uang. Itu juga yang membuat saya pergi ke Peniwen,” terangnya.

Hal yang paling sulit saat mendirikan panti bukan masalah hidup di tengah warga non muslim. Melainkan biaya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beras untuk dimakan sehari-hari pun tak cukup memenuhi kebutuhan 45 anak yang pertama kali menjadi penghuni panti.

”Saya tidak punya uang sama sekali. Suatu pagi saya hanya bisa berdoa dan mengajak anak-anak untuk memohon rezeki. Alhamdulillah, siang harinya datang bantuan beras 1 kuintal,” kata dia sambil tertawa.

Selama beberapa tahun, panti asuhan itu terus mencoba untuk mandiri. Pertama dengan usaha ternak 50 ayam, namun gagal. Pernah juga ternak 10 ribu bibit lele bantuan dari PLN. Namun setelah di jual tidak mendapat untung. Modal Rp 20 juta, dapatnya hanya Rp 7 juta.

Maret 2020, Kholik memutar otak agar panti asuhan Ar-Rahman bisa benar-benar mandiri. Dia buka tabungan panti asuhan dan melihat ada uang Rp 40 juta. Sebagian dari uang itu dibuat modal mencari teknisi untuk usaha air minum isi ulang. Sebagian lagi dibelikan rangkaian filter air dan peralatan pendukung.

Air minum yang dihasilkan dites ke lab Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, dan ternyata bagus. ”Setelah itu beli galon 500 biji dengan biaya Rp 15 juta. Kalau ditotal, uang tabungan Rp 40 juta sebenarnya tidak cukup. Terpaksa cari pinjaman,” imbuhnya. Air minum produksi panti asuhan itu diberi label Dewandaru. Yang menjadi agen penjualan di luar panti asuhan adalah anak-anak panti yang sudah menjadi alumni. Mereka diberi selisih harga yang layak agar juga bisa merasakan keuntungan.

”Per bulan, rata-rata pemasukan air ke panti asuhan tembus Rp 10 juta. Semuanya dikelola anak-anak panti. Saya sama sekali tidak ikut. Tiap malam Jumat mereka laporan, dan saya hanya mendengarkan,” tutup Kholik. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#TK dan SD untuk Anak Yatim #kromengan #radar malang #Panti Asuhan Ar-Rahman #anak yatim