Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dulu Dilarang Ayah, Kini Produksinya Laris di Pasar Eropa dan Asia

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 14 Februari 2023 | 03:00 WIB
CIRI KHAS: Dariatmo menunjukkan proses pembuatan gitar elektrik yang dilengkapi ukiran manual di rumahnya. (HANIFUDDIN MUSA/RADAR MALANG)
CIRI KHAS: Dariatmo menunjukkan proses pembuatan gitar elektrik yang dilengkapi ukiran manual di rumahnya. (HANIFUDDIN MUSA/RADAR MALANG)
 
Kegigihan Dariatmo Belajar Membuat Gitar sejak Kelas 4 SD

Semasa kecil Dariatmo suka membenahi gitar yang rusak. Saat dewasa, dia menjadikan hobinya itu sebagai mata pencahariannya. Bukan hanya membenahi, melainkan membuat gitar yang sebagian di antaranya memiliki ciri khas. Kini, gitar buatannya yang diberi label Darieos itu sudah punya pelanggan di mancanegara.

HANIFUDDIN MUSA

DARIATMO tak keberatan saat diminta menunjukkan bagaimana proses membuat sebuah gitar akustik. Diambilnya sebuah papan berbahan kayu lapis.

Kemudian dia menggambar pola di atasnya. Garis dari pola itu menjadi panduan memotong kayu lapis yang akan dijadikan bodi gitar akustik.

Cara itu dia lakukan setelah mahir membuat gitar. Pada saat belajar dulu, Dariatmo menggunakan cara berbeda.

Awalnya, pola digambar di atas kertas. Kemudian kertas ditempatkan di atas tripleks, baru kemudian dipotong menggunakan gergaji.

Cara semacam itu kerap membuatnya gagal. Terkadang kertas polanya bergeser, sehingga potongan tripleksnya menjadi menclek.

”Itu sudah menjadi masa lalu, saat awal-awal mencoba membuat gitar,” ujar pria yang tinggal di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang itu.
Baca Juga : Makhrus Soleh, Anak Petani Kelola Banyak Bisnis.

Dariatmo mengaku penasaran dengan gitar sejak kecil. Bahkan saat duduk di bangku kelas empat SD, yakni pada 1980, dia sudah mencoba membuat gitar seadanya.

Beberapa kali malah meminjam gitar rusak milik teman-temannya, lalu mencoba dibetulkan. Hasilnya terkadang bagus, kadang tak berubah.

Namun Dariatmo tidak pernah menyerah. Dia terus belajar membuat gitar, meski kadang dilarang oleh ayahnya yang merupakan tukang bangunan.

”Dulu dilarang sama bapak karena saya sering menghabiskan tripleks beliau. Apalagi waktu itu gitar buatan saya belum laku dijual,” kenangnya.

Saat duduk di bangku SMP, Dariatmo membeli gitar untuk diamati detail bentuknya, termasuk bagaimana cara membuatnya.

Dia juga kerap pergi ke Kota Malang untuk berburu brosur penjualan gitar atau melihat gambar artis yang membawa gitar.

Itu dilakukan untuk mencari inspirasi bentuk atau model yang bagus. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Pada masa itu, Dariatmo tidak berani membuat gitar di rumah lantaran dilarang sang ayah.  Terkadang dilakukan di pekarangan, kadang di rumah temannya.

Dia juga kerap mendapat masukan dari teman-temannya tentang suara gitar buatannya. Misalnya, suara petikan senar kurang bagus.

”Ada teman yang bilang suara bas dari gitar akustik buatan saya kurang menggema,” papar Dariatmo.

Berbekal masukan itu, dia membuat bodi gitar yang agak lebih besar. Dari semula yang tebalnya 10 sentimeter diubah menjadi 12 sentimeter.

Hasilnya jadi lebih bagus. Suaranya juga lebih jernih. ”Yang bisa saya produksi ya bodi gitar dan fingerboard-nya. Kalau untuk senar, tuning keys, frets, dan bridge saya beli semua,” kata dia.

Pertama kali menjual gitar hasil buatannya, Dariatmo hanya mendapatkan uang Rp 15 ribu. Yang membeli temannya sendiri.
Baca Juga : Sukses setelah Berhasil Padukan dengan Musik Pop.

Baru setelah ayahnya meninggal, Dariatmo benar-benar serius membuat gitar untuk dijual ke khalayak umum.

Sambil bekerja sebagai tukang bangunan di Surabaya, Dariatmo kerap membawa gitar buatannya untuk ditawarkan kepada sesama tukang.

Lama-kelamaan gitarnya banyak dibeli orang di Surabaya. Setiap hari Minggu, dia pulang ke Malang untuk membuat gitar.

Balik ke Surabaya, gitar itu ditawarkan kepada rekan-rekan rekannya. Dariatmo juga terus mengembangkan kemampuan membuat gitar.

Pada saat yang sama, ada temannya yang membantu melakukan promosi melalui media sosial. Penjualan pun meningkat.

Dalam sebulan rata-rata dia menyelesaikan produksi 20 gitar. Untuk berbagai model gitar akustik, Dariatmo menawarkan rentang harga antara Rp 600 ribu hingga Rp 6 juta. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Saat ini Dariatmo juga memproduksi gitar elektrik. Ada yang biasa, ada juga yang sangat istimewa karena diukir. Bahannya bisa dari kayu mahoni, kayu mindi, hingga kayu mangga.

Rentang harga yang ditawarkan antara Rp 1,5 juta hingga Rp 60 juta. ”Ukirannya saya buat sendiri secara manual. Murni keterampilan tangan,” ujar Dariatmo.

Gitar listrik ukir itu ternyata banyak diminati di pasar mancanegara. Pesanan datang nari berbagai belahan dunia.

Mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan, Belanda, Prancis, hingga Jerman. Pembeli asing itu ada yang datang secara langsung, ada juga yang pesan secara online.

”Yang langsung datang ke sini itu orang-orang Eropa. Mereka tahu dari unggahan di Facebook dan Instagram,” terangnya.
Baca Juga : Tertarik Bermain Erl Hu Karena Ayah.

Sayang, pandemi Covid-19 juga memukul usaha yang dijalankan Dariatmo. Begitu pun saat pandemi sudah mulai mereda.

Hingga saat ini baru 10 orang dari luar negeri yang memesan gitar buatannya. Padahal sebelum pandemi, sekali kirim bisa 20 gitar.

Saat disinggung tentang merek Darieos yang dia gunakan, Dariatmo mengatakan nama itu punya makna tersendiri.

”Walaupun awalnya dilarang, saya tetap serius membuat gitar. Maka saya kasih nama itu," tutupnya. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##beritamalang #radarmalang #gitar ##jawaposradarmalang ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini