Hari Perempuan Internasional 8 Maret Tahun ini mengangkat tema DigitAll: Innovation and Technology for Gender Equality. Tema itu ingin memperjuangkan hak perempuan dan anak perempuan dalam kemajuan bidang teknologi transformatif dan pendidikan digital. Seperti yang telah dijalani Derry Tanti Wijaya berikut ini.
IBARAT kacang yang tak lupa kulitnya. Itulah yang selalu diupayakan Derry Tanti Wijaya.
Meskipun telah hijrah ke luar negeri sejak 1995, dia tetap berupaya melestarikan budaya dan ragam bahasa di Indonesia. Caranya melalui teknologi.
Derry punya mimpi untuk mengembangkan sistem terjemahan. Sistem itu diharapkan bisa menerjemahkan banyak bahasa-bahasa di Indonesia.
Termasuk yang belum ada di Google Translate. Selain terjemahan, Derry sebenarnya sudah beberapa kali mengembangkan sistem yang memadukan teknologi dan bahasa.
Produk teknologi pertama yang dia buat adalah sistem yang bisa membantu guru-guru SMA menulis surat rekomendasi untuk murid-muridnya dalam Bahasa Inggris.
Itu bisa dilakukan seorang guru tanpa harus memiliki kemampuan menulis Bahasa Inggris yang fasih.
Baca Juga : Ini Tips Amankan Mobile Banking saat HP Hilang agar Saldo Tetap Aman.
Alasan membuat aplikasi itu, Derry terdorong keinginan membantu gurunya yang kesulitan dalam berbahasa Inggris. Sebab, bahasa ibu dari gurunya adalah Mandarin.
Dengan sistem itu, para guru hanya perlu memasukkan catatan mengenai akademis, ekstrakurikuler, dan karakter siswa.
Kemudian sistem akan membuat kalimat-kalimat yang sesuai dengan catatan yang dimasukkan oleh guru. Hasil akhirnya surat rekomendasi dalam bahasa Inggris.
”Saya membuat sistem tersebut saat bersekolah di Tanjong Katong Girls School, Singapura. Jadi semacam tugas akhir sewaktu SMA,” kenang perempuan yang pernah menempuh pendidikan di SD Percobaan Malang, SMP 3 Malang, dan SMA 3 Malang itu.
Saat ini, Derry sedang mengembangkan produk teknologi berupa sistem komputer yang bisa menganalisis isu di bingkai media. Baik surat kabar maupun media sosial.
Sebagai contoh, sistem komputer itu bisa menganalisis isu Covid-19 yang dibingkai dari sudut kesehatan, sudut ekonomi, sudut pendidikan, atau sudut politik.
Sistem yang dinamai OpenFraming AI ini bisa diakses siapa saja. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Keinginan Derry untuk melestarikan bahasa yang dikolaborasikan dengan teknologi tidak lepas dari kecintaannya terhadap teknologi.
Kecintaan tersebut muncul sejak Derry kecil. Perempuan kelahiran 1979 itu mulai mengenal teknologi saat ibunya pertama kali membelikan komputer.
”Waktu itu saya masih SD. Dulu komputer merupakan hal yang baru. Tapi yang menggunakan justru saya untuk bermain game,” kata Derry.
Karena tidak memiliki latar belakang keluarga yang menekuni teknologi, hanya Derry yang senang menggunakan komputer tersebut.
Dia pula yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi. Lambat laun, Derry mulai mempelajari teknologi secara otodidak.
Dia hanya mengikuti kursus singkat pemrograman saat SMP. Pada 1995, Derry hijrah ke Singapura.
Baca Juga : Prioritaskan G20, BRI Hadirkan BRIBRAIN Academy, Kembangkan Artificial Intelligence.
Itu setelah sang ibu, Sri Umi Mintarti Widjaja, iseng mendaftarkannya ke Program Beasiswa ASEAN. Dari sana, Derry mantap menekuni teknologi.
Dia kemudian kuliah di National University of Singapore. Pendidikannya berlanjut ke Carnegie Mellon University untuk pendidikan S3 dan menjalani post-doctoral di University of Pennsylvania.
Derry menyadari, keterlibatan perempuan Indonesia di bidang teknologi masih minim. Terutama perempuan asal Malang. Untuk itu, Derry ingin memberdayakan masyarakat di lingkup lokal.
”Selain mengembangkan produk teknologi untuk menganalisis isu, saya juga sedang memulai proyek penelitian dengan peneliti-peneliti lokal untuk mengoleksi artefak-artefak dan bahasa-bahasa daerah dari Indonesia,” beber perempuan berkacamata tersebut.
Koleksi itu nantinya akan dikembangkan dalam beragam bentuk. Mulai dari buku-buku, majalah, hingga surat kabar.
Baik dalam bentuk online maupun tercetak. Untuk proyek ini, Derry sedang dalam tahap merekrut rekan-rekannya dari Indonesia.
”Saya ingin melestarikan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Sehingga data yang terkumpul dari proyek ini bisa digunakan membangun teknologi untuk bahasa-bahasa itu, termasuk sistem terjemahan,” tandas perempuan yang kini menjadi associate professor data science di Monash University Indonesia itu. (mel/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana