Personel Damkar Kota Malang dinobatkan sebagai salah satu yang paling tangkas di Indonesia. Itu setelah mereka meraih juara tiga ajang National Firefighter Skill Competition (NFSC) di Jakarta, 26-28 Februari lalu.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
DALAM hitungan ketiga, empat personel Damkar Kota Malang langsung melesat. Masing-masing mengambil tabung berisi oksigen, kemudian memasangkan di tubuh mereka.
Dengan perlengkapan itu, mereka berlari ke mobil yang berjarak beberapa meter, lalu mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk memadamkan si jago merah.
Ada yang bertugas mengambil gulungan selang panjang, membuka keran air, dan ada pula yang mengambil alat untuk mencongkel penghalang.
Bisa berupa pintu, jendela, dan lainnya. Setelah pintu penghalang terbuka, personel di bagian depan langsung memasuki lorong sepanjang sekitar 3 meter.
Sementara, personel kedua selalu siaga. Ketika personel pertama berhasil masuk objek yang terbakar, personel lain menyambung selang, kemudian menyemprotkan air ke objek kebakaran.
”Secara keseluruhan, kami berhasil menyelesaikan semua tantangan dalam waktu empat menit 11 detik,” ujar Kepala UPT Damkar Kota Malang M Teguh Wibowo ditemui saat bersiaga di markas Jalan Bingkil, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang kemarin (16/3).
Baca Juga : Cerita Karman, dari Penambang Pasir Diangkat Jadi Petugas Damkar.
Atas kecepatan dan ketangkasan tersebut, kontingen Kota Malang meraih juara tiga NFSC untuk kategori hose laying (ketangkasan dalam menggelar selang dan menyemprot).
Ada dua kategori dalam lomba yang digelar oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu. Yakni kategori survival (adu tangkas fisik personel) dan hose laying.
Tim Kota Malang meraih juara tiga untuk kategori hose laying.
“Juara satu dan dua disikat Kabupaten Bogor yang menurunkan dua tim. Kami berada di peringkat ketiga karena kalah di kategori survival,” katanya.
Total ada 50 tim dari 37 kabupaten/kota se-Indonesia yang mengikuti perlombaan tersebut. Semua peserta berkompetisi dalam dua kategori.
Dengan meraih juara ketiga hose laying, berarti Damkar Kota Malang termasuk salah satu yang tercepat di Indonesia. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Teguh dan empat personel yang diterjunkan tidak menduga akan memenangkan kompetisi tersebut.
Sebab, tim yang bersaing dengan Kota Malang termasuk juara bertahan. Yakni Makassar, Palopo, dan Sidenreng Rappang (Sidrap).
Ketiga daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) tersebut selalu meraih juara sejak 2016 silam. Palopo dan Makassar meraih juara terbanyak. Masing-masing dua kali juara pertama.
Keempat personel yang mengharumkan Kota Malang di kancah nasional itu adalah, Galih Joko, Rizky Nur Muhammad, Pandu Novan, dan Yuniko Atis.
Semuanya baru pertama kali mengikuti perlombaan tingkat nasional. Salah satu anggota tim, Galih Joko memaparkan perjuangan timnya.
Dia menceritakan dari awal hingga dinobatkan menjadi juara ketiga. Mereka mampu menjaga kecepatan dan ketangkasan sejak babak penyisihan hingga babak final.
Baca Juga : Percepat Padamkan Api, Bangun Pos Damkar di Tiap Kecamatan.
“Pas penyisihan ya bisa empat menit 10 detik. Kemudian babak final empat menit 11 detik,” kata Joko.
Pemuda asal Blora, Jawa Tengah bersyukur bisa memenangkan kompetisi. Padahal dia merasa tantangan kompetisi kali ini lebih berat.
Itu dibandingkan tantangan pada perlombaan tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya, berdasar cerita para seniornya.
Dulu, pada tahap membuka halangan di gorong-gorong harus menggunakan kapak, dan halangannya berupa lapisan besi.
Pemakaian tandu untuk evakuasi korban juga baru diterapkan tahun 2023 ini. Dalam hose laying, dua hal yang menjadi penilaian.
Yakni ketepatan dalam melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan kecepatan penyelesaian. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Selama lomba berlangsung, banyak dari peserta yang menyamai perolehan waktu. Tetapi, kalah dalam hal pelaksanaan SOP.
Misalnya, Makassar yang menerjunkan dua tim dan menempati urutan ke 8 dan 14 klasemen.
”Ini kali kedua Kota Malang meraih juara tiga, di lomba dan kategori yang sama,” terangnya.
Pada perlombaan 2020 lalu, Kota Malang juga berada di peringkat tiga besar. ”Kami ini awalnya hanya partisipasi saja,” kata Pelatih Tim Kontingen Malang Andik Winarko.
Andik optimistis mampu meraih juara 1 atau 2 jika mempunyai banyak waktu untuk persiapan.
Sebelumnya, tim Kota Malang hanya mempunyai waktu empat pekan untuk mempersiapkan lomba.
Baca Juga : Menunggu Realisasi Pos Damkar.
”Berbeda dengan yang lainnya (tim daerah lain) yang mempunyai waktu berbulan-bulan,” kata Andik.
Bagi Andik, waktu yang singkat bukan halangan. Dalam kompetisi tersebut, dia menilai kontingen Kota Malang sebagai ‘kuda hitam’.
Artinya, tidak ada yang menjagokan Kota Malang, namun realitasnya mampu menembus tiga besar.
”Di antara tim lain, Kota Malang ini satu-satunya yang statusnya UPT dari Satpol PP. Yang lain sudah menjadi perangkat daerah (PD) secara mandiri,” kata dia.(*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana