AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN
PELUH masih membasahi wajahnya, kemarin siang (15/5). Dengan napas yang masih memburu, dia mempersilakan Jawa Pos Radar Malang masuk ke rumahnya di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu.
”Saya baru mengantar pelana dari Lawang,” kata Sutikno mengawali pembicaraan dengan wartawan koran ini.
Sejatinya Sutikno bukan murni penjual pelana. Pria 65 tahun itu merupakan pelatih joki yang andal, kemudian memproduksi pelana dan diminati banyak orang.
Profesi pelatih joki ditekuni sejak 1970 silam. Lebih dari separo hidupnya dihabiskan untuk melatih joki. Selama 53 tahun itu, dia telah melahirkan banyak joki-joki berprestasi. Yang masih dia ingat, lima anak didiknya berhasil mengukir prestasi. Mulai tingkat kabupaten/kota hingga nasional.
Di antaranya, Agus, Lukito Siswoyo, Eko, Muhammad Panji Saputra, dan Arisma Aji Setiawan. Eko merupakan langganan juara nasional. Kini, Eko sedang menyiapkan diri untuk tanding pacuan kuda di Sawahlunto, Sumatera Barat. Sedangkan Lukito Siswoyo yang sudah beberapa kali meraih juara itu mengikuti jejak sang guru, yakni menjadi pelatih joki.
Bagi Sutikno, ada kebanggaan tersendiri ketika anak didiknya menjadi juara joki. ”Setiap kali saya melihat anak didik yang menang bertanding dalam pacuan kuda, ada rasa senang yang luar biasa,” ungkap Sutikno sembari memegang dadanya.
Lantas apa rahasia Sutikno sehingga mampu melahirkan banyak joki berprestasi? Barangkali materi latihannya tidak jauh beda dengan pelatih lain. Namun dia selalu menanamkan kedisiplinan yang tinggi kepada seluruh anak didiknya.
”Setiap hari saya selalu berpesan tentang kedisiplinan latihan dan pentingnya keselamatan,” terang pria kelahiran Kota Batu, 12 Februari 1958 itu.
Dia punya alasan kuat kenapa menekankan kedisiplinan kepada anak didiknya. Selain menjadi kunci kesuksesan dalam berlatih, disiplin juga mampu turut andil mengantisipasi kecelakaan dalam berlatih maupun bertanding.
”Kalau joki terjatuh di pacuan itu bisa berakibat fatal. Seringnya patah tulang, bahkan ada yang meninggal terinjak kuda,” cerita dia.
Puluhan tahun bergelut di dunia pacuan kuda, dia punya pengalaman yang tidak terlupakan. Pada 2000 silam, dia bersama lima kawannya menaiki kuda di penanjakan Gunung Bromo. Saat menanjak, kaki kuda bergetar seolah merasakan tanah hingga bebatuan yang licin. Seketika itu, dia terjatuh dari kuda. ”Jatuh dari kuda itu rasa sakitnya luar biasa. Tangan saya bengkak. Mayoritas efeknya lebih kepada luka dalam,” kenang Sutikno.
Meski pernah jatuh dari kuda, namun pengalaman pahit itu tak menghalangi semangat bapak tiga anak ini untuk tetap menunggangi kuda. Baginya, perlombaan pacuan kuda juga memiliki tantangan cukup berat, terutama ketika badai dan hujan deras.
”Kalau perlombaan pacuan kuda, waktunya sebentar. Mau hujan sekali pun ya tetap jalan,” tambahnya. Yang terpenting, sang joki pacuan kuda harus memperhatikan perlengkapannya. Mulai helm, sepatu, dan sebagainya. Itu juga yang diajarkan kepada muridnya, termasuk kedua anaknya yang juga joki kuda.
Salah satu anak didiknya, Muhammad Panji Saputra merasakan gemblengan Sutikno. ”Selama dilatih Pak Tik (Sutikno), saya selalu diberikan pesan bahwa kalah menang itu tidak penting. Yang utama adalah keselamatan joki dan kuda,” kata Saputra.
Di bawah bimbingan Sutikno, Saputra berhasil menyabet juara I Kelas F Eksibisi Porprov Jawa Timur VIII 2022. Saputra juga mewarisi semangat Pak Tik. ”Meski saya pernah digigit kuda, bahkan jatuh sampai tidak bisa berjalan seminggu, saya tidak trauma. Justru lebih semangat,” kata pria 23 tahun itu.(*/dan). Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana