Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Korban Luka Tragedi Kanjuruhan, Masih Sering Pusing saat Malam Hari

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 30 September 2023 | 20:00 WIB
Yoyok Indra Andrianto bersama anak kesayangannya, Debora Acha Stephani yang merupakan korban luka tragedi Kanjuruhan.
Yoyok Indra Andrianto bersama anak kesayangannya, Debora Acha Stephani yang merupakan korban luka tragedi Kanjuruhan.

MALANG - Yoyok Indra Adrianto memilih menarik napas panjang sebelum bercerita tentang kondisi anak kesayangan, Debora Ancha Stephani yang merupakan korban terluka dari tragedi Kanjuruhan.

”Saat dia gelisah, tangan kanan dan kirinya masih sering tremor Mas,” kata pria berusia 50 tahun tersebut.

Yang cukup membuat warga Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar itu khawatir yakni Debora kini lebih pelupa.

Di momen-momen tertentu, anak pertamanya itu juga sulit untuk bicara.

Karena itu, Debora tak lagi leluasa beraktivitas seperti dulu.

Dia dilarang beraktivitas yang membuat fisiknya kelelahan.

Selain itu, ada juga yang membuat pikirannya terbebani.

Apabila pantangan tersebut dilanggar, dia bisa langsung merasakan beberapa problem tadi.

Yoyok menyebut bila anaknya sulit melanjutkan pendidikan selepas lulus dari SMA pada tahun ini.

Anaknya sempat mencoba bekerja di Taman Hiburan Blitar Park di bagian administrasi.

Namun hanya bertahan dua hari saja.

”Pikiran dan tenaganya sudah tidak kuat,” kenangnya.

Dia menjelaskan bila Debora dulu didiagnosis dokter mengalami pembengkakan di bagian otak.

Di bagian dada dan wajah juga ada memar.

Tercatat, anaknya sempat dirawat intensif di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang selama 19 hari.

Saat ini, untuk meredakan problem sang putri, Yoyok menempuh dua cara.

Pertama, rutin periksa ke dokter.

Kedua, mencoba pengobatan alternatif.

”Debora coba menjalani terapi akupunktur untuk pemulihan,” terangnya.

Pengobatan tersebut cukup memberikan efek positif.

Salah satunya sakit tremor anaknya mereda.

”Alhamdulillah perlahan-lahan pulih, meski tidak sekuat dulu,” terangnya.

Sementara itu, Debora mengaku masih sering merasakan pusing.

Momen itu sering terjadi saat malam hari.

”Jelang tidur sering begitu, tiba-tiba kepala sakit nyut-nyutan,” kata dia.

Akibatnya, dia kerap susah tidur.

Gejala seperti itu bisa dia rasakan empat kali dalam sepekan.

Dara berusia 19 tahun tersebut mengaku ingin melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan.

Namun tahun ini dia gagal masuk kampus karena tidak kuat menjalani ujian.

”Kemarin saat UTBK sudah mencoba. Tapi saya tidak kuat, kepala pusing, tubuh lemas setelah mencoba menyelesaikan soal,” paparnya.

Untuk melawan rasa trauma, dia sempat berupaya untuk kembali ke stadion.

Debora sempat datang ke pertandingan antara Persik Kediri melawan Arema FC, 15 Juli lalu.

Namun upayanya belum berjalan sesuai rencana.

Dia tak sampai masuk ke stadion karena belum siap dengan atmosfer dan suasana ramai di dalamnya. (gp/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Tragedi Kanjuruhan #korban