Bikin 100 Topeng Mini dengan 86 Karakter Berbeda
Muhammad Sugeng adalah sosok di balik pecahnya rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) di Museum Gubug Wayang Mojokerto, 28 September lalu. Seniman asal Jabung, Kabupaten Malang itu membuat 100 topeng panji malangan berukuran mini, kemudian karyanya diapresiasi MURI.
DANANG PRIAMBODO
SAMBIL meneropong menggunakan kaca pembesar, Muhammad Sugeng terampil mengukir kayu berukuran 2 sentimeter. Beberapa saat kemudian, kayu yang semula kotak berubah menjadi topeng. Aktivitas pembuatan topeng panji malangan itu rutin dilakukan pria yang biasa disapa Mas Liehong tersebut.
”Tidak mudah membuat karya berukuran kecil. Harus detail. Mungkin satu topeng bisa satu minggu,” ujar Mas Liehong ditemui di rumahnya RT 04 RW 02 Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, kemarin.
Liehong adalah sosok di balik pecahnya Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) di Museum Gubug Wayang Mojokerto, 28 September lalu. Dia berhasil membuat 100 topeng panji malangan berukuran mini. Karyanya diapresiasi MURI karena ukurannya paling kecil se Indonesia.
Sebelumnya, Liehong adalah pemuda biasa. Tak jauh beda dengan pemuda lain yang tinggal di gang tato. Dia termotivasi membuat karya seni karena ingin mengubah stigma negatif, bahwa gang tato dikenal sebagai kawasan merah. Misalnya tempat remaja yang suka mabuk-mabukan dan menato tubuhnya. ”Dulu anak-anak dari pada mabuk, judi, dan miras. Saya ajak ke rumah untuk membantu membuat topeng malangan,” kenang pria berusia 40 tahun itu.
Akhirnya dia bersama beberapa temannya mendirikan Gubuk Baca Gang Tato. Letaknya di RT 4 RW 2 Desa Kemantren, Jabung, Kabupaten Malang. Berangkat dari Gubuk Baca Gang Tato itulah Liehong mulai mendedikasikan hidupnya untuk merawat budaya. Salah satunya topeng malangan. Sudah ratusan topeng berukuran normal dia buat. ”Tantangannya ya harus detail,” kata dia.
Untuk memastikan detailnya setiap ukiran, dia harus menggunakan dua lapis kaca pembesar. Kemahiran Liehong berkarya karena sudah menguasai teknik memahat dan menggambar dari ayahnya yang merupakan tukang kayu. ”Ketika kecil saya suka menggambar di buku SD. SMP-SMA sudah berani sketsa tattoo,” beber pria yang bertato itu.
Pada tahun 2016 Liehong mengikuti sebuah acara di Desa Taji. Dari situ dia mulai tertarik mendalami topeng malangan. Sebelum memahat, dia harus belajar menari selama satu tahun untuk mendapatkan pakem dari setiap karakter topeng malangan. Sebab, topeng malangan dipakai sambil menari, sehingga butuh keserasian gerakan tari, musik, dan budaya.
Kepiawaian Liehong membuat topeng didengar seniman dari daerah lain. Beberapa bulan lalu, dia dimintai bantuan oleh seniman Museum Gubug Wayang Mojokerto. Mereka akan memecahkan MURI dengan membuat 100 topeng berukuran mini dengan 86 karakter berbeda. ”Saat itu ada teman yang menanyakan, bisa tidak membuatkan topeng kecil dengan jumlah yang banyak untuk museum,” ungkapnya.
Dia pun menerima tawaran tersebut. Hari demi hari dihabiskan untuk membuat topeng yang berukuran tidak lebih dari 3 sentimeter itu. Dengan ukuran yang tidak biasa, Liehong beberapa kali mengalami kesulitan ketika membuat topeng berukuran 1,5 sentimeter.
Selain detail dari setiap karakter, perlu ketelatenan khusus untuk membuat ukiran dari topeng tersebut. Bahan bakunya pun tidak bisa sembarangan. Harus kayu kemuning atau sonokeling. Setelah berbulan-bulan lembur, dia berhasil menuntaskan 100 topeng mini dan Museum Gubug Wayang Mojokerto berhasil memecahkan rekor MURI.
Dia merasa, ide membuat topeng malangan mini berawal dari ketidaksengajaan. ”Dulunya juga buat topeng dengan ukuran normal. Lalu iseng coba buat ukuran lebih kecil, ternyata banyak yang suka dan pesan,” kata seniman yang pernah membuat topeng berukuran hanya satu sentimeter itu.
Untuk sementara, Liehong sebatas memproduksi topeng untuk pesanan. Untuk 1 topeng buatannya, harganya bervariasi. Topeng termahal dibanderol Rp 300 ribu. Harga ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan.
Untuk mengenalkan topeng panji malangan, dia menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Juga mengajari anak-anak di sekitarnya untuk belajar membuat topeng. ”Kami masih mengajari anak-anak di setiap SD untuk membuat topeng malangan dengan bahan sederhana,” tuturnya.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana