Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Terinspirasi Wartawan, Karya Lingga Galih Permadi asal Kota Batu Tembus Festival Film Asia

Mahmudan • Selasa, 16 Januari 2024 | 18:21 WIB
SINEAS MUDA: Lingga Galih Permadi saat proses pembuatan film di Kota Batu. Foto kanan, cover film Serdadu Apel Emas yang diputar di ajang Jogja - NETPAC Asian Film Festival (JAFF)
SINEAS MUDA: Lingga Galih Permadi saat proses pembuatan film di Kota Batu. Foto kanan, cover film Serdadu Apel Emas yang diputar di ajang Jogja - NETPAC Asian Film Festival (JAFF)

Melalui film, Lingga Galih Permadi mengenalkan Kota Batu ke kancah nasional, bahkan Asia.Dia sukses memproduksi tujuh film, salah satunya masuk Festival Film Asia, yakni Jogja - NETPAC Asian Film Festival (JAFF). 

DUDUK menghadap kamera, sorot mata Lingga Galih Permadi tertuju pada layar kecil.

Melalui layar itu dia memperhatikan dua pemain film yang sedang berdialog.

Butuh kejelian untuk mengamati apakah visualisasi adegan sudah sesuai atau tidak.

Aktivitas itu dilakukan Lingga sepanjang syuting berlangsung.

Itulah tugas seorang sinematografer, orang yang bertanggung jawab dalam pengambilan gambar sebuah film.

Mulai gerakan kamera hingga pencahayaannya.

”Sejak 2015 saya sudah menjadi sinametografer,” ujar Lingga di salah satu kedai kopi kawasan Kota Batu, Sabtu lalu (13/1).

Kecintaannya terhadap dunia film muncul sejak menyaksikan seorang wartawan televisi bertugas di daerah konflik.

Ketika masih SMP, Lingga sering melihat siaran televisi yang menayangkan konflik di Aceh.

Dalam siaran televisi tersebut, dia kagum ketika melihat wartawan melaporkan hasil liputan

”Saya masih ingat wartawan itu bernama Ersa Siregar. Dia meninggal akibat terkena tembakan,” ceritanya.

Melihat perjuangan jurnalis itu, Lingga ingin mendalami ilmu jurnalistik.

Usai menamatkan pendidikan di SMP, dia melanjutkan ke SMKN 3 Kota Batu dengan jurusan broadcasting dan perfilman. Di situlah dia memahami tugas jurnalis dan dunia perfilman.

”Lama kelamaan tertarik membuat film dokumenter dan ingin mengetahui proses di balik layar,” tutur pria yang pernah magang di SBO TV itu.

Dari SMKN 3 Kota Batu, pada 2009 dia melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Dia memilih jurusan film dan televisi.

Usai menamatkan kuliah, pria yang kini berusia 32 tahun itu mendirikan Production House (PH) bernama Confeti Media.

PH ini diciptakan untuk pembuatan iklan, web series, video klip musik, dan sebagainya.

Sedangkan untuk film, dia fokus menggarap film anakanak diiringi nuansa musik.

Misinya ingin mengedukasi. Selalu ada pesan moral yang ingin dia sampaikan.

”Tapi film anak-anak sekarang nggak se-ramai dulu,” keluh Lingga.

Dia menyebut beberapa film anak yang populer kala itu.

”Petualangan Sherina dan Joshua oh Joshua sangat terkenal di zaman itu,” tambah pria kelahiran Malang, 18 Agustus 1991 itu.

Usai menamatkan kuliah dan mendirikan PH, dia mulai menggarap film.

Karya pertama garapan Lingga berjudul Serdadu Apel Emas.

Film yang diproduksi pada September 2023 tersebut di-launching pada November 2023 lalu.

Film itu mengisahkan lima sekawan yang hidup di Kota Batu.

Mereka prihatin dengan produksi apel yang terus menurun, bahkan terancam punah.

Padahal apel merupakan ikon kota wisata batu.

Atas keprihatinan tersebut, mereka bertekad menyelamatkan satu-satunya pohon apel agar dapat kembali berbuah.

Sehingga tanah perkebunan apel tidak jadi dijual.

Dalam perjalanannya, ada tantangan dalam membuat film tersebut.

”Dalam prosesnya, naskah film itu sempat saya buang sekitar 15 lembar. Ada keraguan saat membuat jalan ceritanya,” kata Lingga.

Setelah mengurungkan niatnya membuang naskah skenario film, Lingga mendapat kemudahan.

Film garapannya mendapat sokongan dana dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

”Saya bersyukur produksi film ini didanai oleh Indonesiana. Yakni kanal yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek,” terang ayah anak satu ini.

Berkat pendanaan tersebut, Lingga melibatkan 50 orang praktisi film Se-Malang Raya untuk proses syuting pada September 2023.

Dia merencanakan proses syuting berlangsung 2 hari.

Namun karena melibatkan anak-anak (pelajar) akhirnya menjadi 3 hari.

”Tantangannya adalah energi anak-anak pun ada batasnya.Kita tidak bisa memaksa mereka. Apalagi, syutingnya full outdoor di Bukit Jengkoang Kota Batu dan Perkebunan Apel, Desa Tulungrejo,” imbuhnya.

Salah satu aktor cilik sempat sakit namun, semua berhasil diatasi dengan penataan penampilan dan make up.

Ada cerita yang mengesankan dalam pembuatan film tersebut.

Lingga dan tim penata artistik membawa pohon apel setinggi 2,5 meter dari perkebunan di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo menuju Bukit Jengkoang di Desa Bulukerto.

”Di Bukit Jengkoang tanahnya tandus. Sehingga kita harus memindahkan pohon apel dengan ekstra,” kenangnya.

Selain urusan properti, proses syuting juga sempat terganggu cuaca.

Selama dua hari, cuacanya hujan dan berkabut.

Padahal, scene yang bakal ia garap adalah suasana ceria.

Akhirnya, ia harus memutar otak agar adegan sedih dilakukan terlebih dahulu.

Akhirnya film rampung pada November 2023 lalu.

Tak disangka, film Serdadu Apel Emas berhasil diputar dalam Festival Film Asia-Pasifik. Tepatnya, Jogja - NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

”Kami senang sekali atas pencapaian tersebut. Semua bisa berhasil berkat kinerja tim dan aktor yang luar biasa,” tuturnya.

Selain film tersebut, Lingga juga menggarap film lain.

Hingga kini ada 9 film yang sinematografinya melibatkan dia.

Di antaranya Ghulam, Jangkakala, Marbut, Tinuk, Jingga, Oskab Geger Geden, Ora Srawung, dan Mati Suwung.

Dalam film berjudul Ora Srawung, Mati Suwung, Lingga berhasil meraih apresiasi dari SeaShorts Film Festival (Malaysia) dan Balinale International Film Festival.

Lingga selalu percaya bahwa keinginan menjadi kunci utama untuk meraih impiannya.

”Kalau kita berani memilih mimpi kita, ya perjuangan kan hal itu.

Karena manusia dianugerahi kecerdasan oleh Tuhan untuk menghasilkan karya-karya Baca Terinspirasi... Hal 7 terbaik,” pungkasnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Lingga Galih Permadi #Festival Film Asia