Tugas di daerah konflik kerap memanggil Serka Sukir.
Personel Paskhas Lanud Abdul Rachman Saleh Malang itu pernah dikirim ke Ambon, perbatasan Papua dengan Papua Nugini, Aceh, hingga Lebanon.
Beberapa kali sampai harus melakukan kontak senjata.
PADA 2022 lalu, Sukir dikirim ke Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah.
Dia berangkat bersama 125 personel dari Batalyon Komando (Yonko) 464 Paskhas Lanud Abdul Rachman Saleh Malang.
Keberangkatan mereka dalam rangka Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Republik Indonesia (RI)-Papua Nugini (PNG).
Terutama untuk mengamankan bandara dari serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan teritorial.
Pengamanan di lokasi itu memang perlu dilakukan.
Sebab, Distrik Sugapa merupakan daerah rawan kontak tembak.
Beberapa aksi kerap dilancarkan KKB ke aparat TNI maupun Polri.
Mereka juga pernah membakar rumah warga, menembak secara brutal, hingga memasuki kawasan Bandara Bilorai.
”Saat saya bertugas di sana, terhitung ada delapan kali kontak tembak dengan KKB,” kenang lelaki asal Magelang tersebut.
Untungnya tidak ada korban jiwa dari pihak Yonko 464 dalam delapan kali kontak senjata itu.
Mereka mampu melindungi diri dengan persenjataan lengkap.
Salah satunya SS1 (Senapan Serbu 1).
Senapan yang diproduksi PT Pindad tersebut bisa digunakan secara otomatis maupun manual.
Kontak tembak dengan KKB tidak hanya dirasakan Sukir di Papua.
Dia sudah 25 tahun malang melintang menghadapi KKB.
Tepatnya sejak bertugas menjadi TNI AU pada 1999.
Penugasan pertamanya berlangsung pada tahun 2000 di Ambon, Maluku.
Namun, saat itu tidak sampai terjadi kontak tembak karena penugasan tersebut hanya bersifat mediasi.
Baca Juga: Tentara AS Latihan di Malang
Kala itu terjadi konflik antara kelompok warga muslim dan pemeluk agama Kristen.
Kemudian pada 2001, Sukir dikirim ke Aceh selama sekitar 1,5 tahun.
Dia bertugas sebelum status Aceh ditetapkan darurat militer.
”Awalnya saya ditugaskan saat Aceh masih darurat sipil. Jadi, tindakan yang kami lakukan ke masyarakat baru sebatas membantu kepolisian dan persuasif ke masyarakat,” jelas lakilaki kelahiran 7 November 1987 tersebut.
Setelah tiga bulan, status darurat di Aceh meningkat menjadi darurat militer.
Sebab, ada beberapa kelompok yang mulai melakukan penyerangan.
Kelompok tersebut dikenal dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Untuk memberantas GAM, aparat melakukan penyisiran.
Sukir pernah membantu melakukan penyisiran ke beberapa kawasan di Aceh.
Mulai Lamno di pesisir pantai barat Aceh, Kota Sigli di Kabupaten Pidie, hingga pegunungan.
Jika menemukan kelompok bersenjata, aparat biasanya melakukan pembinaan.
”Kalau masih ingin kembali ke NKRI ya kami fasilitasi. Sebaliknya kalau tidak bisa diajak kembali ya ditangkap atau ditembak di tempat,” terang dia.
Yang paling menantang adalah saat menyisir perkampungan.
Mereka agak kesulitan membedakan anggota GAM dengan warga sipil.
Namun, dengan data yang dikantongi aparat, kelompok bersenjata bisa dikenali.
Di samping itu, terkadang kelompok bersenjata menggunakan atribut seperti kalung, gelang, dan menyimpan bendera di saku.
Selama di Aceh, ada satu momen yang paling diingat Sukir.
Saat itu dia sedang menjaga pos bagian belakang.
Menjelang pukul 17.00, kelompok bersenjata melakukan penembakan dari jarak 200 meter.
”Pasukan kami tidak sampai terluka. Tapi ada kerugian karena posnya sampai hancur,” kenangnya.
Setelah penugasan di Aceh, Sukir dikirim ke Lebanon pada 2012-2013.
Dia bergabung dengan pasukan perdamaian PBB atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Total ada 1.016 personel yang dikirim ke sana.
Berbeda dengan penugasan di Aceh maupun Papua, di Lebanon para pasukan harus meminimalisir kontak senjata.
Hanya saja, sempat ada pasukan Israel yang mengarahkan senjata ke Lebanon.
Hal tersebut membuat ekskalasi konflik sedikit meningkat meski tak sampai ada gesekan.
Penugasan Sukir ke berbagai lokasi konflik sempat membuat keluarganya keberatan.
Terutama sang anak yang kaget karena kerap ditinggal.
Bahkan, anak bungsunya yang bernama Faiza Arif Rahman Saputra sempat tidak mengenalinya.
”Karena waktu saya berangkat, dia lahir. Baru ketemu lagi umur satu tahun,” kenang suami Tika Restulina tersebut. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana