Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Fira Dwijayanti Dorong Inovasi Puskesmas Janti Malang Ramah Difabel Netra, Bikin Resep Pakai Huruf Braille dan Jadi Jujukan Studi Banding

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 12 November 2024 | 01:00 WIB
INOVATIF: Fira Dwijayanti menunjukkan papan penanda yang dilengkapi huruf braille di Puskesmas Janti Sabtu lalu (9/11).
INOVATIF: Fira Dwijayanti menunjukkan papan penanda yang dilengkapi huruf braille di Puskesmas Janti Sabtu lalu (9/11).

Berawal dari kendala pasien difabel netra untuk mengakses pelayanan kesehatan di Puskesmas Janti, Fira Dwijayanti menggagas inovasi Brexit. Program itu terbukti mampu membuat para difabel netra mendapatkan pelayanan yang lebih baik dan menjadi mandiri. Brexit juga telah mendapat penghargaan di tingkat daerah sampai nasional.

GRATIO IGNATIUS SANI BERIBE TENAGA

TEKNIS Kefarmasian Puskesmas Janti Kota Malang Fira Jayanti begitu heran.

Sudah sebulan lebih Fira menyiapkan resep obat yang sama untuk seorang pasien difabel netra.

Pasien Fira itu mempunyai keluhan kadar asam urat yang tinggi.

Bagi Fira, hal itu merupakan sebuah keanehan.

Umumnya, kadar asam urat seseorang turun drastis dalam waktu sebulan jika mengonsumsi obat dengan rutin.

”Tapi kadar asam urat pasien itu tetap di atas 8. Padahal batas normalnya 7,” tutur Fira mengingat kejadian pada 2017 silam.

Keresahan Fira semakin besar karena efek pengobatan yang tidak signifikan bukan hanya dialami satu pasien.

Banyak pasien difabel netra lain di Puskesmas Janti mengalami hal yang sama.

”Kami harus cari solusinya. Apalagi puskesmas kami melayani banyak warga difabel netra,” ungkap perempuan berusia 39 tahun itu.

Pada waktu itu Puskesmas Janti memang rutin memberikan layanan kesehatan untuk sekitar 150 warga difabel netra.

Itu karena terdapat UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra Malang (RSBN) di wilayah pelayanannya.

RSBN merupakan bagian dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur yang menjadi tempat pendidikan nonformal bagi warga difabel netra untuk mengembangkan keterampilan hidup dan skill bekerja.

Fira lantas mencari tahu penyebab ”kejanggalan” hasil pengobatan yang terjadi pada pasien difabel netra.

Dari hasil diskusi dengan para pasien, akhirnya diketahui bahwa mereka kesulitan memahami aturan minum obat.

Rata-rata mereka hanya mengandalkan ingatan untuk menjalankan aturan dan resep dokter.

Akibatnya sering terjadi kekeliruan konsumsi obat.

”Akhirnya tercetus ide untuk membuat resep obat menggunakan huruf braille,” jelas Fira.

Tapi, untuk mewujudkannya tentu tidak mudah.

Tak satu pun tenaga kefarmasian di Puskesmas Janti pernah belajar huruf braille.

Mereka akhirnya mengadakan pelatihan penulisan huruf braille langsung dengan para difabel netra.

Mempelajari huruf braille ternyata tidak mudah.

Sebab huruf braille harus ditulis dari kanan ke kiri.

Sementara membacanya dari arah sebaliknya.

”Awalnya saya dan teman-teman menulis hurufnya masih sering terbalik,” jelas perempuan asal Kota Batu itu.

Butuh waktu tiga bulan bagi Fira dan para tenaga teknis kefarmasian Puskesmas Janti lainnya untuk mempelajari huruf braille.

Mereka akhirnya bisa menerapkan ide menulis resep obat menggunakan tulisan tersebut.

Efeknya, ternyata begitu besar.

Dari survei yang dilakukan oleh Puskesmas Janti, sebelum adanya resep obat braille, tingkat kemandirian pasien difabel netra dalam memahami aturan minum obat hanya 34 persen.

Setahun kemudian bisa meningkat sebesar 74 persen.

Sukses menerapkan resep obat dengan tulisan braille, Puskesmas Janti tak berhenti meningkatkan layanan.

Mereka kembali ngobrol dengan para pasien difabel netra.

Ternyata masih ada keluhan dalam mengakses pelayanan di puskesmas.

Para difabel netra meminta penyediaan fasilitas pendukung untuk memudahkan mereka dalam melakukan mobilisasi di puskesmas.

Di antaranya dengan menyediakan guiding block atau lantai bertekstur serta papan penanda ruangan berhuruf braille.

Fira dan kawan-kawan sempat kesulitan menyediakan fasilitas itu karena faktor pendanaan.

Untuk sementara mereka menyediakan karpet berwarna merah di dalam puskesmas sebagai tanda jalur khusus difabel.

Kemudian juga disediakan papan penanda dengan bahan papan kayu dan paku payung sebagai tekstur huruf braille.

”Dengan fasilitas itu, teman-teman difabel netra bisa mandiri berjalan untuk mengakses pelayanan. Sebelumnya mereka harus digandeng oleh para pendamping,” jelas Fira.

Berbekal sejumlah terobosan itu, Puskesmas Janti membentuk program yang disebut Brexit (Braille E-ticket and Extraordinary Access for Visual Disabilities).

Mereka juga membentuk tim pengembangan Inovasi Brexit.

Tujuannya untuk menjamin perkembangan program Brexit agar menjadi inovasi yang berkelanjutan.

Fira ditunjuk menjadi ketuanya.

”Kami juga mulai mengikuti lomba-lomba,” tutur ibu dua anak tersebut.

Yang pertama diikuti adalah Kompetisi Inovasi Pemerintah Daerah Tingkat Provinsi Jawa Timur 2018.

Pada event tersebut, Brexit berhasil meraih medali perak.

Setelah itu Puskesmas Janti mewakili Kota Malang pada ajang Penghargaan Inovasi Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) 2019.

Hasilnya, Brexit berhasil menjadi 45 inovasi terbaik dari seluruh Indonesia.

Sejak saat itu Puskesmas Janti mendapat dukungan pemerintah pusat dan daerah untuk terus mengembangkan Brexit.

Misalnya, mendapat bantuan printer huruf braille sehingga tidak perlu menulis secara manual.

Kemudian mengganti karpet jalur khusus difabel dengan guiding block.

Papan penanda berhuruf braille juga diganti menggunakan bahan acrylic.

Brexit juga dipelajari daerahdaerah lain untuk diterapkan di puskesmas masing-masing.

”Menurut catatan kami, sudah puluhan yang melakukan studi banding ke Puskesmas Janti,” jelas Fira.

Bahkan dua kota sudah berhasil menerapkan Brexit di wilayahnya. Yakni Kota Bandung dan Kota Banjarmasin.

Sebagai pencetus inovasi Brexit, Fira juga memanen berbagai penghargaan individu.

Alumni Universitas Ma Chung itu menyabet juara 1 Penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Kefarmasian Kota Malang tahun 2017 dan 2018.

Kemudian pada 2018 juga menjadi juara 2 Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Kefarmasian Provinsi Jawa Timur.

Meski demikian, Fira tidak ingin berpuas diri.

Dia tetap rutin berdiskusi dengan para difabel netra di wilayah tugas Puskesmas Janti.

Tujuannya untuk bisa menciptakan pelayanan adil bagi semua orang lewat inovasi Brexit.

”Kami juga selalu dimonitor oleh Menpan-RB terkait progres inovasi ini,” ungkap Fira.

Seperti pada Agustus lalu, tim dari Menpan-RB melakukan monitoring replikasi Brexit di Kota Malang.

Sebanyak 16 fasilitas kesehatan (Faskes) wajib berkomitmen untuk menerapkan inovasi itu di tempatnya masing-masing.

Tujuannya untuk menjadikan Kota Malang sebagai daerah percontohan kota inklusif di Indonesia.

”Penerapan di faskes lain disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” tandasnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#netra #Fira Dwijayanti #ramah difabel #inovasi #malang #puskesmas