Bangunan untuk Gereja Orthodox Rusia Paroki Santo Cosmas dari Aitolia masih berstatus kontrak.
Di tengah keterbatasan, jemaatnya tetap khidmat dalam menjalankan ibadah.
Mereka juga tak pernah terlibat masalah dengan warga di sekitar gereja.
GRATIO IGNATIUS SANI BERIBE
Gereja Orthodox Rusia Paroki Santo Cosmas dari Aitolia tak terlihat mencolok.
Bangunannya sama seperti rumah-rumah warga lain di Kelurahan Sawojajar, Kota Malang.
Ruang utama bangunan itu digunakan sebagai tempat ibadah.
Interiornya dipenuhi lukisan-lukisan bergaya Bizantium kuno.
Ditambah dengan alat-alat liturgi gereja dari bahan logam berwarna emas.
Itu menimbulkan kesan sakral dalam Gereja Orthodox pertama dan satu satunya di Malang Raya itu.
Saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke sana Sabtu lalu (18/1), jemaatnya baru selesai melaksanakan Liturgi Ilahi Teofani Pembaptisan Tuhan.
Semua jemaat tampak sedang menyantap makan malam bersama-sama.
Menurut kepercayaan mereka, makan bersama setelah ibadah adalah tradisi Kristen purba yang sudah berlangsung dari abad pertama Masehi.
Gereja Orthodox Rusia atau Moscow merupakan salah satu bagian dari Kepatriakan Gereja Timur.
Sebutan itu untuk membedakannya dengan Gereja Barat atau yang biasa dikenal dengan Gereja Katolik Roma.
Terpisahnya dua gereja itu terjadi pada peristiwa skisma akbar tahun 1054.
Saat itu, terdapat lima patriark besar di dunia.
Diantaranya Patriark Roma, Konstantinopel, Antiokia, Alexandria, dan Yerusalem.
Dari lima kelompok itu, Patriark Roma mempunyai banyak perbedaan paham teologi dan kebudayaan dengan empat kelompok lainnya.
Ketidaksamaan itu membuat mereka memutus kan untuk berpisah menjadi entitas gereja yang berbeda.
Jawa Pos Radar Malang menemui pemimpin paroki itu, Yoel Agus Trianto.
Dia akrab disapa Romo Theodore.
Sesuai budaya Gereja Orthodox, semua imam mendapatkan nama baru setelah ditahbiskan.
Pria berusia 51 tahun itu merupakan orang pertama yang dibaptis sebagai penganut Kristen Orthodox di Malang pada 2012.
Dia lalu ditahbiskan menjadi imam pada 2018.
Bersamaan dengan itu, Paroki Santo Cosmas dari Aitolia juga resmi dibentuk.
”Jadi awal mula Gereja Orthodox di Malang dimulai dari kelompok diskusi kecil di agama saya yang lama,” jelas Romo Theodore.
Dalam kelompok itu, dia banyak merenungkan pertanyaan mengenai bentuk gereja yang sesungguhnya.
Itu karena saat ini terdapat banyak aliran Kristen di dunia.
Dia akhirnya mencari tahu dengan membaca kitab suci dengan mendalam.
Lalu mencari sumber-sumber sejarah.
Baik dari buku maupun internet.
”Lalu saya temukan, Gereja Orthodox ini yang paling asli dan tidak berubah selama berabad abad,” ungkap dia.
Pria yang lahir di Malang itu mulai memperdalam pengetahuan mengenai Gereja Orthodox.
Dia membaca banyak literatur.
Lalu berdiskusi dengan Romo dari Gereja Orthodox di Surabaya dan Kediri.
”Saya juga sharing dengan empat sampai lima teman di ke lompok diskusi agama sebelumnya. Lalu mereka juga terpanggil untuk menerima ajaran Gereja Orthodox,” jelas dia.
Di awal, mereka belum memiliki tempat untuk melaksanakan ibadah.
”Jadi kami bergilir di rumah-rumah jemaat,” tuturnya.
Akhirnya, pada 2016 ada seorang umat yang memberikan rumahnya untuk dikontrak menjadi tempat ibadah.
Lantas sekarang menjadi bangunan Gereja Orthodox Rusia Paroki Santo Cosmas dari Aitolia.
Meski bertempat di tengah permukiman, Romo Theodore tidak pernah mendapatkan halangan untuk beribadah dari warga.
Mereka hidup berdampingan dengan baik meski ajaran Kristen Orthodox merupakan salah satu aliran kepercayaan yang paling sedikit penganutnya di Indonesia.
Menurut catatan Gereja Orthodox Indonesia (GOI), pada 2023 pengikutnya berjumlah 4.000 orang.
”Saat ini kami ada sekitar 50 umat di paroki kami,” kata Romo Theodore.
Meski tidak mendapat hambatan dari warga sekitar, penganut Kristen Orthodox di Malang lebih banyak ditentang keluarga sendiri.
Bahkan Romo Theodore sampai saat ini masih ditentang oleh saudara-saudaranya sendiri.
Beberapa umatnya adalah mahasiswa pendatang yang memilih dibaptis menjadi penganut Kristen Orthodox.
Mereka tak luput dari pertentangan keluarga. ”Bahkan ada yang kuliahnya tidak dibayarkan lagi,” tutur Romo Theodore.
Meski jumlah mereka tidak ter lalu banyak, umat Gereja Orthodox Malang berkeinginan mempunyai gedung gereja sendiri.
Tujuannya supaya peribadatan mereka bisa dilakukan lebih baik lagi.
Itu karena, ada beberapa tradisi yang tidak bisa berjalan dengan baik karena keterbatasan fasilitas.
Seperti daerah-daerah sakral dan suci yang sejatinya tidak boleh diinjak oleh umat biasa.
Tapi, harus dilanggar karena keterbatasan ruang.
Romo Theodore juga masih mempunyai tantangannya secara pribadi. Itu karena, saat ini dia masih menjadi anggota polisi aktif.
Namun, pria kelahiran 1974 itu tidak merasa kesulitan membagi waktu.
Dia merasa selalu diberi kemudahan untuk menjalankan dua peran.
”Bagi saya itu sebuah mukjizat. Itu karena rekan-rekan kerja saya belum tentu bisa mendapatkan hal yang sama,” jelas dia.
Meski begitu, tujuh tahun lagi Romo Theodore akan pensiun.
Karena itu, dia sudah menyusun banyak rencana.
Diantaranya, dia ingin menyerahkan total hidupnya dalam pelayanan di Paroki Santo Cosmas.
Lalu menjalankan misi mengunjungi komunitas-komunitas Kristen Orthodox di berbagai belahan Indonesia.
”Saya merasa pelayanan ini merupakan panggilan hidup sejak saya masih kecil,” ucapnya. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana