Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (3), Kerja Sama Dua Sahabat Lahirkan Perusahaan Piala Mas

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 24 Januari 2025 | 18:00 WIB
TERUS BERKEMBANG: Direktur PT Piala Mas Industri Indra Soedjoko (kanan) dan putranya, Bryan Soedjoko menunjukkan beberapa unit bus yang sedang dalam proses finishing di karoseri Piala Mas.
TERUS BERKEMBANG: Direktur PT Piala Mas Industri Indra Soedjoko (kanan) dan putranya, Bryan Soedjoko menunjukkan beberapa unit bus yang sedang dalam proses finishing di karoseri Piala Mas.

Karoseri Piala Mas dirintis oleh almarhum Soetrisno dan Haliman Halim pada era 1970-an. 

Awalnya memproduksi angkutan penumpang umum roda empat seperti kebanyakan karoseri pada zaman itu. 

Kini, perusahaan tersebut mengembangkan berbagai desain bus dan mulai melirik kendaraan listrik.
NABILA AMELIA

SOETRISNO dan Haliman Halim merupakan dua sahabat yang sama sama lulusan SMA Machung Malang. 

Pertemanan mereka bahkan berlanjut hingga ke urusan bisnis. 

Saat usia keduanya sama-sama 44 tahun, keduanya sepakat untuk membuat perusahaan Bersama.

Karoseri lantas dipilih karena pada masa-masa tersebut bisnis perakitan kendaraan angkutan penumpang sedang ramai. 

Kebetulan latar belakang keduanya saling mendukung dalam membangun perusahaan karoseri. 

Haliman pernah membuka bengkel mobil. 

Sementara Soetrisno terampil dalam hal manajerial. 

Bisnis karoseri besutan dua Arek Malang itu akhir nya berdiri pada 1978. 

Nama Piala Mas dipilih dengan asa perusahaan yang mereka bangun bisa berkembang dan menjadi karoseri nomor satu. 

Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari lahan untuk dijadikan lokasi bengkel perakitan. 

Keduanya menemukan lahan di Jalan Raya Randuagung Nomor 202, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. 

Luasnya tidak langsung sebesar sekarang. 

Perlahan, kedua sahabat itu memperluas lahan karoseri sepetak demi sepetak. 

Pada tahap awal mengembangkan Karoseri Piala Mas, Soetrisno dan Haliman tidak langsung membuat bus. 

Mereka lebih dulu menekuni pembuatan bodi kendaraan angkutan penumpang roda empat. 

Sasis yang digunakan adalah Daihatsu Hijet dan Mitsubishi Colt T-120. 

Pekerja yang digunakan pun masih tenaga borongan. 

Persaingan ketat langsung menyambut bisnis karoseri yang sedang dibangun Soetrisno dan Haliman. 

Seluruh karoseri berlomba membuat desain baru kendaraan angkutan penumpang agar lebih laku di pasaran. 

Bahkan, Soetrisno dan Haliman sempat tidak kebagian jatah pekerjaan. 

Tapi keduanya tidak gentar. 

Mereka mencoba mendatangi beberapa dealer kendaraan di Malang hingga Surabaya demi bisa mendapat pekerjaan merakit mobil. 

Perlahan, pesanan mulai datang. 

Lama-lama bahkan kebanjiran order. 

Memasuki tahun 1992, Piala Mas sempat terdampak resesi. 

Itu terjadi karena Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mengambil alih industri otomotif dengan cara menjadi pemasok tunggal sasis maupun mesin. 

Akibatnya, beberapa karoseri, termasuk yang berada di Malang gulung tikar. 

Sebagian ganti haluan karena tidak siap. 

Begitu juga dengan Piala Mas. 

Soetrisno dan Haliman mulai melirik usaha perakitan bus. 

Mereka berkunjung ke Perusahaan Otobus (PO) untuk melihat konstruksi bus. 

Antara lain PO Puspa Indah dan PO Bagong. 

Terkadang, mereka juga blusukan ke terminal. 

Pada 1993, Haliman memutuskan untuk berhenti dari Piala Mas. 

Dia menjual sahamnya kepada Soetrisno. 

Kendali perusahaan pun dipegang sendiri oleh Soetrisno. 

Hingga pada 1996, Piala Mas mulai memproduksi bus medium berkapasitas 24 kursi. 

Sasis dan mesinnya menggunakan produk Mitsubishi. 

Pembuatan bus pertama itu dilakukan dengan sistem semi manual. 

Untuk konstruksi, Piala Mas membuat sendiri dengan dibantu 15 karyawan borongan. 

Waktu yang diperlukan dalam membuat bus pertama sekitar tiga bulan. 

Beberapa pesanan akhirnya masuk. 

Bahkan ada pesanan dari PO di Jakarta hingga Sumatera. 

Seiring berjalannya waktu, Piala Mas mulai membuat bus ukuran besar. 

Kapasitasnya 30 kursi. 

Mereka juga masih membuat kendaraan jenis angkutan penumpang lain, seperti kendaraan taktis ringan (rantis), kendaraan administrasi (ranmin), kendaraan pengangkut karyawan (manhauler), hingga mobil perpustakaan. 

”Kami membuat kendaraan disesuaikan dengan permintaan pelanggan,” jelas Indra Soedjoko, direktur Piala Mas yang merupakan putra keempat dari almarhum Soetrisno. 

Indra mulai membantu pengembangan karoseri Piala Mas sejak 1996. 

Saat itu sebenarnya dia sudah bekerja sebagai sales di PT Injaplast yang merupakan produsen karung plastik di Jakarta. 

Namun, Indra diminta oleh kakak ketiganya, Haryono, untuk pulang ke Malang dan membantu mengelola Piala Mas. 

Haryono memang lebih dulu membantu Soetrisno dalam mengelola Piala Mas. 

Apalagi Haryono merupakan lulusan Prodi Teknik Mesin ITN Malang. 

Selepas lulus kuliah, Haryono juga sempat bekerja di divisi repair Vincent Motor. 

Enam tahun kemudian, Haryono memilih berhenti dari Piala Mas. 

Dia ingin membuka bisnis sendiri di bidang logistik. 

Perusahaan akhirnya dilanjutkan oleh Indra. 

Terutama setelah Soetrisno wafat pada 17 Agustus 2015. 

Selama memimpin perusahaan, Indra beberapa kali menghadapi tantangan besar. 

Seperti krisis moneter pada 1998 dan pandemi Covid-19 yang sempat membuat produksi karoseri tidak optimal. 

Meski demikian, Piala Mas mampu bertahan dengan berbagai inovasi. 

Pada 2017, mereka mulai membuat beberapa seri bus. 

Antara lain Coaster, Rexus, All New Rexus MC, hingga Rexus HDD. 

Sebelum pandemi mereka juga sempat memasarkan tiga unit bus ke Timor Leste. 

Kini, Piala Mas sedang melirik pengembangan kendaraan listrik. 

Mereka bahkan pernah dilibatkan dalam pembuatan kendaraan listrik oleh PT Industri Kereta Api (Inka) pada saat Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT G20. 

”Untuk pengembangan kendaraan listrik lebih lanjut, kami masih menunggu perluasan lokasi di lokasi kedua,” sebut Indra. 

Lokasi kedua yang sekarang terus dikembangkan terletak di Jalan Bodean Krajan Nomor 9, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bodi #Kendaraan #Malang Raya #angkutan #karoseri #perusahaan #Roda Empat #Pembuatan