MALANG KOTA  –   Kejahatan lewat jaringan internet masih menelan banyak korban warga di Malang Raya. Meski pihak kepolisian sudah memiliki unit khusus cybercrime, nyatanya hingga kini masih kedodoran mengungkap perkara maupun laporan masyarakat yang masuk. Selain repot mengendus pelaku, kesulitan menuntaskan perkara karena mentok di alat bukti.

Dunia digital memang menjadi ladang baru bagi banyak pelaku usaha untuk menghasilkan keuntungan lewat pasar online. Tingginya minat masyarakat membeli kebutuhan di dunia maya membuat banyak pelaku penipuan dengan modus belanja online pun bergentayangan. Kasus penipuan online yang masuk dalam daftar cybercrime adalah yang paling marak di Malang Raya. Namun, sebagian besar kasus tersebut masih sulit ”disentuh” polisi.

Polres Malang Kota mencatat, total ada 121 laporan kasus cybercrime di sepanjang tahun 2018. Seluruhnya adalah kasus penipuan online. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan laporan tahun 2017 sebanyak 109 kasus. Dari catatan koran ini, sejumlah laporan kasus penipuan online di Polres Malang Kota, merugikan korban pada kisaran Rp 1 juta–Rp 20 juta. Warga Kota Malang maupun mahasiswa yang tinggal di Kota Malang, rata-rata memesan produk alat elektronik secara online. Seperti handphone, laptop, hingga sepatu. Namun, uang yang dikirimkan tidak berbalas dengan kedatangan barang yang dipesan.

”Tidak bisa dipungkiri, penipuan online terjadi di mana-mana. Bahkan, ada akun palsu di media sosial yang memanfaatkan penipuan dengan modus prostitusi online juga. Beberapa waktu lalu ada yang mengadukan ini,” kata Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi Arya Wiguna kemarin (10/1).

Pada 2017, Polres Malang Kota sempat mengungkap kasus penipuan online yang dilakukan oleh guru di Kota Malang. Korbannya juga puluhan orang. Tercatat, ada 9 kasus penipuan online yang berhasil ditangani Polres Malang Kota saat ini. Namun, untuk semua laporan kasus penipuan online pada 2018, tidak ada satu pun yang selesai ditangani. ”Sejak 2018 lalu, kami tampung laporan ini dalam bentuk aduan. Jadi, langsung kami koordinasi dengan reskrim resor lain yang diduga jadi wilayah si pelaku,” kata perwira tiga setrip itu.

Ditanya alasan tidak selesainya kasus penipuan online yang tercatat, Yogi beralasan sebagian laporan dicabut oleh korban. Namun, dalam sejumlah kasus, pihaknya tetap melakukan pelacakan terhadap transaksi penipuan online yang dilaporkan. ”Hanya saat kami lacak, ditemukan rekening fiktif. Contact person yang dicantumkan untuk pemesanan barang juga fiktif, sekali pakai lalu hilang,” imbuhnya. Praktis, pihaknya kesulitan mengumpulkan alat bukti untuk mengungkap kasus yang ditangani.

Tidak hanya itu, hasil pelacakan polisi juga menemukan data pelaku tercatat di luar Pulau Jawa. Seperti Palembang, Kalimantan, Batam, bahkan luar negeri. ”Kami bukannya pesimistis, tentu kami berkoordinasi dengan polres lain. Tapi saat ditelusuri, data itu fiktif,” kelitnya. Sedangkan untuk kasus cybercrime lain seperti hoax maupun ujaran kebencian, Polres Kota Malang tak menerima atau menangani kasus tersebut pada 2018. Dari beberapa aduan yang ada, polisi tidak menaikkannya menjadi laporan.

Sementara itu, laporan penipuan online juga banyak masuk ke Polres Malang. Sepanjang 2018 lalu, total ada 36 perkara yang ditangani. Dari jumlah tersebut, mayoritas adalah kasus penipuan online.

”Memang ada banyak jenis cybercrime. Namun, sejauh ini yang paling banyak pengaduan berupa penipuan melalui jual beli online,” terang Kasatreskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda. Dia menambahkan, maraknya cybercrime belakangan ini juga memengaruhi sistem penanganan kejahatan yang dilakukan jajarannya. Upaya pencegahan kerap kali dilakukan. ”Kami ada tim cyber yang memantau kejahatan dunia maya ini,” tambahnya.

Kepala Unit III dan Kepala Sidik Opsnal Polres Malang Aiptu Ifan Eko Pramono menambahkan, untuk wilayah Kabupaten Malang sendiri hingga saat ini masih terbilang minim untuk jenis kejahatan dunia maya. Namun, dia tidak menampik jika kebanyakan laporan yang masuk didominasi oleh laporan penipuan melalui jual beli online. ”Kalau penanganan kasus terbilang masih minim, tahun lalu saja kami hanya menangani penyebaran video porno saja melalui grup Facebook. Lebih didominasi oleh laporan penipuan melalui jual beli online,” ungkapnya.

Pramono mengimbau kepada masyarakat Malang agar bijak dalam menggunakan media sosial, termasuk transaksi jual beli online dan penggunaan akun e-mail. Dalam satu tahun terakhir, cybercrime Polres Malang mencatat setiap sebulan menerima aduan rata-rata tiga sampai empat kali. Jika ditotal selama setahun penuh ada 36 kasus. ”Kebanyakan mereka melapor terkait transaksi jual beli online. Korban biasanya menyetor uang ke penjual, ketika uang sudah dikirim barang tak kunjung datang. Saat dihubungi, akun beserta nomer telepon sudah tidak berlaku lagi,” pungkasnya.

Sedangkan di Kota Batu, perkara cybercrime di Kota Batu masih relatif sepi. Kasatreskrim Polres Batu AKP Anton Widodo menyatakan, sepanjang 2018 pihaknya hanya menangani dua laporan perkara cybercrime. ”Ada kasus hoax penculikan bayi dan kasus penipuan yang sudah berhasil kami selesaikan perkaranya,” bebernya.

Hanya, Anton belum bisa merinci detail kasus yang disebut pelakunya telah disidang dan dijatuhkan vonis tersebut. ”Saya perlu cek lagi datanya. Yang jelas, dua perkara yang kami tangani selesai dan pelakunya juga sudah divonis,” bebernya.

Pewarta             : Fajrus Shidiq, Badar
Copy Editor        : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Ilustrasi             : Andhi Wira