JawaPos.com – Berpendidikan bukan berarti menjamin anak di zaman sekarang berprilaku sopan. Bahkan pada orang tuanya sekali pun.

Contohnya saja seorang remaja 17 tahun berinisial MU yang tinggal di kawasan Jalan Lambung Mangkurat, Gang Rifai, RT 34, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir, Kalimantan Timur.

Lantaran keinginannya mempunyai rokok elektrik belum dipenuhi orang tua, MU mengamuk. Padahal kondisi keuangan keluarganya lagi sulit.

MU bahkan nekat menonjok bapak dan ibunya. Peristiwa itu terjadi dua pekan lalu setelah sebelumnya MU dibelikan ponsel baru oleh bapak-ibunya itu.

Sepekan setelah prilaku tak terpuji itu dilakukannya, MU yang keras kepala kembali marah. Bahkan mengobrak-abrik isi rumah kontrakan yang ia huni bersama dua adik dan kedua orang tuanya.

Khawatir MU kembali menganiaya, bapaknya yang merupakan guru mengaji, dan ibunya yang hanya seorang penjual makanan, akhirnya mengadu ke Pos FKPM Kelurahan Pelita. Hal itu ditempuh lantaran orang tua tak tega mengadukan MU ke polisi.

Bersama anggota dan Ketua FKPM Kelurahan Pelita, Marno Mukti, kedua orang tua menasihati pelajar kelas XII (Kelas III) salah satu SMA di Samarinda itu di rumahnya. Nyali MU yang hanya berani dengan kedua orang tuanya itupun menciut ketika didatangani sejumlah anggota FKPM. MU merengek karena kedatangan tamu yang memberinya nasihat.

“Dia (MU, Red) marah karena dijanjikan akan dibelikan rokok elektrik setelah dia menjual motornya yang rusak. Ada dua permintaannya yakni ponsel baru dan rokok elektrik. Untuk ponsel sudah dibelikan,” ujar Marno dikutip dari Samarinda Pos (Jawa Pos Group), Selasa (12/2).

“Itupun orang tuanya harus utang ke sana-kemari. Nah, sementara rokok elektrik dikarenakan sebagian uang hasil jual motor digunakan untuk memperbaiki motor bapaknya, jadi urung dibelikan,” katanya lagi.

Namun, Marno menegaskan, kendati keinginannya belum terpenuhi, MU tak boleh memukul kedua orang tuanya. Mulanya, dua pekan lalu MU memukul pelipis ibunya, hingga meninggalkan bekas.

“Minggu lalu bapaknya, sampai benjol. Kedua orang tuanya sabar menghadapi meskipun sebenarnya bisa saja balik memarahi anaknya. Tapi, itu tidak dilakukan karena khawatir khilaf,” jelas Marno.

Dibiarkan namun MU malah melunjak. Saban hari ia menagih meski tahu orang tuanya belum memiliki uang untuk memenuhi keinginannya.

“Orang tuanya pun lantas menelepon saya dan datang ke pos FKPM menceritakan duduk persoalannya. Dan orang tuanya hanya meminta kepada kami agar menasihati karena jika meminta sesuatu dan sudah terpenuhi, anaknya itu akan kembali meminta. Dan itu harus cepat atau kalau perlu pada saat itu juga,” ujar Marno.

Prilaku MU yang tak bisa bersabar dan mengerti dengan kondisi keungan orang tuanya itupun mendapat peringatan keras dari FKPM.

“Kami peringatkan supaya anak itu tidak lagi memaksa orang tuanya dan meminta hal-hal yang tidak penting. Apalagi sampai melakukan penganiayaan. Jika hal itu tetap dilakukan, maka kami akan membawanya kepada polisi agar ditindak,” pungkasnya.

Editor           : Estu Suryowati

Reporter      : Jpg