Society of Spectacle: Menonton dan Mempertontonkan Hidup di Era Media Sosial

ZETIZEN MALANG – Berkat teknologi, kehidupan kita banyak mengalami perubahan. Apapun yang dilakukan, update di media sosial tak pernah ketinggalan. Bahkan, kehidupan sehari-hari orang lain sudah jadi tontonan buat kita.

Oleh para ilmuwan di bidang sosial, fenomena itu dikenal dengan Society of Spectacle (masyarakat tontonan). Di era serba media sosial seperti sekarang, istilah society of spectacle berlaku buat mereka yang suka posting kehidupan atau stalking orang lain di media sosial.

Dilansir dari buku ‘The Society of Spectacle’, istilah Society of Spectacle pertama kali dicetuskan oleh Guy Debord pada tahun 1967. Saat itu, ia merasa adanya kemunduran pada kehidupan manusia di negara barat. Menurutnya, cara manusia dalam berinteraksi dan menjalin hubungan pun ikut berubah.

Misalnya, ketika tersesat, kita tak perlu tanya orang sekitar karena cukup buka Google Maps atau ketika ingin berkenalan, kita bisa mulai dari mengikuti Instagramnya dulu, melihat postingan di media sosialnya, dan jika ada kesempatan, baru deh berkenalan langsung.

Studi mengenai fenomena ini juga menjelaskan adanya penurunan dalam kehidupan sosial. Dari yang awalnya ‘ada’ (being), lalu jadi ‘memiliki’ (having), hingga jadi ‘muncul’ (appearing). Hmm, maksudnya apa sih?

Jadi, kalau dulu kita bisa menjalani hidup secara sederhana, saat ini dengan adanya media massa, kita jadi punya hasrat untuk memiliki. Ditambah lagi dengan kemunculan media sosial, kita jadi punya keinginan untuk menunjukkan apa yang kita miliki itu.

Sebenarnya, fenomena ini tak selalu buruk kok. Mempertontonkan hidup di ruang publik dengan batasan yang wajar ternyata juga memiliki sisi positif, lho! Apa saja sih sisi hitam dan putih dari society of spectacle?

Sisi Negatif: Haus Akan Pengakuan
Seperti definisi umum Society of Spectacle (masyarakat tontonan), masyarakat memiliki kecenderungan untuk ingin diakui dan dianggap ‘ada’. Kebiasaan update ini lah yang jadi salah satu faktor masyarakat ingin selalu unjuk gigi di media sosial. Hal ini bisa membuat individu jadi ingin ‘nampak’ kurus, cantik, kaya, sukses, atau apapun yang dianggap keren oleh penonton. Sayangnya, hal ini bisa memicu tindakan negatif lainnya, seperti pembohongan publik, hingga menyakiti diri.

Sisi Negatif: Kecenderungan Mengunggulkan Diri Sendiri
Puji memuji di kolom komentar atau kolom balasan Instastory di Instagram jadi alasan seseorang makin ingin mengunggulkan dirinya. Dari kecenderungan ini, beberapa orang bahkan dengan sengaja mengunggah sesuatu dengan maksud untuk mendapat pujian. Padahal, media sosial seharusnya bisa jadi tempat berjejaring dan saling membagi inspirasi dan bukannya ajang untuk berlomba-lomba memanen pujian.

Sisi Positif: Membangun Personal Branding
Pernah mendengar tentang perusahaan atau instansi yang ‘menilai’ calon karyawannya lewat unggahan di media sosial? Ya, kadang, media sosial memang bisa jadi wadah yang oke buat membangun personal branding. Oleh karena itu, tak perlu sensi jika melihat teman yang mengunggah prestasinya di media sosial. Sebagai pengguna sosial media yang bijak, kita harus paham bahwa personal branding bukan keseluruhan dari kehidupan seorang individu, tapi merupakan hal-hal yang ingin ia soroti saja.

Sisi Positif: Bisa Saling Tahu Kabar
Tak bisa dipungkiri, media sosial juga salah satu tiket untuk mengetahui kabar terbaru tentang kehidupan teman. Kamu bisa banget mengetahui kabar mereka lewat unggahan atau status teman lama, atau saudara yang berjarak jauh, dan teman yang super sibuk lewat unggahan di media sosial. Kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Tapi, pastikan kamu mengetahui batasan apa saja yang dapat dibagikan di ruang publik ya!

Penulis: Ananda Triana
Foto: Istimewa
Editor: Hendarmono Al Sidarto