Uji Coba Fitur Pembatasan Komentar, Twitter Ingin Pengguna Bisa Kontrol Obrolan

ZETIZEN MALANG – Saling berbalas mention atau ngobrol di kolom reply Twitter memang menyenangkan. Tapi saat ada orang asing yang tiba-tiba ikut nimbrung obrolan, wah itu sih menjengkelkan.

Tidak ingin kenyamanan ngobrol user-nya terganggu, Twitter pun berencana membuat fitur pembatasan komentar. “Mencoba, mencoba, cara baru untuk berkomunikasi dengan persis siapa yang kamu inginkan,” cuit akun resmi Twitter pada Rabu (20/5).

Penjelasan lengkap seputar fitur diungkap lewat sebuah video. “Ingin memiliki perbincangan dengan hanya beberapa orang di Twitter?, Well, kami menguji coba sesuatu yang baru untukmu,” tertulis di pembuka.

Video berlanjut dengan cara mengaktifkan fitur. Pertama membuat cuitan dan mention (menyebut) akun orang yang ingin diajak bicara. Selanjutnya klik pengaturan izin dan akan muncul tulisan ‘Siapa yang Bisa Membalas’.

Terdapat 3 kategori yang bisa dipilih mengacu siapa saja yang bisa membalas cuitan yang dibuat, yakni ‘semua orang’, ‘orang yang anda ikuti’, dan ‘hanya orang yang anda mention’.

Bagi yang tidak masuk kategori alias tidak diundang, otomatis tidak bisa membuat balasan, namun mereka masih bisa melihat atau memberi ‘likes’ pada cuitan.

Balasan-balasan dari orang yang tidak dikehendaki rentan jadi lahan penyalahgunaan menjadi alasan Twitter untuk mengembangakan fitur ini. Sehingga user tidak perlu sampai mengunci akun untuk membatasi balasan.

Mengutip dari Tech Crunch (22/5), ide membuat fitur batasan komentar ini sejatinya sudah dicanangkan Twitter sejak awal tahun 2020. “Motivasi utama adalah kontrol,” terang Kayvon Beykpour, VP of Product Twitter dalam acara CES di Las Vegas.

Sebelumnya, Twitter pernah merilis pengaturan ‘hide reply’ untuk menyembunyikan balasan kepada cuitan yang dibuat user. Suzanne Xie, Head of Communication Twitter, menyebut langkah itu sebagai jalan user untuk mengatur ruang pembicaraan.

Menyediakan perbincangan publik menjadi prioritas Twitter sejak lama dan itu menjadi acuan perusahaan buatan Jack Dorsey itu untuk melakukan berbagai pilihan pengembangan.

Penulis: Zhavirra Noor Rivdha
Foto: Twitter
Editor: Hendarmono Al Sidarto