JawaPos.com – Polri menginstruksi setiap polda untuk meminta laporan kepada toko-toko bahan kimia terkait penjualan bahan peledak dan campurannya. Hal tersebut merupakan upaya preventif polisi agar orang tidak lagi mudah mendapatkan bahan peledak dalam jumlah besar.

Sebelumnya, dalam penindakan terorisme di Sibolga, Sumatera Utara, polisi menemukan fakta bahwa Abu Hamzah (AH), salah seorang tersangka teroris asal Sibolga, mendapatkan material bahan peledak hingga 300 kg.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menerangkan bahwa surat edaran yang ditujukan untuk polisi di daerah tersebut merupakan langkah pencegahan. Tujuannya, bisa mengetahui kemungkinan pelaku teror lebih dini. “Kalau ada pembelian besar, bisa laporkan,” terangnya.

Namun, bisa saja pembelian bahan peledak yang dilakukan kelompok AH dilakukan secara bertahap. Tidak langsung 300 kg, tapi sesuai dengan kondisi keuangan kelompok itu. “Bisa 10 kilogram dulu atau lebih kecil,” terangnya.

Saat ini Densus 88 Antiteror juga terus menggali sumber pendanaan kelompok AH. Bila sebelumnya polisi berhasil mengungkap keterlibatan Ameng sebagai penyandang dana, kemarin polisi juga menangkap tersangka teroris berinisial M. Dia diduga ikut menyumbangkan uang untuk aksi teror. “Tapi, nominalnya belum muncul, berapa uang yang diberikan,” ujarnya.

Sebelum bersama AH, M pernah menjadi anggota kelompok yang menyerang kantor kepolisian di Tanjungbalai, Sumatera Utara. “Ada keterkaitan dengan penyerangan di Tanjung Balai, ini masih diperiksa,” jelasnya.

Dedi mengatakan, terkait pencarian tiga anak AH yang awalnya diduga masih hidup, ada informasi baru. Satu anaknya ternyata telah meninggal karena sakit lama sebelum kejadian bom Sibolga. “Maka, hanya ada dua anak yang saat ini dicari,” jelasnya. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (idr/c10/git)