MALANG KOTA – Di tengah musim hujan, warga delapan kelurahan justru mengalami ”krisis” air bersih. Itu karena saluran air perusahaan daerah air minum (PDAM) mampet beberapa hari lalu. Bisa jadi, kelangkaan air bersih itu berlangsung hingga esok hari.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang mengungkap, mampetnya saluran air bersih dari jaringan PDAM Kota Malang itu terjadi di delapan kelurahan se-Kecamatan Kedungkandang. Di antaranya, Kelurahan Wonokoyo, Madyopuro, Bumiayu, Arjowinangun, Gadang, Buring, Lesanpuro, dan Tlogowaru.

Salah satu warga Arjowinangun, Ahmad Sadikan menyatakan, air di rumahnya mampet sejak Kamis lalu (10/1). Jadi, dia kebingungan memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Misalnya untuk mandi dan masak. ”Sudah dua hari ini mampet. Warga sini bingung,” kata pria yang berprofesi sebagai pendidik ini.

Namun, dia masih bersyukur karena beberapa kali mendapatkan kiriman air bersih dari PDAM. Dia bersama warga sekitar langsung melaporkan mampetnya saluran air ke manajemen PDAM. ”Ada bantuan air tangki,” kata dia.

Berbeda dengan Nurul Aida. Warga Madyopuro itu tidak langsung mendapatkan layanan air bersih. Sejak airnya mampet Kamis siang (10/1), dia belum mendapatkan kiriman air tangki dari PDAM. ”Padahal, sudah melapor tapi hingga siang ini (11/1) belum dikirim juga,” keluhnya.

Akibat airnya mampet, Nurul memilih tidak memasak. Untuk keperluan mandi, dia memilih mandi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). ”Ada yang sampai beli air lima galon seharga Rp 20.000. Padahal untuk mandi,” kata dia.

Mampetnya saluran air PDAM itu sudah dia alami sejak beberapa hari sebelumnya. Awalnya dia tidak memercayai informasi yang beredar di WhatsApp bahwa air PDAM bakal mampet dikarenakan debit air di tandon menurun. ”Kan musim hujan, masak debit air menurun,” tutur perempuan berjilbab itu.

Informasi yang dihimpun wartawan koran ini, ada sekitar 22.000 kepala keluarga (KK) yang terimbas mampetnya air bersih tersebut. Mereka tersebar di delapan kelurahan. Mayoritas warga perumahan.

PDAM Janji Tuntas Hari Ini

Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Malang Anita Sari membenarkan mampetnya air PDAM. Karena saat ini pihaknya sedang menornalisasi saluran pipa yang menghubungkan ke Sumber Pitu, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Itu dilakukan karena saluran pipa dari Sumber Pitu bocor. Untuk memperbaikinya, harus dilakukan pengosongan air di pipa dan tandon, sehingga air tidak bisa disalurkan ke pelanggan.

”Kalau nggak dikosongkan, sulit proses perbaikan pipanya,” kata perempuan yang juga merangkap direktur Administrasi PDAM Kota Malang ini di kantornya, kemarin.

Dia mengklaim, proses perbaikan pipa sudah tuntas. Namun, diperlukan waktu untuk mengembalikan kondisi normal seperti semula. Caranya, membuang udara di dalam pipa dan tandon sehingga air bisa mengalir maksimal.

Biasanya, proses normalisasi pipa dan tandon itu membutuhkan waktu empat hari. Dengan demikian, saluran air PDAM itu sudah mampet dua hari, dibutuhkan waktu dua hari lagi baru lancar. ”Tapi, akan kami usahakan besok (hari ini) tuntas,” ucapnya.

Selama proses normalisasi tersebut, dia melanjutkan, keran relatif tidak mengeluarkan air. Namun, biasanya mengeluarkan udara. ”Biasanya timbul suara saat keran dibuka. Ini proses membuang udara di dalam pipa,” terang sarjana hukum ini.

Hanya, dari 22.000 pelanggan yang airnya mampet, sekitar 3.000 pelanggan masih mendapatkan air tapi salurannya kecil. Saluran airnya tidak berhenti total. Namun mengalirnya kategori low level. ”Ada airnya, tapi nggak senormal biasanya,” tandasnya.

Dia menambahkan, jumlah tandon di area pelanggan terdampak tersebut mencapai 6 titik. Sedangkan kapasitas tandonnya bervariasi, yaitu mulai 50–1.000 meter kubik. ”Kalau tandon penampungan di sana ada enam tempat,” ujar perempuan yang bekerja di PDAM Kota Malang sejak 1995 ini.

Pihaknya juga memberikan solusi suplai air gratis melalui mobil tangki. Jumlah mobil yang disediakan PDAM Kota Malang ada dua armada. ”Air ini gratis. Kalau kurang, kami minta bantuan dinas perumahan dan kawasan pemukiman (disperkim),” terangnya.

Pewarta             : Imam Nasrodin
Copy Editor        : Dwi Lindawati
Penyunting         : Mahmudan
Grafis                : Andhi Wira