Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sempat Mati Suri, Kopi Taji Bangkit Kembali

Editor : Hendarmono Al S. • Minggu, 25 Oktober 2020 | 16:09 WIB
Pesona wisata Kopi Taji, destinasi wisata di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini menawarkan suasana alam indah dengan udaranya yang sejuk. Terletak di lereng Gunung Bromo dengan ketinggiian di atas 1.200 mdpl, membuat tempat ini cocok dijadi
Pesona wisata Kopi Taji, destinasi wisata di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini menawarkan suasana alam indah dengan udaranya yang sejuk. Terletak di lereng Gunung Bromo dengan ketinggiian di atas 1.200 mdpl, membuat tempat ini cocok dijadi
Ada sensasi tersendiri ketika nyeruput kopi di lereng pegunungan Bromo dengan ketinggian 1.200-1.500 mdpl. Berikut ulasan wartawan Jawa Pos Radar Malang Neny Fitrin yang merasakan langsung sensasi Kopi Taji dari ”kaki langit” Gunung Bromo.
***

KABUPATEN MALANG - Perlu tenaga ekstra untuk sampai di Desa Taji. Karena lokasinya berada ”di kaki langit” Gunung Bromo. Tepatnya pada ketinggian 1.200-1.500 mdpl. Taji juga menjadi desa tertinggi di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Para wisatawan bisa mengaksesnya dengan melewati rute Kecamatan Pakis dan berlanjut ke Jabung. Jika sudah sampai di Jabung, ada rambu-rambu penunjuk arah yang memandu menuju lokasi desa itu.

Ketika perjalanan meninggalkan kawasan Coban Jahe di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, dan mulai memasuki rute penuh kelokan dan tanjakan, Desa Taji terlihat seperti berada di puncak gunung. Rumah-rumah berjajar rapi, serasi dengan pepohonan. Tak heran jika daerah tersebut dijuluki desa kaki langit.

Karena jalan untuk ke sana cukup sempit, hanya seukuran mobil, akan lebih menantang jika mengendarai sepeda motor. Pengunjung pun bisa mengeksplor pemandangan yang disuguhkan. Sawah terasiring, pohon-pohon pinus, hingga hutan bambu.

Legenda Kopi Taji sendiri telah ada sejak zaman kolonial. Karena pada masa silam, lereng Gunung Bromo adalah sentranya perkebunan kopi. Terutama budi daya kopi robusta dan arabika.

Kambang adalah satu di antara banyak warga yang cukup konsisten memberdayakan tanaman ini. ”Saya mengenal kopi sejak kecil. Karena dulu semua warga bertahan hidup dari hasil kebun, terutama kopi,” terangnya. ”Pagi sekolah ke bawah, pulangnya langsung ke kebun membantu orang tua,” tambah dia.

Seingatnya, sekitar tahun 1970-an, hampir semua penduduk Desa Taji menanam kopi jenis lokal. Namun di era 1990-an, kopi lokal dengan karakteristik tinggi menjulang itu dibabat habis. Warga memilih ganti haluan menanam sayur dan beternak sapi. Nasib kopi pun mati suri.

”Termasuk dengan kopi-kopi di lahan yang saya sewa dari Perhutani ini. Habis semuanya dan hanya tersisa bonggol-bonggol (pangkal batang),” kata laki-laki berusia 50 tahun itu.

Kebangkitan Kopi Taji dimulai pada tahun 2011. Ketika itu, Kambang menekuni kembali pembibitan kopi. Bibit-bibit tersebut lalu dibagi-bagikan kepada tetangga dan warga sekitar. Lambat laun, kopi-kopi yang menghilang dari lereng-lereng Bromo di sisi Taji itu tumbuh lagi. Tidak menjulang tinggi, tapi pendek dan rimbun. Bahkan kini, Kopi Taji menjadi salah satu andalan Kabupaten Malang. Tumbuh di dataran tinggi membuat kualitasnya diakui, tak hanya nasional, tapi juga dunia internasional.

Dibantu sang anak, Muhammad Sukron dan pendampingan dari pemerintah daerah, terutama dinas pertanian dan dinas pariwisata, Kopi Taji pun terus bermetamorfosis. Dari yang semula perkebunan, menjadi desa wisata. Awalnya yang hanya memasok kebutuhan pasar lokal, beberapa tahun terakhir mulai merambah kafe-kafe kopi di Kota Malang, bahkan hingga Kediri dan Bandung. ”Ketika anak saya bekerja di kota, kopi-kopi itu dibawa ke sana,” terang laki-laki yang mengaku menyewa lahan seluas dua hektare untuk menanam kopi tersebut.

Sukron mengaku begitu lulus SMP langsung belajar menanam kopi. Tapi karena hasil kebun kurang menjanjikan, dia memutuskan merantau ke kota. ”Enam tahun saya menjadi kuli bangunan,” terang pemuda berusia 24 tahun tersebut. ”Tidak hanya di Kota Malang, kadang ke Surabaya dan Lamongan juga,” sambung dia.

Ketika pulang ke Taji, dia membawa hasil kopi ke kota. Dikenalkan ke kafe-kafe dan kedai kopi. Dari sana pula dia belajar mengolah kopi dengan sistem lebih modern. ”Akhirnya kami membuka warung kopi kecil-kecilan. Sekitar awal 2019. Itu pun hanya buka Sabtu dan Minggu untuk edukasi penyajian,” terang Sukron. ”Jadi pengunjung yang datang tidak hanya ngopi saja. Mereka bisa mengikuti proses petik, penjemuran, hingga pengolahan,” jelasnya.

Tiga bulan berjalan, tak disangka, Kopi Taji banyak dikunjungi. Tamu-tamu yang datang bukan hanya wisatawan lokal atau mereka para penyuka minuman hitam pekat tersebut. Tapi juga turis asing, pelajar, serta mahasiswa mancanegara, hingga pemerintah daerah dari berbagai wilayah.

Foto-foto wisatawan yang berpose di dalam bingkai simbol cinta berukuran besar dengan latar pegunungan rupanya menjadi magnet luar biasa. Sampai akhirnya, Kopi Taji beroperasi setiap hari. ”Saya ingin Desa Taji lebih dikenal orang. Karena dulu sebelum ada Kopi Taji, desa ini sangat sepi,” kata Sukron tentang impiannya di masa depan.

Dengan kearifan lokal yang masih sangat kental, Kopi Taji tidak hanya berbicara tentang rasa atau sensasi ngopi di kaki langit, tapi juga tentang perjuangan hidup dan jati diri. Serta, edukasi bagaimana memperlakukan biji-biji merah dari tangkai-tangkai kopi hingga menjadi sajian panas di dalam gelas.(*)
Editor : Editor : Hendarmono Al S.
#Desa Taji #RMC #Wisata #Kecamatan Jabung #Kabupaten Malang #nen