Padahal, bisnis kuliner yang ia tekuni itu berawal dari langkah iseng. Namun kini, dia bisa meraup omzet hingga miliaran rupiah. Saat ini, beberapa bisnis yang ia jalankan diantaranya Mie Setan, Astep Bistro, Loteng Malang, Dialogi Café Pasuruan hingga Gurih Malang. Semua lini usaha tersebut di bawah naungan Enamsembilangrup.
”Awalnya cuma iseng-iseng buka usaha Mie Setan di Jalan Bromo itu, nggak di sangka tiba-tiba rame, terus buka cabang-cabang,” katanya.
Sebelum mulai membangun usaha, ia selalu melihat tempatnya seperti apa dan cocok untuk digunakan usaha apa. Tak hanya itu, dia juga melakukan riset agar target pasar yang dia tuju tepat sasaran. ”Kalo buka usaha itu, saya selalu lihat tempatnya dulu seperti apa lalu mikir cocoknya buat usaha apa,” tambahnya.
Seperti usaha Mie Setan yang sudah ia tekuni sejak tahun 2011 dan kini telah memiliki 28 cabang di Indonesia ini misalnya. Ia mengakui target pasar utama yang dituju adalah kalangan milenial. Sementara untuk usaha terbarunya Gurih Malang misalnya, dia lebih menyasar pasar kalangan pekerja dan mahasiswa kos.
Dio juga mendirikan Astep Bistro dan Loteng Malang yang dikemas menjadi café & bar yang memiliki target pasar yang berbeda. Tempat hang out tersebut ditujukan bagi para orang tua, dewasa namun tetap asyik bagi generasi muda. Tentunya, kedua tempat ini juga memiliki karakter dan nuansa yang berbeda. ”Biasanya ya buat nongkrong anak muda bisa, ibu-ibu arisan juga banyak,” katanya.
Menurutnya yang terpenting untuk membuka usaha itu berani dan coba dulu, jangan melulu melihat untungnya saja. Meskipun usaha yang ia jalani tentu naik-turun, tetapi yang utama adalah berani. “Coba dulu, jangan melihat untung. Untung bisa diakhir,” terang pemilik akun instagram @diosatya ini.
Pewarta: Roisyatul Mufidah
Editor : Ahmad Yani