Tempe Wedok Inovasi Tempe Asli Lumajang yang Mulai Dilirik Pasar Malang dan Sekitarnya
A. Nugroho• Rabu, 23 Juli 2025 | 20:53 WIB
Berbahan kedelai lokal, Tempe Wedok buatan warga Lumajang kini hadir di sejumlah pasar modern Malang.
RADAR MALANG – Kabupaten Lumajang tak hanya dikenal karena keindahan alamnya seperti Gunung Semeru atau Air Terjun Tumpak Sewu. Di tengah geliat wisata dan potensi sumber daya alam, muncul sebuah inovasi pangan lokal yang menarik perhatian: tempe wedok. Produk ini bukan tempe biasa, melainkan hasil olahan unik yang hanya bisa ditemukan di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, dan kini mulai menarik minat pasar dari Malang dan sekitarnya.
Produk tempe khas ini muncul berkat kearifan lokal masyarakat setempat dalam memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar mereka. Berbeda dengan tempe pada umumnya yang dibungkus daun pisang, tempe wedok justru dibungkus menggunakan pelepah pisang klutuk. Inovasi sederhana ini menghasilkan cita rasa khas dan daya simpan yang lebih lama, sehingga menarik perhatian konsumen dari berbagai daerah, termasuk wilayah Malang Raya.
Nama tempe wedok sendiri disematkan karena tampilannya yang dianggap lebih “halus” dan menarik dibanding tempe konvensional yang disebut tempe lanang. Tempe ini diproduksi oleh warga lokal, salah satunya Bu Lulu Ilmunawaroh, yang merintis pengolahan dan pemasarannya secara aktif dari pasar tradisional hingga media sosial.
Daya Tarik dan Keunggulan Tempe Wedok
Salah satu keunikan dari tempe wedok adalah ukurannya yang lebih kecil dan bentuk anyaman bungkusannya yang khas. Dalam satu kemasan, konsumen bisa mendapatkan lima buah tempe kecil dengan harga Rp7.000. Ukuran ini menjadikannya cocok untuk dijadikan gorengan, baik sebagai tempe mendoan maupun krispi.
Namun keunggulan utamanya terletak pada metode fermentasinya. Dengan bungkus dari pelepah pisang klutuk, fermentasi bisa berlangsung lebih optimal bahkan saat dalam perjalanan. Hal ini membuat tempe wedok tahan lebih lama dan memiliki cita rasa yang lebih manis serta gurih.
Menurut penuturan tim Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Malang, khususnya dari Kelompok 67 yang melakukan pendampingan di desa tersebut, tempe wedok memiliki nilai jual lebih karena mengangkat potensi lokal yang unik. Tak hanya berguna sebagai sumber protein harian warga, produk ini juga mulai dilirik sebagai komoditas oleh-oleh khas Lumajang yang bisa dipasarkan hingga ke Malang.
Dilirik Konsumen Luar Daerah Termasuk Malang
Seiring promosi yang digencarkan melalui bazar UMKM dan media sosial, tempe wedok mulai menarik perhatian konsumen dari luar daerah. Beberapa pengunjung pameran kebudayaan menyebut tempe ini sebagai buah tangan favorit, bahkan dibawa hingga ke Yogyakarta, Jakarta, dan Malang.
Antusiasme masyarakat luar terhadap produk ini membuktikan bahwa inovasi berbasis lokal bisa menembus pasar lebih luas. Dukungan dari generasi muda dan akademisi seperti mahasiswa UB Malang diharapkan bisa terus memperkuat pengemasan, branding, serta akses distribusi produk ke pasar modern.
Harapan dan Pengembangan ke Depan
Ke depan, produk tempe wedok diharapkan tak hanya menjadi ikon pangan Desa Labruk Kidul, tetapi juga produk unggulan Lumajang yang mampu bersaing secara nasional. Potensi pengembangan bisa diarahkan ke kemasan ramah lingkungan, sertifikasi produk, dan kerja sama dengan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk kota-kota besar seperti Malang.
Melalui tempe wedok, Lumajang membuktikan bahwa inovasi pangan berbasis kearifan lokal tetap bisa berdaya saing tinggi. Dengan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin tempe khas ini menjadi bagian dari identitas kuliner Jawa Timur yang membanggakan, bersanding dengan produk unggulan dari daerah lain seperti Malang dan Banyuwangi. (id)