RADAR MALANG – Kalau siang hari terik di Malang, segelas es segar pasti jadi penyelamat dahaga. Salah satu minuman yang paling sering jadi pilihan tentu saja es cendol atau es dawet. Minuman tradisional ini memang terkenal dengan rasa manis gurih yang khas, ditambah es batu yang bikin adem sampai ke tenggorokan.
Namun, pernahkah kamu bingung membedakan antara cendol dan dawet? Tidak sedikit orang yang salah kaprah menyebutnya. Bahkan di beberapa warung atau kedai, penjual dan pembeli seringkali menggunakan istilah keduanya secara bergantian. Padahal, meski sama-sama punya butiran hijau dengan kuah santan dan gula merah, es cendol dan es dawet memiliki perbedaan yang cukup jelas.
Menariknya, perbedaan itu tidak hanya dari bahan dan tekstur, tapi juga asal-usul, cara penyajian, hingga topping pelengkapnya. Jadi, biar nggak salah sebut lagi, yuk kenali lebih dekat perbedaan antara dua minuman segar khas Nusantara ini.
Bahan dan Tekstur
Es cendol biasanya dibuat dari campuran tepung beras dan tepung hunkwe atau tepung kacang hijau. Perpaduan ini menghasilkan tekstur yang lebih kenyal menyerupai jeli. Sementara es dawet umumnya dibuat dari tepung beras atau tepung ketan saja, tanpa campuran hunkwe. Hasilnya, teksturnya lebih lembut dan halus saat masuk ke mulut.
Bentuknya juga menjadi pembeda utama. Cendol biasanya berukuran lebih pendek dan tebal dengan rasa kenyal, sedangkan dawet cenderung lebih tipis, ramping, dan panjang, hampir menyerupai benang kecil. Jadi meskipun sama-sama hijau, sensasi yang terasa saat mengunyah jelas berbeda.
Asal Usul yang Berbeda
Es cendol berasal dari Jawa Barat, khususnya daerah Sunda. Minuman ini bahkan sering disebut sebagai bagian dari tradisi kuliner masyarakat Sunda yang terkenal dengan jajanan manis dan segar.
Sementara itu, es dawet lebih dikenal sebagai minuman khas Jawa Tengah. Banjarnegara adalah salah satu daerah yang paling lekat dengan identitas dawet, bahkan sering disebut dengan “Dawet Ayu Banjarnegara”. Tidak hanya itu, dawet juga populer di Ponorogo, Jawa Timur, dan sudah menjadi bagian dari budaya kuliner setempat.
Bahkan, catatan sejarah menyebutkan bahwa dawet sudah ada sejak abad ke-10. Hal ini tertulis dalam Prasasti Taji di Ponorogo. Sedangkan cendol baru dikenal belakangan di wilayah Sunda. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun mirip, keduanya punya jejak budaya berbeda.
Teknik Pembuatan dan Topping
Proses pembuatannya pun berbeda. Cendol dibuat dengan menggunakan cetakan khusus berbentuk gelas berlubang. Adonan ditekan melalui lubang-lubang tersebut sehingga menghasilkan butiran pendek dan tebal.
Sedangkan dawet dibuat dengan menekan adonan lewat saringan atau ayakan sambil digoyang. Cara ini menghasilkan butiran yang lebih tipis dan panjang. Teknik sederhana ini sudah dipraktikkan turun-temurun oleh pembuat dawet di berbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Selain teknik, topping juga membedakan keduanya. Es cendol biasanya disajikan dengan tambahan potongan nangka, alpukat, atau bahkan durian. Perpaduan rasa manis buah dengan gurih santan membuat cendol semakin nikmat.
Sementara itu, es dawet kerap dilengkapi dengan tape ketan, jenang, atau bahkan variasi warna lain seperti ungu dan merah muda, tergantung daerah asalnya. Hal ini membuat dawet lebih variatif dalam hal tampilan maupun rasa.
Popularitas di Era Modern
Meski punya ciri khas masing-masing, keduanya sama-sama populer di seluruh Indonesia, termasuk di Malang. Banyak pedagang kaki lima hingga kafe kekinian yang menjual es cendol maupun es dawet dengan sentuhan modern. Ada yang menambahkan boba, es krim, hingga sirup dengan berbagai varian rasa.
Di beberapa tempat, istilah “es cendol” lebih sering digunakan meski sebenarnya yang disajikan adalah es dawet, dan sebaliknya. Tidak heran jika banyak orang semakin bingung membedakannya. Namun apapun namanya, minuman segar ini tetap jadi favorit masyarakat dari berbagai kalangan.
Kebanggaan Kuliner Nusantara
Cendol dan dawet bukan hanya sekadar pelepas dahaga. Keduanya adalah bagian dari identitas kuliner Nusantara yang kaya akan rasa dan tradisi. Sama halnya dengan Malang yang punya minuman khas seperti STMJ atau wedang angsle, Jawa Barat dan Jawa Tengah punya kebanggaan masing-masing lewat cendol dan dawet.
Jadi, lain kali kalau sedang jalan-jalan, pastikan kamu tahu bedanya. Kalau di Sunda sebutlah cendol, kalau di Banjarnegara atau Ponorogo lebih tepat disebut dawet. Dengan begitu, kita bukan hanya bisa menikmati segarnya, tapi juga turut melestarikan keunikan budaya kuliner tiap daerah. (id)
Editor : A. Nugroho