alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Segera Upgrade Sektor Pariwisata Malang Raya, Begini Faktanya

MALANG KOTA – Para pelaku usaha pariwisata tampaknya tak sabar untuk meng-upgrade level pariwisata di Malang Raya. Banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus segera dicarikan solusi agar sektor ini kembali bergairah setelah drop akibat pandemi Covid-19.

Hal ini terungkap dalam diskusi yang digagas Malang Peduli Demokrasi (MPD), dengan tajuk ”Diskusi Pengembangan Pariwisata di Wilayah Malang Raya” yang digelar di Restoran Kertanegara Senin (3/5). Acara diskusi berlangsung gayeng dan ditutup dengan buka puasa bersama.

Banyak gagasan dan terobosan muncul dalam diskusi yang dipandu Ketua MPD Imam Muslich tersebut. Secara umum, digambarkan bahwa sektor pariwisata di Malang Raya seakan berjalan autopilot. Hal itu diungkapkan Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad. ”Jadi seakan akan pariwisata di Malang Raya ini berjalan autopilot karena negara tidak hadir untuk mengintervensi pariwisata,” kata pria yang akrab disapa Mas Kum ini.

Dia lantas mencontohkan kunjungan pariwisata di Vietnam telah menyalip jumlah kunjungan wisatawan di Indonesia. Salah satu sebabnya adalah, negara Vietnam turut hadir mengintervensi.

Menurutnya, di tingkat kepala daerah di Malang raya, sudah banyak kegiatan pertemuan, namun belum menghasilkan gagasan yang matang. ”Kita tinggal pakai guidance apa, outline apa, tools apa untuk mengembangkan pariwisata,” tegas Mas Kum yang juga Presiden IMA (Indonesia Marketing Association) Chapter Malang ini. Menurutnya, potensi pariwisata di Malang Raya sudah sangat bagus. Hanya saja, pengemasan dan pemasaran serta story telling-nya masih menjadi problem.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono menitikberatkan pariwisata pada tiga hal. Yaitu public travel bubble, niche tourism dan corporate tourism. ”Corporate tourism ini diawali dengan branding bersama. Kalau kita membicarakan satu paket bidang pariwisata, yang pertama tentang bagaimana alokasi anggaran dari 3 wilayah di Malang Raya ini,” ungkap Dwi Cahyono. Hal inilah (anggaran parawisata) yang menurutnya harus dibicarakan lebih dalam lagi di tingkatan kepala daerah.

Di sisi lain. salah satu pelaku usaha di Kota Batu Suryo Wibowo mencontohkan bagimana Turki mengembangkan sektor pariwisatanya. Dia menyebut, seluruh wisatawan yang datang sudah disiapkan rute yang bisa dipilih. Sehingga sektor pariwisata di sana sudah terstruktur dan tidak berdiri sendiri.

”Kalau di Malang, terserah tour guide-nya. Ini yang jadi kendalanya. Kadang kita bingung, ketika wisatawan ingin ke wisata heritage kita akan arahkan kemana, mana yang mau dilihat,” ujar Suryo. Sehingga pihaknya berharap setelah diskusi ini ada gambaran yang jelas tentang rute pariwisata di Malang Raya yang bisa dijual kepada wisatawan.

Pewarta: Intan Refa

MALANG KOTA – Para pelaku usaha pariwisata tampaknya tak sabar untuk meng-upgrade level pariwisata di Malang Raya. Banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus segera dicarikan solusi agar sektor ini kembali bergairah setelah drop akibat pandemi Covid-19.

Hal ini terungkap dalam diskusi yang digagas Malang Peduli Demokrasi (MPD), dengan tajuk ”Diskusi Pengembangan Pariwisata di Wilayah Malang Raya” yang digelar di Restoran Kertanegara Senin (3/5). Acara diskusi berlangsung gayeng dan ditutup dengan buka puasa bersama.

Banyak gagasan dan terobosan muncul dalam diskusi yang dipandu Ketua MPD Imam Muslich tersebut. Secara umum, digambarkan bahwa sektor pariwisata di Malang Raya seakan berjalan autopilot. Hal itu diungkapkan Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad. ”Jadi seakan akan pariwisata di Malang Raya ini berjalan autopilot karena negara tidak hadir untuk mengintervensi pariwisata,” kata pria yang akrab disapa Mas Kum ini.

Dia lantas mencontohkan kunjungan pariwisata di Vietnam telah menyalip jumlah kunjungan wisatawan di Indonesia. Salah satu sebabnya adalah, negara Vietnam turut hadir mengintervensi.

Menurutnya, di tingkat kepala daerah di Malang raya, sudah banyak kegiatan pertemuan, namun belum menghasilkan gagasan yang matang. ”Kita tinggal pakai guidance apa, outline apa, tools apa untuk mengembangkan pariwisata,” tegas Mas Kum yang juga Presiden IMA (Indonesia Marketing Association) Chapter Malang ini. Menurutnya, potensi pariwisata di Malang Raya sudah sangat bagus. Hanya saja, pengemasan dan pemasaran serta story telling-nya masih menjadi problem.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono menitikberatkan pariwisata pada tiga hal. Yaitu public travel bubble, niche tourism dan corporate tourism. ”Corporate tourism ini diawali dengan branding bersama. Kalau kita membicarakan satu paket bidang pariwisata, yang pertama tentang bagaimana alokasi anggaran dari 3 wilayah di Malang Raya ini,” ungkap Dwi Cahyono. Hal inilah (anggaran parawisata) yang menurutnya harus dibicarakan lebih dalam lagi di tingkatan kepala daerah.

Di sisi lain. salah satu pelaku usaha di Kota Batu Suryo Wibowo mencontohkan bagimana Turki mengembangkan sektor pariwisatanya. Dia menyebut, seluruh wisatawan yang datang sudah disiapkan rute yang bisa dipilih. Sehingga sektor pariwisata di sana sudah terstruktur dan tidak berdiri sendiri.

”Kalau di Malang, terserah tour guide-nya. Ini yang jadi kendalanya. Kadang kita bingung, ketika wisatawan ingin ke wisata heritage kita akan arahkan kemana, mana yang mau dilihat,” ujar Suryo. Sehingga pihaknya berharap setelah diskusi ini ada gambaran yang jelas tentang rute pariwisata di Malang Raya yang bisa dijual kepada wisatawan.

Pewarta: Intan Refa

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru