alexametrics
22.1 C
Malang
Sunday, 14 August 2022

Kreasi Ngalambeksa: Tak Sekadar Tarian, Tapi Juga Sarat Kritik Sosial

KOTA MALANG – Tak mudah menguasai tembang macapat. Apalagi meleburkannya dalam tarian tradisional yang dikemas modern. Tapi, Ngalambeksa Community mampu melakukannya.

Komunitas ini memberi warna baru bagi dunia tari di Jawa Timur. Sandhidea CN, salah satu pendiri Ngalambeksa Community sudah mendirikan komunitas ini sejak tahun 2016.

“Ceritanya, setelah saya lulus dari ISI (Institut Seni Indonesia) Solo dan sudah berkeliling kemana-mana, saya pulang ke Malang dan saya menyadari potensi seniman muda di sini,” kata Sandi, mengawali cerita sambil menikmati kopi dingin di salah satu cafe daerah Sarangan.

Dia heran. Potensi seniman muda itu besar. Apalagi seniman-seniman tradisional yang harusnya sudah bisa digenjot sampai taraf internasional. Tetapi, wadah bereksperimennya masih kurang. Sehingga tak banyak yang muncul ke permukaan.

Di sisi lain, Sandhi melihat banyak masyarakat yang kesulitan menikmati budaya tradisional. “Hambatan tidak cuma ruang. Kadang, penonton itu kesulitan menikmati seni tradisional. Apalagi, kalau sudah beda budaya. Berarti kan perlu pengemasan yang baik agar dinikmati banyak orang,” tambahnya.

Dengan kolaborasi yang baik antara seni musik, tari dan teater, maka suatu pertunjukan bisa berjalan lebih interaktif. “Penonton gak harus mikir. Ada teatrikal, ada lagu, maka pemahaman seni bisa lebih mudah,” kata bapak satu anak ini.

Dari situlah, Ngalambeksa Community lahir. “Komunitas ini bukan hanya tari. Dari kata bekso, itu artinya satu paket musik, tari, dan peran,” jelas dia.

Sandi dan lima orang rekannya pun sepakat untuk menggali lebih dalam seni Malangan. Dia mengatakan, Malang tak hanya memiliki tari topeng. Tapi juga Tari Beskalan, Tari Bedayan Malang dan Tari Grebeg Wiratama. Juga macapat-macapatnya.

Sandhi masih ingat betul, pernah ia dan kawan-kawannya pentas di salah satu SMA Swasta membawa penampilan berjudul Jula-Juli Minion. “Saya ambil kata minion, yang kartun itu karena penampilnya kecil kaya minion,” singkatnya.

Tidak ada pakem, sebuah tari malangan harus sesuai kaidahnya. Sandhi bisa menggabungkan gerak tari lain dan memunculkan kreasi baru. Di setiap karya, Sandhi dan kawan‐kawan juga terus meriset banyak seni Malangan sebelum tampil.

“Termasuk, Saat membawakan tari Panji ala Ngalambeksa, itu saya wawancara banyak seniman senior, termasuk ahli sejarah Kota Malang Dwi Cahyono,” kata dia.

Hasil risetnya mereka bawa ke studio di kawasan Oro-Oro Dowo.

“Ada banyak hal, adaptasi dari kehidupan sehari-hari dibawa ke gerakan tari. Gosok gigi, menggeleng, bangun tidur, bisa dipadukan ke gerakan tari. Apapun tema tarinya,” tambahnya.

Bagi dia, seni Malangan itu luas. Mulai bahasa waalikan, tariannya, lagu semua bisa masuk dan berpadu jadi satu. Semua tarian mereka, mengandung makna kritik sosial. Mulai dari masalah kemalasan, hingga yang berat misal seperti korupsi atau sekedar jangan mencuri.

Pewarta: Sandra DC

KOTA MALANG – Tak mudah menguasai tembang macapat. Apalagi meleburkannya dalam tarian tradisional yang dikemas modern. Tapi, Ngalambeksa Community mampu melakukannya.

Komunitas ini memberi warna baru bagi dunia tari di Jawa Timur. Sandhidea CN, salah satu pendiri Ngalambeksa Community sudah mendirikan komunitas ini sejak tahun 2016.

“Ceritanya, setelah saya lulus dari ISI (Institut Seni Indonesia) Solo dan sudah berkeliling kemana-mana, saya pulang ke Malang dan saya menyadari potensi seniman muda di sini,” kata Sandi, mengawali cerita sambil menikmati kopi dingin di salah satu cafe daerah Sarangan.

Dia heran. Potensi seniman muda itu besar. Apalagi seniman-seniman tradisional yang harusnya sudah bisa digenjot sampai taraf internasional. Tetapi, wadah bereksperimennya masih kurang. Sehingga tak banyak yang muncul ke permukaan.

Di sisi lain, Sandhi melihat banyak masyarakat yang kesulitan menikmati budaya tradisional. “Hambatan tidak cuma ruang. Kadang, penonton itu kesulitan menikmati seni tradisional. Apalagi, kalau sudah beda budaya. Berarti kan perlu pengemasan yang baik agar dinikmati banyak orang,” tambahnya.

Dengan kolaborasi yang baik antara seni musik, tari dan teater, maka suatu pertunjukan bisa berjalan lebih interaktif. “Penonton gak harus mikir. Ada teatrikal, ada lagu, maka pemahaman seni bisa lebih mudah,” kata bapak satu anak ini.

Dari situlah, Ngalambeksa Community lahir. “Komunitas ini bukan hanya tari. Dari kata bekso, itu artinya satu paket musik, tari, dan peran,” jelas dia.

Sandi dan lima orang rekannya pun sepakat untuk menggali lebih dalam seni Malangan. Dia mengatakan, Malang tak hanya memiliki tari topeng. Tapi juga Tari Beskalan, Tari Bedayan Malang dan Tari Grebeg Wiratama. Juga macapat-macapatnya.

Sandhi masih ingat betul, pernah ia dan kawan-kawannya pentas di salah satu SMA Swasta membawa penampilan berjudul Jula-Juli Minion. “Saya ambil kata minion, yang kartun itu karena penampilnya kecil kaya minion,” singkatnya.

Tidak ada pakem, sebuah tari malangan harus sesuai kaidahnya. Sandhi bisa menggabungkan gerak tari lain dan memunculkan kreasi baru. Di setiap karya, Sandhi dan kawan‐kawan juga terus meriset banyak seni Malangan sebelum tampil.

“Termasuk, Saat membawakan tari Panji ala Ngalambeksa, itu saya wawancara banyak seniman senior, termasuk ahli sejarah Kota Malang Dwi Cahyono,” kata dia.

Hasil risetnya mereka bawa ke studio di kawasan Oro-Oro Dowo.

“Ada banyak hal, adaptasi dari kehidupan sehari-hari dibawa ke gerakan tari. Gosok gigi, menggeleng, bangun tidur, bisa dipadukan ke gerakan tari. Apapun tema tarinya,” tambahnya.

Bagi dia, seni Malangan itu luas. Mulai bahasa waalikan, tariannya, lagu semua bisa masuk dan berpadu jadi satu. Semua tarian mereka, mengandung makna kritik sosial. Mulai dari masalah kemalasan, hingga yang berat misal seperti korupsi atau sekedar jangan mencuri.

Pewarta: Sandra DC

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/