alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Di Bandara Dubai, Pindai Mata Bisa Jadi Pengganti Paspor

RADAR MALANG – Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab mulai menerapkan pemindaian iris mata pada Minggu (7/3) sebagai cara penumpang untuk memverifikasi identitas individu selama masuk dan pergi meninggalkan negara ini.

Melansir dari AP News, Rabu (10/3), teknologi ini menggunakan alat biometrik khusus yang dibuat menggunakan program kecerdasan buatan terbaru di tengah merebaknya wabah virus Covid-19.

Adapun dalam praktiknya, orang yang akan bepergian melalui bandara ini diharuskan untuk melewati pemindai iris mata dengan menatap ke kamera setelah melakukan check-in.

Selanjutnya, pemindai itu akan menghubungkan informasi iris mata penumpang ke basis data pengenalan wajah di negara tersebut, sehingga penumpang tidak perlu mengidentifikasi dokumen atau boarding pass.

Dengan demikian, pemerintah setempat berharap teknologi tanpa kontak ini dapat menekan penyebaran virus dan dijadikan alternatif untuk menggantikan peran paspor cetak konvensional.

“Masa depan akan datang. Sekarang, semua prosedur menjadi pintar, hanya dibutuhkan waktu sekitar lima hingga enam detik,” kata Mayor Jenderal Obaid Mehayer Bin Suroor, Wakil Direktur Direktorat Jenderal Keresidenan dan Urusan Luar Negeri.

Terkait privasi, Bin Suroor menjelaskan bahwa kantor imigrasi Dubai sepenuhnya melindungi data pribadi penumpang sehingga tidak ada pihak ketiga yang dapat melihatnya.

Namun seperti semua teknologi pengenalan wajah saat ini yang telah digunakan secara luas, program tersebut justru dapat menambah kekhawatiran akan hilangnya privasi.

Menurut Jonathan Frankle, seorang mahasiswa doktoral kecerdasan buatan di Institute of Technology Massachusetts, inovasi itu dapat menimbulkan kemungkinan penyalahgunaan, terlebih jika tidak ada informasi secara rinci dan terbuka tentang bagaimana data akan dipakai atau disimpan.

“Segala jenis teknologi pengawasan menimbulkan tanda bahaya, terlepas dari negara seperti apa itu. Tapi di negara demokrasi, jika teknologi pengawasan digunakan secara transparan, setidaknya ada peluang untuk melakukan percakapan publik tentang itu,” tuturnya.

Penulis : Gilang Ilham

RADAR MALANG – Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab mulai menerapkan pemindaian iris mata pada Minggu (7/3) sebagai cara penumpang untuk memverifikasi identitas individu selama masuk dan pergi meninggalkan negara ini.

Melansir dari AP News, Rabu (10/3), teknologi ini menggunakan alat biometrik khusus yang dibuat menggunakan program kecerdasan buatan terbaru di tengah merebaknya wabah virus Covid-19.

Adapun dalam praktiknya, orang yang akan bepergian melalui bandara ini diharuskan untuk melewati pemindai iris mata dengan menatap ke kamera setelah melakukan check-in.

Selanjutnya, pemindai itu akan menghubungkan informasi iris mata penumpang ke basis data pengenalan wajah di negara tersebut, sehingga penumpang tidak perlu mengidentifikasi dokumen atau boarding pass.

Dengan demikian, pemerintah setempat berharap teknologi tanpa kontak ini dapat menekan penyebaran virus dan dijadikan alternatif untuk menggantikan peran paspor cetak konvensional.

“Masa depan akan datang. Sekarang, semua prosedur menjadi pintar, hanya dibutuhkan waktu sekitar lima hingga enam detik,” kata Mayor Jenderal Obaid Mehayer Bin Suroor, Wakil Direktur Direktorat Jenderal Keresidenan dan Urusan Luar Negeri.

Terkait privasi, Bin Suroor menjelaskan bahwa kantor imigrasi Dubai sepenuhnya melindungi data pribadi penumpang sehingga tidak ada pihak ketiga yang dapat melihatnya.

Namun seperti semua teknologi pengenalan wajah saat ini yang telah digunakan secara luas, program tersebut justru dapat menambah kekhawatiran akan hilangnya privasi.

Menurut Jonathan Frankle, seorang mahasiswa doktoral kecerdasan buatan di Institute of Technology Massachusetts, inovasi itu dapat menimbulkan kemungkinan penyalahgunaan, terlebih jika tidak ada informasi secara rinci dan terbuka tentang bagaimana data akan dipakai atau disimpan.

“Segala jenis teknologi pengawasan menimbulkan tanda bahaya, terlepas dari negara seperti apa itu. Tapi di negara demokrasi, jika teknologi pengawasan digunakan secara transparan, setidaknya ada peluang untuk melakukan percakapan publik tentang itu,” tuturnya.

Penulis : Gilang Ilham

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/