alexametrics
22.8 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Jelang Lebaran, Pelaku Bisnis Wisata Malang Raya Kelimpungan

MALANG – Kekhawatiran para pelaku bisnis pariwisata dan perhotelan di Malang raya mulai menjadi kenyataan. Meski tak ada larangan berwisata, namun mereka mulai bisa merasakan imbas dari kebijakan larangan mudik.

Jumlah kunjungan wisata menurun drastis. Begitu pula dengan tingkat okupansi di hotel-hotel. Akibatnya, kebutuhan operasional mereka sulit terpenuhi. Pemenuhan tunjangan hari raya (THR) bagi para pekerja di sektor wisata pun membuat pengusaha kelimpungan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengakui bila para pelaku bisnis wisata dan hotel kini dilingkupi rasa pesimistis. Sebagai gambaran, sebelum pandemi Covid-19 terjadi, pada minggu pertama dan kedua di bulan Ramadan, kunjungan di tempat wisata dan hotel bakal menurun drastis. Kemudian di pekan ketiga bulan Ramadan, biasanya mulai ada peningkatan kunjungan dari warga luar Kota Batu. ”Memang awal ramadan biasanya rugi dulu atau income turun drastis. Kemudian mulai minggu ketiga (Ramadan) hingga pasca lebaran, mulai ada keuntungan. Itu hasilnya bisa dibuat bayar THR pegawai,” kata dia.

Kondisi itu berbeda dengan saat ini. Meski sudah mendekati lebaran, tanda-tanda peningkatan jumlah pengunjung masih belum terjadi. Sebagai contoh, ia menyebut bila sebelum bulan Ramadan, Taman Rekreasi Selecta bisa dikunjungi 300 sampai 500 pengunjung per harinya. ”Ini hari libur Minggu (kemarin). bisa dilihat sendiri, sepi sekali kan. Ini juga dirasakan tempat wisata lainnya,” imbuh Sujud. Dipresentasikan olehnya, angka kunjungan ke tempat wisata saat ini hanya berkisar di angka 2 sampai 3 persen saja.

Sujud menyebut bila seharusnya pemerintah dapat memahami perbedaan bidang-bidang usaha. Sehingga dalam membuat kebijakan, bisa berlaku adil. ”Tempat wisata kan ga bisa dikonsepkan secara virtual. Beda dengan usaha barang, karena barangnya saja yang pindah tangan, bukan orangnya,” papar Sujud.

Di tempat lain, penurunan tingkat okupansi pasca diberlakukan larangan mudik juga telah diprediksi PHRI Kota Malang. Dari estimasi mereka, bakal ada penurunan 15 persen dari sebelum lebaran. Sebab pada bulan April lalu, mereka mencatat ada kenaikan okupansi sebesar 30 persen selama sebulan. ”Selama 4 bulan (sejak awal tahun), April itu terbagus (okupansinya). Tapi Mei ini kami prediksi turun lagi karena ada larangan mudik,” kata Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki.

Agoes menambahkan bila okupansi pada bulan April cenderung naik karena beberapa hotel memiliki hall yang menerima pesanan acara. Tak hanya itu, pada bulan April lalu wisatawan juga masih kerap datang ke Kota Malang. Beberapa hotel, diakui Agoes juga mengalami kenaikan okupansi hingga 60 persen lantaran dua faktor tersebut. Sama seperti PHRI Kota Batu, ia juga khawatir bila penurunan okupansi itu bisa berimbas pada kebutuhan operasional hotel. (rmc/nug/fik/adn/by)

MALANG – Kekhawatiran para pelaku bisnis pariwisata dan perhotelan di Malang raya mulai menjadi kenyataan. Meski tak ada larangan berwisata, namun mereka mulai bisa merasakan imbas dari kebijakan larangan mudik.

Jumlah kunjungan wisata menurun drastis. Begitu pula dengan tingkat okupansi di hotel-hotel. Akibatnya, kebutuhan operasional mereka sulit terpenuhi. Pemenuhan tunjangan hari raya (THR) bagi para pekerja di sektor wisata pun membuat pengusaha kelimpungan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengakui bila para pelaku bisnis wisata dan hotel kini dilingkupi rasa pesimistis. Sebagai gambaran, sebelum pandemi Covid-19 terjadi, pada minggu pertama dan kedua di bulan Ramadan, kunjungan di tempat wisata dan hotel bakal menurun drastis. Kemudian di pekan ketiga bulan Ramadan, biasanya mulai ada peningkatan kunjungan dari warga luar Kota Batu. ”Memang awal ramadan biasanya rugi dulu atau income turun drastis. Kemudian mulai minggu ketiga (Ramadan) hingga pasca lebaran, mulai ada keuntungan. Itu hasilnya bisa dibuat bayar THR pegawai,” kata dia.

Kondisi itu berbeda dengan saat ini. Meski sudah mendekati lebaran, tanda-tanda peningkatan jumlah pengunjung masih belum terjadi. Sebagai contoh, ia menyebut bila sebelum bulan Ramadan, Taman Rekreasi Selecta bisa dikunjungi 300 sampai 500 pengunjung per harinya. ”Ini hari libur Minggu (kemarin). bisa dilihat sendiri, sepi sekali kan. Ini juga dirasakan tempat wisata lainnya,” imbuh Sujud. Dipresentasikan olehnya, angka kunjungan ke tempat wisata saat ini hanya berkisar di angka 2 sampai 3 persen saja.

Sujud menyebut bila seharusnya pemerintah dapat memahami perbedaan bidang-bidang usaha. Sehingga dalam membuat kebijakan, bisa berlaku adil. ”Tempat wisata kan ga bisa dikonsepkan secara virtual. Beda dengan usaha barang, karena barangnya saja yang pindah tangan, bukan orangnya,” papar Sujud.

Di tempat lain, penurunan tingkat okupansi pasca diberlakukan larangan mudik juga telah diprediksi PHRI Kota Malang. Dari estimasi mereka, bakal ada penurunan 15 persen dari sebelum lebaran. Sebab pada bulan April lalu, mereka mencatat ada kenaikan okupansi sebesar 30 persen selama sebulan. ”Selama 4 bulan (sejak awal tahun), April itu terbagus (okupansinya). Tapi Mei ini kami prediksi turun lagi karena ada larangan mudik,” kata Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki.

Agoes menambahkan bila okupansi pada bulan April cenderung naik karena beberapa hotel memiliki hall yang menerima pesanan acara. Tak hanya itu, pada bulan April lalu wisatawan juga masih kerap datang ke Kota Malang. Beberapa hotel, diakui Agoes juga mengalami kenaikan okupansi hingga 60 persen lantaran dua faktor tersebut. Sama seperti PHRI Kota Batu, ia juga khawatir bila penurunan okupansi itu bisa berimbas pada kebutuhan operasional hotel. (rmc/nug/fik/adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/