alexametrics
18.6 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Sumringah, Pengelola Pantai Nganteb Sambut Wisatawan Lagi

GEDANGAN – Izin uji coba pembukaan destinasi wisata di wilayah dengan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2 dan 3 telah diteken. Namun kepastian kapan tempat wisata akan dibuka masih menjadi tanda tanya bagi sebagian pengelola. Seperti yang dirasakan oleh pengelola wisata Pantai Nganteb di Dusun Sukorejo, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan.

Koordinator Keselamatan Laut Pantai Nganteb Suliadi mengatakan, wisatawan yang berkunjung mengalami penurunan drastis sejak pemberlakuan PPKM pada Juni lalu. Pantauan Jawa Pos Radar Malang, mayoritas kedai milik warga yang berada disekitar terlihat tertutup. Hanya beberapa yang buka, itu pun kebanyakan diisi oleh nelayan yang baru saja bersandar dari melaut.

“Ya mau bagaimana lagi, dari sana (pemerintah) perintahnya ditutup, ya kami harus patuh,” kata Suliadi. Pria 50 tahun itu menyebut, imbas dari penutupan destinasi pantai tersebut membuat omzet penjualan warga sekitar turun drastis. “Sekarang turunnya lebih dari 70 persen, kalaupun ada ya yang beli orang-orang sini saja. Kalau dulu kan ada wisatawan,” imbuh dia.

Meski masih ditutup, terkadang masih ada wisatatawan bandel yang ngeyel untuk masuk ke area pantai. (Suharto/Radar Malang)

Meski demikian, warga asli Desa Tumpakrejo itu tidak menampik bahwa masih ada wisatawan bandel yang ngeyel untuk tetap masuk area wisata. “Di depan jelas kami sudah kasih papan peringatan kalau masih ditutup, tapi kadang mereka datang waktu malam hari dan nyelonong begitu saja sehingga tidak terpantau,” jelas Suliadi.

Terkadang, ada juga wisatawan yang datang bersama rombongan dari luar kota. “Mereka beralasan sudah datang jauh-jauh dari luar kota, mau menolak juga kami tidak enak sendiri,” sesalnya. Selama wisata ditutup, Suliadi menuturkan bahwa banyak di antara pedagang yang kembali pada profesi utama mereka yakni sebagai petani dan nelayan.

“Jadi meskipun penjualan turun, kalau untuk ekonomi cukup stabil. Lek tani kan mangan nggak usah tuku (kalau bertani kan untuk makan tidak usah beli, bisa ambil dari ladang),” beber dia. Namun menanggapi rencana pemerintah untuk kembali membuka destinasi wisata, raut wajah Suliadi berubah sumringah.

“Ya bersyukur, kami bisa jualan lagi. Tamu juga tidak usah kucing-kucingan lagi kalau mau berlibur ke sini,” tambahnya. Namun dia mengaku belum mengetahui secara pasti tentang sistem yang akan diterapkan kepada pengunjung baik dari aspek pembatasan kapasitas maupun kewajiban untuk menggunakan aplikasi PeduliLindungi. “Saya belum tahu kalau memang harus begitu,” akunya.

GEDANGAN – Izin uji coba pembukaan destinasi wisata di wilayah dengan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2 dan 3 telah diteken. Namun kepastian kapan tempat wisata akan dibuka masih menjadi tanda tanya bagi sebagian pengelola. Seperti yang dirasakan oleh pengelola wisata Pantai Nganteb di Dusun Sukorejo, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan.

Koordinator Keselamatan Laut Pantai Nganteb Suliadi mengatakan, wisatawan yang berkunjung mengalami penurunan drastis sejak pemberlakuan PPKM pada Juni lalu. Pantauan Jawa Pos Radar Malang, mayoritas kedai milik warga yang berada disekitar terlihat tertutup. Hanya beberapa yang buka, itu pun kebanyakan diisi oleh nelayan yang baru saja bersandar dari melaut.

“Ya mau bagaimana lagi, dari sana (pemerintah) perintahnya ditutup, ya kami harus patuh,” kata Suliadi. Pria 50 tahun itu menyebut, imbas dari penutupan destinasi pantai tersebut membuat omzet penjualan warga sekitar turun drastis. “Sekarang turunnya lebih dari 70 persen, kalaupun ada ya yang beli orang-orang sini saja. Kalau dulu kan ada wisatawan,” imbuh dia.

Meski masih ditutup, terkadang masih ada wisatatawan bandel yang ngeyel untuk masuk ke area pantai. (Suharto/Radar Malang)

Meski demikian, warga asli Desa Tumpakrejo itu tidak menampik bahwa masih ada wisatawan bandel yang ngeyel untuk tetap masuk area wisata. “Di depan jelas kami sudah kasih papan peringatan kalau masih ditutup, tapi kadang mereka datang waktu malam hari dan nyelonong begitu saja sehingga tidak terpantau,” jelas Suliadi.

Terkadang, ada juga wisatawan yang datang bersama rombongan dari luar kota. “Mereka beralasan sudah datang jauh-jauh dari luar kota, mau menolak juga kami tidak enak sendiri,” sesalnya. Selama wisata ditutup, Suliadi menuturkan bahwa banyak di antara pedagang yang kembali pada profesi utama mereka yakni sebagai petani dan nelayan.

“Jadi meskipun penjualan turun, kalau untuk ekonomi cukup stabil. Lek tani kan mangan nggak usah tuku (kalau bertani kan untuk makan tidak usah beli, bisa ambil dari ladang),” beber dia. Namun menanggapi rencana pemerintah untuk kembali membuka destinasi wisata, raut wajah Suliadi berubah sumringah.

“Ya bersyukur, kami bisa jualan lagi. Tamu juga tidak usah kucing-kucingan lagi kalau mau berlibur ke sini,” tambahnya. Namun dia mengaku belum mengetahui secara pasti tentang sistem yang akan diterapkan kepada pengunjung baik dari aspek pembatasan kapasitas maupun kewajiban untuk menggunakan aplikasi PeduliLindungi. “Saya belum tahu kalau memang harus begitu,” akunya.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/