alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

UM Branding Sumberejo, Malang Jadi Pusat Wisata Batik Sujo

MALANG – Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang punya prospek wisata potensial. Keberadaan kerajinan batik yang ditekuni sejumlah warganya bisa dibranding menjadi destinasi wisata menarik.

Hal ini disampaikan langsung Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Markus Diantoro. ”Kalau dilihat ini sudah bertahun-tahun (kerajinan batik), saya yakin prospeknya bagus,” kata Prof Markus saat melakukan monitoring dan evaluasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) hari ini (17/4). Ia menjelaskan, Sumberejo menjadi salah satu desa binaan Universitas Negeri Malang. Karena itu, pihaknya memproyeksikannya menjadi Desa Wisata Batik Sujo (Sumberejo).

Menurutnya, dengan melihat variasi batik dan jumlah produksi yang dibuat pengrajin batik sudah banyak. Dan yang terpenting adalah personalnya. “Biasanya kampung binaan kita ada 3 atau 5 orang yang tekun dan semangat itu nanti akan berhasil. Kuncinya itu,” ujarnya.

Pihaknya mengatakan sedang mencarikan pendanaan untuk melakukan pelatihan, pendampingan dan pengadaan peralatan, dalam hal ini adalah peralatan membatik. Seperti kompor, panci, canting, cetakan dan peralatan pendukung lainnya. Pendanaan tersebut selain dari KKN dan pengabdian masyarakat juga dari Astra Internasional, sebagai salah satu program corporate social responsibility (CSR).

Meskipun sejumlah peralatan masih terkesan tradisional, ibu-ibu yang tergabung ke dalam kelompok Batik Sumberejo itu cukup telaten. Mulai dari melakukan cap di atas lembar kain, mewarnai, sampai menjemur kain hingga menjadi produk jadi.

“Ini kan sebenarnya sudah ada dulu, mereka ada pelatihan-pelatihan batik. Tapi ini variasi motifnya kita yang kembangkan kita bantu dari timnya UM, seperti cetakan itu dari laboratorium Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Prodi Tata Busana,” lanjutnya.

Selanjutnya, yang masih perlu dikembangkan menuju desa wisata batik adalah manajemennya. Sampai saat ini, manajemen yang dilakukan ibu-ibu masih manual. Karena itu, pihaknya akan menunjuk salah satu ibu-ibu yang tekun untuk diberikan pelatihan khusus tentang manajemen ini.

Selain Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Universitas Negeri Malang juga memiliki 27 desa binaan. Selain itu juga ada 4 kelurahan binaan di Kota Malang. Yang masing-masing daerah binaan akan diunggulkan potensi lokalnya, untuk menggenjot ekonomi masyarakat setempat.

Pewarta: Intan Refa Septiana

MALANG – Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang punya prospek wisata potensial. Keberadaan kerajinan batik yang ditekuni sejumlah warganya bisa dibranding menjadi destinasi wisata menarik.

Hal ini disampaikan langsung Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Markus Diantoro. ”Kalau dilihat ini sudah bertahun-tahun (kerajinan batik), saya yakin prospeknya bagus,” kata Prof Markus saat melakukan monitoring dan evaluasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) hari ini (17/4). Ia menjelaskan, Sumberejo menjadi salah satu desa binaan Universitas Negeri Malang. Karena itu, pihaknya memproyeksikannya menjadi Desa Wisata Batik Sujo (Sumberejo).

Menurutnya, dengan melihat variasi batik dan jumlah produksi yang dibuat pengrajin batik sudah banyak. Dan yang terpenting adalah personalnya. “Biasanya kampung binaan kita ada 3 atau 5 orang yang tekun dan semangat itu nanti akan berhasil. Kuncinya itu,” ujarnya.

Pihaknya mengatakan sedang mencarikan pendanaan untuk melakukan pelatihan, pendampingan dan pengadaan peralatan, dalam hal ini adalah peralatan membatik. Seperti kompor, panci, canting, cetakan dan peralatan pendukung lainnya. Pendanaan tersebut selain dari KKN dan pengabdian masyarakat juga dari Astra Internasional, sebagai salah satu program corporate social responsibility (CSR).

Meskipun sejumlah peralatan masih terkesan tradisional, ibu-ibu yang tergabung ke dalam kelompok Batik Sumberejo itu cukup telaten. Mulai dari melakukan cap di atas lembar kain, mewarnai, sampai menjemur kain hingga menjadi produk jadi.

“Ini kan sebenarnya sudah ada dulu, mereka ada pelatihan-pelatihan batik. Tapi ini variasi motifnya kita yang kembangkan kita bantu dari timnya UM, seperti cetakan itu dari laboratorium Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Prodi Tata Busana,” lanjutnya.

Selanjutnya, yang masih perlu dikembangkan menuju desa wisata batik adalah manajemennya. Sampai saat ini, manajemen yang dilakukan ibu-ibu masih manual. Karena itu, pihaknya akan menunjuk salah satu ibu-ibu yang tekun untuk diberikan pelatihan khusus tentang manajemen ini.

Selain Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Universitas Negeri Malang juga memiliki 27 desa binaan. Selain itu juga ada 4 kelurahan binaan di Kota Malang. Yang masing-masing daerah binaan akan diunggulkan potensi lokalnya, untuk menggenjot ekonomi masyarakat setempat.

Pewarta: Intan Refa Septiana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru