alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

Pasar Payung, Destinasi Wisata Baru di Kota Malang

MALANG KOTA – Bagi Anda yang mencari hiasan rumah atau souvenir khas Kota Malang, Anda bisa datang ke Kampung Wisata Payung di Jalan Laksda Adi Sucipto Gang Taruna III, Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Sebab, tiap hari Sabtu diadakan Pasar Payung Kutho Malang (PPKM). Selain bisa membeli aneka kerajinan payung kertas berbagai ukuran, Anda bisa belajar cara membuatnya bersama Sang Maestro Payung Kertas Tradisional, Mbah Rasimun.

PPKM ini sendiri baru diresmikan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata ( Disporapar) hari ini, Sabtu (20/2). Pasar yang digagas oleh Komunitas Seniman Karya Bumi Ngalam (Kabunga) ini pada peresmiannya dihadiri langsung oleh Kepala Disporapar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni. Peresmian tersebut dilakukan di depan rumah Mbah Rasimun.

“Hari ini kita diundang Kabunga untuk mewarnai kegiatan penempatan pasar payung di rumahnya Mbah Mun. Sebetulnya 7 tahun yang lalu kita sudah menggagas hal ini. Maka pada hari ini gagasan ini dibangkitkan kembali untuk mengapresiasi Mbah Mun yang merupakan satu-satunya maestro payung yang ada di Indonesia,” terangnya.

Selain meresmikan PPKM, Disporapar juga mensupport kegiatan workshop pembuatan payung kertas yang sudah dilakukan oleh Kabunga. “Ini menjadi sebuah embrio untuk pengembangan produksi ketika ada pesanan untuk payung ini. Kita sendiri bisa membantu mendukung pengembangan produk ini, caranya kita menyosialisasikan dan memasarkan sebetulnya sangat gampang, tinggal bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud),” ujarnya.

Dengan bekerjasama dengan Disdikbud, Ida berencana untuk memberikan workshop kepada siswa-siswi di sekolah. “Selain anak-anak Sekolah diberikan workshop, kita bisa adakan pelatihan tari payung juga, sehingga ini bisa berkembang,” jelas wanita berambut pendek itu.

Ida berpendapat bahwa apabila tidak dilakukan sosialisasi dan edukasi pada anak-anak sekolah, maka seni pembuatan payung kertas tradisional hanya akan menjadi cerita saja. “Nah kalau tidak seperti itu linknya, saya rasa akan stagnan saja. Hanya menunggu pesanan pesanan yang tidak secara Intens atau reguler yang dilakukan oleh masyarakat. Tetapi kalau sudah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Saya yakin bisa lebih bagus,” pungkasnya.

Pewarta : Errica Vannie

MALANG KOTA – Bagi Anda yang mencari hiasan rumah atau souvenir khas Kota Malang, Anda bisa datang ke Kampung Wisata Payung di Jalan Laksda Adi Sucipto Gang Taruna III, Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Sebab, tiap hari Sabtu diadakan Pasar Payung Kutho Malang (PPKM). Selain bisa membeli aneka kerajinan payung kertas berbagai ukuran, Anda bisa belajar cara membuatnya bersama Sang Maestro Payung Kertas Tradisional, Mbah Rasimun.

PPKM ini sendiri baru diresmikan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata ( Disporapar) hari ini, Sabtu (20/2). Pasar yang digagas oleh Komunitas Seniman Karya Bumi Ngalam (Kabunga) ini pada peresmiannya dihadiri langsung oleh Kepala Disporapar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni. Peresmian tersebut dilakukan di depan rumah Mbah Rasimun.

“Hari ini kita diundang Kabunga untuk mewarnai kegiatan penempatan pasar payung di rumahnya Mbah Mun. Sebetulnya 7 tahun yang lalu kita sudah menggagas hal ini. Maka pada hari ini gagasan ini dibangkitkan kembali untuk mengapresiasi Mbah Mun yang merupakan satu-satunya maestro payung yang ada di Indonesia,” terangnya.

Selain meresmikan PPKM, Disporapar juga mensupport kegiatan workshop pembuatan payung kertas yang sudah dilakukan oleh Kabunga. “Ini menjadi sebuah embrio untuk pengembangan produksi ketika ada pesanan untuk payung ini. Kita sendiri bisa membantu mendukung pengembangan produk ini, caranya kita menyosialisasikan dan memasarkan sebetulnya sangat gampang, tinggal bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud),” ujarnya.

Dengan bekerjasama dengan Disdikbud, Ida berencana untuk memberikan workshop kepada siswa-siswi di sekolah. “Selain anak-anak Sekolah diberikan workshop, kita bisa adakan pelatihan tari payung juga, sehingga ini bisa berkembang,” jelas wanita berambut pendek itu.

Ida berpendapat bahwa apabila tidak dilakukan sosialisasi dan edukasi pada anak-anak sekolah, maka seni pembuatan payung kertas tradisional hanya akan menjadi cerita saja. “Nah kalau tidak seperti itu linknya, saya rasa akan stagnan saja. Hanya menunggu pesanan pesanan yang tidak secara Intens atau reguler yang dilakukan oleh masyarakat. Tetapi kalau sudah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Saya yakin bisa lebih bagus,” pungkasnya.

Pewarta : Errica Vannie

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru